Bocah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, berinisial RS (11), diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok pelajar SMP. Video penganiayaan itu tersebar dan viral di media sosial.
Diketahui kejadian tersebut terjadi di salah satu kawasan sekolah di Dusun I, Desa Sungai Lanang, Kecamatan Rawas Ulu, Muratara, Sumatera Selatan, pada Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Dalam video yang beredar tersebut, terlihat korban tampak mengalami tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh beberapa pelajar SMP. Terlihat salah satu pelaku memiting leher korban, sementara tiga pelaku lainnya memukul hingga menendang kepala dan badan korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi tersebut diketahui direkam oleh salah seorang yang berada di lokasi dan kemudian tersebar luas di media sosial.
Kakak korban bernama Fuspa membenarkan kejadian tersebut. Ia bersama pihak keluarga lainnya berharap pihak kepolisian segera menindaklanjuti kejadian tersebut. Kemudian ia berharap dinas terkait untuk memberikan perhatian serius terhadap kasus yang menimpa adiknya tersebut.
"Kami ini mau melapor tapi punya keterbatasan finansial. Kami hanya ingin para pelaku yang menganiaya adik kami diberi efek jera dan kami menginginkan keadilan untuk adik kami. Kami berharap para pelaku dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," katanya, Rabu (10/6/2026).
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Kapolsek Rawas Ulu Iptu Hari Suharto. Ia mengaku pihaknya sudah mengkonfirmasi pihak Kepala Desa (Kades) setempat untuk memastikan peristiwa penganiayaan tersebut.
"Korban ini satu dusun dan mereka teman main. Dari informasi yang kami dapat, kejadian itu di luar jam sekolah. Namun dari pihak korban memang belum ada yang melapor baik ke Polsek maupun ke Polres Muratara," ungkapnya.
Dari informasi yang ia dapat dari perangkat desa setempat, Hari mengatakan kedua pihak sudah dimediasi oleh Kades Sungai Lanang pada Selasa (9/6/2026).
"Meskipun informasinya sudah dimediasi kemarin, tetap akan kami datangi dan kami lakukan pembinaan dulu karena belum ada yang melapor sekaligus mengonfirmasi kejadian sebenarnya," tuturnya.
(dai/dai)