Provinsi Jambi memiliki suatu tradisi yang cukup sakral bagi masyarakat muslim di yang berada di sepanjang Sungai Tabir, Kabupaten Merangin. Tradisinya bernama Bantai Adat yang digelar setiap tahun pada minggu terakhir menjelang Ramadan.
Tradisi Bantai Adat biasanya akan diadakan di kawasan Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, yang berjarak sekitar 200-250 km dari kota Jambi dengan waktu tempuh sekitar 4-6 jam perjalanan. Khususnya di area tanah Adat, Dusun Baru.
Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol kebersamaan dan kearifan budaya di Indonesia, khususnya Jambi. Di balik kehadiran tradisi tersebut menyimpan makna dan filosofi tersendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut detikSumbagsel rangkum fakta menarik dari Tradisi Bantai Adat. Yuk, simak penjelasannya.
Sejarah Tradisi Bantai Adat di Jambi
Dilansir dari Jurnal Tradisi Bantai Adat: Kearifan Lokal Menyambut Bulan Ramadhan Masyarakat Merangin Jambi oleh Muhammad Dwi Kurniadi dan Husmayani Muny Putri, bantai adat berasal dari kisah Datuk Putih dan Datuk Mangkuto Rajo.
Mereka menemukan wilayah bernama Renah Sungai Kunyit yang sekarang terkenal dengan nama Kecamatan Pangkalan Jambu. Dulunya, di sana terdapat banyak biji emas.
Kedua datuk tersebut membuat gelanggang tempat menyabung ayam di wilayah tersebut. Pada akhirnya banyak orang mulai berdatangan atau menetap di wilayah tersebut.
Semakin banyak orang yang ingin menetap, Datuk Putih dan Datuk Mangkuto Rajo membuat undang-undang adat Negeri Pangkal Jambu supaya dapat mengatur masyarakat Ranah Sungai Kunyit.
Dalam peresmian undang-undang tersebut, mereka mengundang semua tokoh di Ranah Sungai pada hari akhir bulan Syaban di Pondok Pekan Puaso yang digadang sebagai hari baik. Pada jamuan besar saat itu, Datuk Putih dan Datuk Mangkuto Rajo memotong 48 ekor kerbau.
Kegiatan ini berlangsung hingga sekarang khususnya di daerah Merangin, Kecamatan Pangkalan Jambu, Sungai Manau, serta Rantau Panjang yang masih melaksanakan tradisi adat ini.
Pelaksanaan Tradisi Bantai Adat
Bantai Adat dilaksanakan masyarakat 3 hari sebelum menyambut bulan Ramadan. Mereka melakukan pemotongan kerbau secara massal dengan rasa syukur dan gembira.
Hewan yang disembelih pada Tradisi Bantai Adat merupakan hasil dari beberapa kepala keluarga membeli sapi maupun kerbau. Setelah disembelih dagingnya dibagikan kepada anggota keluarga yang membeli hewan tersebut.
Selain itu, ada juga sapi atau kerbau yang disembelih oleh pedagang, kemudian dagingnya akan dijual belikan dengan harga dibawah harga pasaran yang ada dan akan menekan sejumlah harga daging yang ada di pasaran selama bulan Ramadan.
Selanjutnya daging yang telah didapatkan akan dimasak atau diolah oleh keluarga untuk kebutuhan selama bulan Ramadan. Bisa juga digunakan untuk Tradisi Makan Besamo
Makan Besamo atau makan bersama-sama sebagai rasa syukur menyambut bulan Ramadan dan mempererat silaturahmi yang diikuti berbagai kegiatan keagamaan lainnya seperti berdoa yang menjadi simbol kebersamaan dan juga menjadikan cerminan budaya Indonesia.
Demikian rangkuman informasi dari detikSumbagsel mengenai Tradisi Bantai Adat yang ada di Provinsi Jambi, Semoga bermanfaat dan kita dapat mengenal dan menjaga tradisi ini.
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Alyuda Tri Utama peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(mep/mep)