Tradisi Mengambil Pengantin atau dikenal Kekampi oleh masyarakat sekitar merupakan salah satu warisan budaya unik di Muara Enim. Tradisi ini sarat akan nilai adat, kebersamaan, serta simbol penghormatan terhadap ikatan pernikahan.
Saat ini, tradisi tersebut masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari prosesi pernikahan adat. Berikut detikSumbagsel akan merangkum dan mengenalkan sejarah tradisi Mengambil Pengantin, simak sampai akhir ya!
Mengenal Kekampi Tradisi Mengambil Pengantin
Menangkap Pengantin adalah prosesi adat di mana pihak keluarga mempelai perempuan secara simbolis "menangkap" mempelai laki-laki saat datang untuk menikah. Hal ini dijelaskan dalam jurnal berjudul Pandangan Islam Terhadap Makna Simbolik Tradisi Kekampi dalam Adat Pernikahan di Desa Sukamerindu Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim yang ditulis oleh Dendi Istiawan, Anisatul Mardiah, dan Nugroho.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi Kekampi bukan bermakna negatif, melainkan simbol penerimaan sekaligus "ujian" bagi calon pengantin pria sebelum resmi menjadi bagian dari keluarga perempuan. Peran seorang laki-laki akan berkewajiban untuk menjaga harta pusaka dari generasi ke generasi.
Selain itu, ia juga harus mengurus mertuanya sampai meninggal dunia, jika istrinya memiliki adik maka dirinya harus mengurus adik kandung istrinya sampai menikah dan hidup mandiri.
Di sisi lain, pihak perempuan memiliki kuasa penuh untuk membayar biaya pernikahan atau mahar kepada pihak laki-laki. Biasanya, prosesi ini dilakukan dengan suasana penuh canda, tawa, dan interaksi hangat antar keluarga.
Sejarah Tradisi Kekampi
Tradisi ini telah ada sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal di wilayah Muara Enim, khususnya di desa Sukamerindu,
Bermula dari kisah seseorang dari keluarga kaya dan terpandang di masa lalu yang hanya memiliki anak perempuan satu-satunya yang sangat disayangi, saat putrinya beranjak dewasa dan sudah waktunya menikah, kedua orang tuanya sangat takut kehilangan putrinya.
Kemudian, lahirlah tradisi Kekampi atau Mengambil Pengantin dalam adat pernikahan, yang artinya pihak perempuan membeli pihak laki-laki. Akibat pihak perempuan yang menanggung semua biaya pernikahan kecuali mahar yang dijadikan sebagai syarat ijab kabul saja.
Secara historis, Menangkap Pengantin berakar dari nilai-nilai:
- Penghormatan kepada keluarga perempuan
- Simbol kesiapan laki-laki dalam berumah tangga
- Ujian sosial dan tanggung jawab calon suami
Pada masa dahulu, tradisi ini juga menjadi cara untuk memastikan bahwa calon pengantin pria benar-benar serius dan bertanggung jawab dalam menikahi putri dari keluarga tersebut.
Seiring perkembangan zaman, makna tradisi ini bergeser menjadi lebih simbolis dan bersifat hiburan, namun tetap mempertahankan nilai adatnya.
Rangkaian Acara Tradisi Mengambil Pengantin
Prosesi ini biasanya menjadi bagian dari rangkaian acara pernikahan adat, dengan tahapan sebagai berikut:
1. Kedatangan Rombongan Pengantin Pria
Mempelai pria datang bersama keluarga dan kerabat menuju rumah mempelai wanita.
2. Prosesi "Penangkapan"
Pihak keluarga perempuan akan menghadang atau "menangkap" pengantin pria secara simbolis. Terkadang disertai dialog adat atau syarat tertentu yang harus dipenuhi.
3. Negosiasi atau Syarat Adat
Pengantin pria atau perwakilannya harus memenuhi syarat, seperti memberikan pantun, uang adat, atau simbol tertentu sebagai bentuk penghormatan.
4. Penyambutan Resmi
Setelah proses selesai, pengantin pria dipersilakan masuk dan diterima secara resmi oleh keluarga perempuan.
5. Lanjut ke Akad dan Resepsi
Prosesi dilanjutkan dengan akad nikah dan rangkaian acara pernikahan lainnya.
Tradisi Mengambil Pengantin Bagi Masyarakat
Tradisi ini memiliki berbagai dampak sosial yang positif, bagi masyarakat Muara Enim di antaranya:
1. Mempererat hubungan keluarga
Interaksi dalam prosesi ini menciptakan keakraban antara kedua keluarga.
2. Melestarikan budaya lokal
Menjadi identitas budaya khas masyarakat Muara Enim yang perlu dijaga.
3. Menumbuhkan nilai kebersamaan
Tradisi ini melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga hingga masyarakat sekitar.
4. Edukasi nilai adat
Generasi muda dapat belajar tentang pentingnya adat, sopan santun, dan tanggung jawab dalam pernikahan.
Namun, jika tidak dipahami dengan baik, tradisi ini juga berpotensi disalahartikan sebagai tindakan yang "mempermalukan", padahal esensinya adalah simbolik dan penuh makna.
Tradisi Mengambil Pengantin di Muara Enim merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang sarat nilai sosial dan filosofi kehidupan. Meski terlihat unik, tradisi ini mengandung makna mendalam tentang tanggung jawab, penghormatan, dan kebersamaan dalam membangun rumah tangga.
Demikian rangkuman dari detikSumbagsel mengenai tradisi Mengambil Pengantin atau Kekampi, melestarikan tradisi ini berarti menjaga identitas budaya sekaligus menghargai warisan leluhur yang penuh makna, semoga dapat menambah wawasan detikers ya!
Simak Video "Video Terjaring OTT, Bupati Muara Enim Masih Diperiksa di Polda Sumsel"
[Gambas:Video 20detik]
(mep/mep)
