Tradisi Kupek Tuhun Mandi, Budaya Leluhur Ogan-Muara Enim yang Penuh Makna

Tradisi Kupek Tuhun Mandi, Budaya Leluhur Ogan-Muara Enim yang Penuh Makna

Muhammad Alyuda Tri Utama - detikSumbagsel
Selasa, 10 Feb 2026 06:30 WIB
Tradisi Kupek Tuhun Mandi
Tradisi Kupek Tuhun Mandi (Foto: Dok. Giwang Sumsel)
Palembang -

Kupek mandi ke ayek atau dikenal sebagai tradisi kupek tuhun mandi merupakan ritual yang dilakukan masyarakat suku Ogan dan Muara Enim di Sumatera Selatan. Prosesnya berupa memandikan bayi yang baru lahir.

Dilansir laman Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum, tradisi kupek tuhun mandi resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK). Tradisi ini masuk sebagai kearifan lokal masyarakat yang mendapatkan pengakuan dan perlindungan hukum dari negara.

Lalu, bagaimana makna dan hal penting dari tradisi kupek tuhun mandi sebagai simbol kearifan budaya lokal? Berikut penjelasan lengkapnya di bawah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuan Tradisi Kupek Tahun Mandi

Tradisi kupek tuhun mandi memiliki tujuan utama sebagai bentuk pengenalan bayi terhadap tanah kelahiran, khususnya sungai yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

Dikutip Giwang Sumsel, tradisi ini dilaksanakan sebagai simbol ikatan awal antara seorang bayi dengan alam sekitarnya, terutama sungai yang sejak dahulu menjadi sumber kehidupan, jalur transportasi, serta pusat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

ADVERTISEMENT

Melalui prosesi ini, masyarakat berharap bayi yang menjalani kupek tuhun mandi kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sehat, dan memiliki hubungan harmonis dengan lingkungan tempat ia dilahirkan.

Tradisi tersebut juga menjadi wujud rasa syukur keluarga kepada Tuhan atas kelahiran sang anak serta doa agar kehidupan sang bayi selalu dilindungi dan dijauhkan dari hal-hal buruk.

Perlengkapan dan Makna Simbolik

Dalam pelaksanaan tradisi kupek tuhun mandi, terdapat sejumlah perlengkapan adat yang digunakan. Masing-masing memiliki makna simbolis yang mendalam.
Salah satu perlengkapan utama adalah putung api atau obor kecil. Putung api dimaknai sebagai simbol penerang sekaligus penolak bala, dipercaya mampu mengusir kesialan, nasib buruk, serta roh jahat yang dapat mengganggu kehidupan sang bayi.

Selain itu, jeruk nipis digunakan untuk dioleskan ke kepala bayi, menyerupai fungsi shampo. Penggunaan jeruk nipis ini memiliki makna sebagai simbol penyucian, dengan harapan bayi terbebas dari pengaruh negatif dan tumbuh dalam keadaan bersih, baik secara lahir maupun batin.

Perlengkapan lainnya berupa uang dan permen juga memiliki arti penting. Uang dan permen dilempar dan dibagikan sepanjang prosesi. Ini melambangkan kegembiraan, harapan rezeki, serta sukacita atas kehadiran sang bayi di tengah keluarga dan masyarakat.

Ritual ini mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Prosesi Pelaksanaan Tradisi Kupek Tuhun Mandi

Prosesi tradisi kupek tuhun mandi biasanya dimulai sejak dini hari atau pagi buta, sebelum matahari terbit. Waktu ini dipilih karena dipercaya sebagai saat yang baik dan sakral untuk memulai kehidupan baru sang bayi.

Bayi akan dimandikan langsung oleh tetua adat perempuan yang dianggap memiliki pengalaman, kebijaksanaan, serta pemahaman adat yang mendalam. Prosesi diawali dengan membawa bayi keluar dari rumah. T

Tetua adat akan menggendong bayi sambil membawa putung api di salah satu tangannya. Selama perjalanan menuju sungai, putung api tersebut dikibaskan ke berbagai arah, sehingga api dan asapnya seolah menyelimuti area sekitar.

Tindakan ini dimaknai sebagai upaya membersihkan jalan yang dilalui bayi dari segala bentuk energi negatif. Sementara itu, kedua orang tua bayi bertugas membawa perlengkapan lain seperti jeruk nipis, uang, dan makanan.
Setibanya di sungai yang dalam tradisi ini umumnya adalah Sungai Ogan, uang dan makanan akan dibagikan kepada masyarakat sekitar sebagai simbol berbagi kebahagiaan. Setelah prosesi mandi selesai, tradisi pun ditutup dengan doa agar sang bayi senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, dan masa depan yang baik.

Demikian rangkuman dari detikSumbagsel mengenai tradisi kupek tuhun mandi yang digelar di Ogan serta Muara Enim sebagai simbol kebudayaan lokal yang penuh makna.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Alyuda Tri Utama peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.




(mep/mep)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads