Angka penderita diabetes yang terus melonjak mendorong para peneliti berburu alternatif pengobatan yang lebih aman dari bahan alami. Menjawab tantangan itu, peneliti asal Makassar, Aryanti R. Bamahry, mengeksplorasi potensi besar alga hijau sebagai kandidat terapi pendamping untuk mengendalikan kadar gula darah.
Riset bertajuk "Fatty Acid-Heterocyclic Hybrids from Green Algae as Novel Therapeutic Prospects for Diabetes Management" ini digarap Aryanti bersama tim peneliti lintas institusi, termasuk Fahrul Nurkolis dan sejumlah ilmuwan lainnya. Hasil kajian mereka bahkan telah sukses menembus jurnal internasional bereputasi.
Aryanti, yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI), menjelaskan bahwa riset ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan penanganan diabetes yang sifatnya jangka panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diabetes merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Karena itu, para peneliti terus berupaya menemukan bahan-bahan alami yang memiliki potensi membantu pengobatan dengan risiko efek samping yang lebih rendah," ujar Aryanti saat dihubungi, Selasa (30/6/2026).
Berdasarkan temuan tim, senyawa aktif dalam alga hijau memiliki mekanisme multi-target yang sangat menguntungkan bagi tubuh penderita diabetes. Senyawa ini mampu memperlambat penyerapan gula dari makanan, mengoptimalkan kerja hormon insulin, sekaligus memproteksi sel-sel pankreas yang memproduksi insulin dari kerusakan akibat peradangan.
Kendati menawarkan potensi besar bagi dunia kesehatan, Aryanti mengingatkan bahwa jalan inovasi ini masih panjang.
"Temuan ini memberikan harapan baru dalam pengembangan terapi diabetes berbasis bahan alami. Namun, penelitian ini masih berada pada tahap kajian ilmiah sehingga diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji keamanan dan uji klinis pada manusia sebelum dapat diterapkan sebagai terapi," terangnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar bijak dan tidak terburu-buru menganggap alga hijau yang ada di alam bisa langsung dikonsumsi sebagai obat diabetes instan. Riset ini masih memerlukan serangkaian pembuktian klinis yang panjang untuk memastikan takaran manfaat dan keamanannya secara medis pada tubuh manusia.
(hmw/hmw)
