Wakil Menteri Koordinator (Wamneko) Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq menyinggung terkait hubungan antara sampah dan pangan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ke-18 di Grand City Hall, Kota Medan.
Faisol mengatakan, dalam tema Rakernas APEKSI yakni Kota Tangguh, persoalan pangan tidak bisa dipisahkan dari permasalahan sampah.
"Saya menekankan bahwa kota tangguh tidak hanya bicara pangan, tetapi juga pengelolaan sampah perkotaan. Dua isu ini saling berkaitan erat. Kota yang pangannya kuat, tetapi sampahnya tidak terkelola, akan menghadapi masalah kesehatan, kualitas lingkungan, biaya pelayanan publik, dan penurunan kualitas hidup," ujar Faisol dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ke-18 di Grand City Hall di Medan, Rabu (1/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Faisol, pengelolaan sampah yang baik dapat mendukung ketahanan pangan. Hal ini, kata dia, dilakukan melalui pengolahan sampah organik menjadi kompos, pemanfaatan biogas, pengurangan food waste, dan pengembangan ekonomi sirkular.
Faisol menyebut, Kota Medan memiliki produksi sampah yang cukup besar. Yakni sebesar 1.740 ton per hari dari Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang sebesar 1.024 ton per hari.
"Dari jumlah tersebut, rencana sampah yang akan diolah melalui PSEL mencapai 1.700 ton per hari. Ini menunjukkan bahwa Kota Medan dan kawasan sekitarnya memiliki tantangan besar, tetapi juga peluang besar," jelasnya.
Menurut Faisol, pengelolaan sampah tidak boleh hanya dipandang sebagai upaya mengurangi beban TPA. Ia menyebut, pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari transformasi kota menuju kota bersih, sehat, produktif, dan tangguh.
"Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 telah memayungi kebijakan pengolahan sampah menghasilkan energi. yang Berbagai teknologi dapat digunakan sesuai karakter wilayah, mulai dari pengolahan organik dari sumber, TPS3R, TPST-RDF, pirolisis, hingga Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL. Pilihan teknologi harus disesuaikan dengan kapasitas pengolahan, karakter sampah, kemampuan fiskal, kesiapan kelembagaan, dan skala wilayah," katanya.
Dia mengatakan, untuk kota dengan timbunan sampah besar atau aglomerasi yang lebih dari 1.000 ton per hari, PSEL dapat menjadi salah satu pilihan. Sementara untuk wilayah yang lebih kecil, pengolahan organik dari sumber, bank sampah, TPS-3R, RDF, kompos, dan biogas juga tetap sangat penting.
"Intinya adalah integrasikan pangan dengan pengelolaan sampah. Kurangi food loss and waste, pilah sampah dari sumber, manfaatkan sampah organik, dan bangun ekonomi sirkular sesuai kapasitas daerah," tutup Faisol.
(afb/afb)
