Suasana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Talang Kerikil Palembang sudah mulai dipadati warga keturunan Tionghoa. Mereka berdatangan untuk melaksanakan tradisi Cheng Beng atau Qingming, ritual ziarah tahunan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berpulang
Suasana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Talang Kerikil di Jalan R. Sudarman Gandasaputra, Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang, tampak mulai ramai dikunjungi warga pada Rabu (1/4/2025).
Pantauan detikSumbagsel di lokasi, sejumlah keluarga keturunan Tionghoa sudah mulai berdatangan untuk melaksanakan tradisi Cheng Beng, yakni ritual ziarah tahunan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bagian depan makam, tampak beragam persembahan yang telah disiapkan, mulai dari buah-buahan seperti jeruk dan apel, hingga kue-kue tradisional seperti kue mangkok dan kue ku.
Tancapan hio atau dupa yang menyala turut menghiasi area persembahan. Sejumlah peziarah juga terlihat menumpuk kertas berwarna kuning keemasan atau kim zua di atas makam leluhur mereka.
Sutjiwo (70), salah seorang peziarah, menjelaskan bahwa puncak Cheng Beng jatuh pada 5 April, namun kunjungan biasanya sudah ramai sejak seminggu sebelumnya.
"Ini puncaknya di tanggal 5 April, tapi seminggu sebelum sudah ramai keluarga yang ziarah. Anak saya tinggal di Jakarta akan pulang tanggal 3 April ini untuk ziarah di Palembang," ujarnya, Rabu.
Ia memperkirakan keramaian akan memuncak pada 3-5 April mendatang, seiring hari libur dan berkaca dari tahun lalu yang sempat terjadi kemacetan hingga dibantu aparat.
"Tanggal 3 sampai 5 nanti pasti lebih ramai lagi, karena hari libur juga. Tahun lalu itu sampai macet dan ada aparat keamanan yang bantu lalu lintas," katanya.
Sementara itu, warga setempat bernama Seno (52), mengungkapkan bahwa pembersihan area pemakaman sudah berlangsung sejak seminggu lalu.
"Kalau yang saya lihat tiap hari itu ada 3-4 orang dari panitia yang datang untuk bersihkan, jadi mereka berpencar," ujarnya.
Seno menambahkan, banyak keluarga juga memanfaatkan momen ini untuk mempercantik makam leluhur mereka.
"Banyak keluarga yang telah mempercantik makam leluhur mereka, seperti merenovasi dan cat ulang agar warna nya lebih terang dan cantik," ujarnya.
Di sisi lain, salah satu warga muslim Tionghoa, Riski, menyebut Cheng Beng menjadi momentum penting mengenang jasa keluarga. Rangkaian ziarah di Palembang berlangsung mulai 28 Maret hingga puncaknya pada 5 April 2026 mendatang.
"Intinya mengenang orang yang sudah mendahului. Saya kemarin bawa persembahan buah-buahan, kue, dan nasi vegan," kata Riski.
Riski menegaskan dirinya tetap menjaga akidah Islam selama berada di area pemakaman. Ia fokus pada aktivitas pembersihan makam dan mendoakan leluhur sesuai keyakinannya saat ini.
Ia tidak mengikuti ritual persembahyangan khusus, namun tetap hadir sebagai bagian dari keluarga besar. Baginya, perbedaan agama tidak melunturkan kewajiban seorang anak untuk menghormati orang tua.
Dia menyebut, dalam tradisi Cheng Beng di Palembang, pembakaran replika barang dari kertas menjadi simbol bekal bagi leluhur. Barang yang dibakar bervariasi, mulai dari bentuk rumah-rumahan hingga emas-perakan.
"Ada dua jenis kertas dalam tradisi ini, ada yang emas perak untuk di kuburan dan ada yang untuk dibakar. Ada juga replika barang seperti rumah dan mobil untuk melengkapi tradisi ini," jelasnya.
"Untuk prosesi pembakaran replika tersebut biasanya dilakukan di lokasi khusus yang sudah disediakan di depan makam. Keluarga biasanya membeli replika tersebut di pasar-pasar tradisional di Palembang sebelum menuju pemakaman," tambahnya.
Riski menambahkan, tradisi ini rutin dilakukan keluarga besarnya setiap tahun tanpa terkecuali. Anggota keluarga yang berbeda keyakinan tetap kompak bergotong-royong membersihkan rumput dan mengecat ulang nisan makam.
Kondisi ini menjadi potret akulturasi budaya yang kuat di Bumi Sriwijaya. Perbedaan keyakinan di tengah keluarga Tionghoa Palembang tidak menghalangi kelestarian tradisi penghormatan terhadap sejarah keluarga.
Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana dan Nadiya, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(dai/dai)