OJK Catat Industri Keuangan Syariah Tunjukkan Tren Positif 5 Tahun Terakhir

Aceh

OJK Catat Industri Keuangan Syariah Tunjukkan Tren Positif 5 Tahun Terakhir

Agus Setyadi - detikSumut
Senin, 16 Mar 2026 23:58 WIB
Logo OJK.
Foto: Logo OJK. (dok. Istimewa)
Banda Aceh -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh mencatat kinerja Industri Jasa Keuangan di Tanah Rencong dalam lima tahun terakhir terus menunjukkan perkembangan yang positif. Tren itu disebut dapat menumbuhkan optimisme terhadap proses pemulihan Aceh pasca bencana.

"Kinerja perbankan syariah di Aceh terus menunjukkan tren yang positif. Bank Umum Syariah maupun BPRS mencatatkan pertumbuhan, baik dari sisi penghimpunan dana masyarakat maupun penyaluran pembiayaan kepada sektor produktif. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan syariah serta peran perbankan dalam mendukung perekonomian daerah," kata Kepala OJK Provinsi Aceh Daddi Peryoga dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Menurutnya dalam lima tahun terakhir hingga 31 Januari 2026, total aset perbankan di wilayah Aceh tercatat meningkat 19,15 persen menjadi Rp 62,23 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 13,35 persen menjadi Rp 44,57 triliun dan pembiayaan meningkat 52,15 persen menjadi Rp 47,41 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rasio Non Performing Financing (NPF), kata Daddi, masih terjaga di bawah 5 persen dengan rasio Finance To Deposit Ratio (FDR) yang telah mencapai 106,38 persen pada Januari 2026. Hal itu disebut mencerminkan seluruh dana masyarakat Aceh yang telah dihimpun perbankan telah tersalurkan seluruhnya.

Daddi menyebutkan, per Januari 2026 pembiayaan berdasarkan lokasi bank sebesar Rp 47,41 triliun masih lebih rendah dibandingkan pembiayaan berdasarkan lokasi proyek sebesar Rp 53,94 triliun. Rasio FDR yang sudah maksimal dan nominal pembiayaan yang disalurkan lebih tinggi dari DPK menunjukkan kebutuhan pembiayaan di Aceh masih lebih besar dibandingkan dengan dana yang dihimpun di daerah.

ADVERTISEMENT

"Kondisi ini menegaskan perlunya peningkatan arus investasi guna memperkuat ketersediaan sumber pendanaan di Aceh," jelas Daddi.

"Sejalan dengan itu, perlu adanya dukungan perbaikan ekosistem investasi di Provinsi Aceh untuk menarik minat investor. Sementara lembaga jasa keuangan perlu menghadirkan produk dan skema pembiayaan yang lebih inovatif dan adaptif agar mampu mengakomodasi kebutuhan pembiayaan masyarakat dan pelaku usaha secara lebih luas," lanjutnya.

Perkembangan positif kinerja perbankan disebut turut menumbuhkan optimisme terhadap proses pemulihan dan perbaikan kondisi perekonomian Aceh, khususnya pasca terjadinya bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir tahun 2025 lalu.

"Perkembangan kinerja sektor perbankan yang tetap terjaga dengan baik di tengah berbagai tantangan menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi masyarakat secara bertahap terus bergerak. Hal ini tentu menumbuhkan optimisme terhadap percepatan pemulihan ekonomi Aceh pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun 2025," ujar Daddi.




(agse/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads