Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sejumlah daerah di Sumatera Selatan, akan merasakan dampak kekeringan tinggi pada puncak musim kemarau tahun ini. Masyarakat di wilayah tersebut diimbau berhemat air bersih, karena sejumlah sumber mata air berpotensi mengering.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sumsel Wandayantolis mengatakan dampak kekeringan tertinggi pada musim kemarau tahun ini akan terjadi di sejumlah daerah di Sumsel. Periode puncak kemarau diprediksi terjadi Agustus hingga September.
"Terutama di sejumlah wilayah di sisi timur dan tengah Sumsel. Daerah-daerah ini bakal merasakan dampak paling tinggi kekeringan pada musim kemarau tahun ini," ujar Wandayantolis, Sabtu (20/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebut, beberapa wilayah yang akan terdampak kekeringan pada sisi timur Sumsel mulai dari OKI, Palembang, Ogan Ilir, Banyuasin, hingga Musi Banyuasin (Muba).
"Sementara di sisi tengah akan terasa di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, hingga OKU," katanya.
Wandayantolis meminta masyarakat di wilayah-wilayah itu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kemarau. Tak hanya dengan menghemat sumber-sumber mata air yang ada, tapi juga berkaitan dengan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Perlu juga mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air bersih karena mengeringnya sumber2 mata air," ungkapnya.
"Kemudian juga meningkatkan kewaspadaan dampak kemarau yang dapat memicu karhutla bahkan juga di pemukiman," sambungnya.
Dia menyebut, puncak kemarau akan terjadi pada periode Agustus-September. Dia juga mewanti-wanti seluruh pihak, bahwa kemarau tahun ini bakal lebih kering dibandingkan 2023.
"Puncak kemarau akan terjadi pada Agustus-September. Prediksi sementara kondisinya tidak sekering 2015, tapi lebih kering dari 2023," jelasnya.
(dai/dai)
