Telaga Said, Sumur Minyak Pertama di Indonesia yang Lahirkan Cikal Bakal Pertamina

Telaga Said, Sumur Minyak Pertama di Indonesia yang Lahirkan Cikal Bakal Pertamina

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Sabtu, 16 Mei 2026 07:01 WIB
Ilustrasi Kilang Minyak Bumi
Ilustrasi kilang minyak (Foto: Zbynek Burival/Unsplash)
Langkat -

Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menyimpan salah satu tonggak penting dalam sejarah industri energi nasional. Di kawasan Telaga Said, dekat Pangkalan Brandan, ditemukan sumur minyak pertama di Indonesia yang diproduksi secara komersial. Penemuan ini bukan hanya mengubah wajah Langkat, tetapi juga menjadi cikal bakal lahirnya perusahaan minyak nasional yang kini dikenal sebagai PT Pertamina (Persero).

Dalam bukunya Kisah dari Deli: Masalah Sosial dan Pembangunan di Kota Medan (Jilid II), Erond L. Damanik menjelaskan bahwa eksplorasi minyak di Telaga Said dimulai sejak 18 Agustus 1883, ketika pengusaha Belanda Aeliko Janszoon Zijklert memperoleh izin konsesi selama 75 tahun dari Sultan Musa dari Kesultanan Langkat.

Menurut Erond, penemuan minyak ini bermula secara tidak sengaja. Saat melakukan inspeksi perkebunan tembakau di Telaga Said, Aeliko Janszoon diperlihatkan cairan hitam pekat oleh seorang pembantunya dari suku Karo. Temuan tersebut mendorongnya untuk melakukan pengeboran, yang akhirnya menghasilkan minyak dalam jumlah besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada tanggal 15 Juni 1885, pengeboran mencapai kedalaman 121 meter. Dari kedalaman itu menyembur gas bercampur minyak dan air yang sangat deras, menyerupai air mancur setinggi 20 hingga 50 meter," tulis Erond L. Damanik dalam bukunya.

Sumur yang dikenal sebagai Telaga Tunggal No. 1 itu mampu memproduksi sekitar 180 barel minyak per hari. Penemuan tersebut tercatat sebagai awal eksplorasi minyak bumi komersial di Hindia Belanda, bahkan menjadi fondasi berdirinya perusahaan Koninklijke Nederlandsche Maatschappij, yang kelak berkembang menjadi bagian dari Royal Dutch Shell.

ADVERTISEMENT

Erond menegaskan bahwa keberhasilan Telaga Said menjadikan Sumatera Utara sebagai pusat perhatian investor dunia setelah kejayaan Tembakau Deli.

"Popularitas Sumatera bagian utara kembali menggeliat sejak tahun 1883. Pada saat itu, hasil sumber daya alam 'menggetarkan' dunia berupa penemuan kerosin berupa telaga-telaga di Langkat," tulisnya.

Penemuan minyak tersebut memicu pembangunan besar-besaran di Langkat. Kilang penyulingan dibangun di Pangkalan Brandan, jaringan kereta api diperluas hingga Tanjung Pura dan Pangkalan Susu, serta bermunculan sekolah, rumah sakit, hotel, hingga lapangan olahraga.

"Penemuan sumur minyak ini berdampak secara teritorial Langkat berupa menampaknya modernisasi berupa bangunan-bangunan modern seperti kilang minyak, dermaga, kereta api, perkantoran, pertokoan, bank, hotel, sekolah, rumah sakit, dan lapangan olahraga," tulis Erond.

Pada 1958, industri minyak di Langkat resmi dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia di bawah peran penting Ibnu Sutowo. Proses ini menjadi tonggak penting lahirnya perusahaan tambang minyak nasional Indonesia yang kemudian berkembang menjadi Pertamina.

Kini, meski sebagian besar kejayaan industri minyak Telaga Said tinggal jejak sejarah, kawasan ini tetap dikenang sebagai tempat lahirnya industri perminyakan Indonesia. Dari sebuah sumur di Langkat, sejarah energi nasional Indonesia dimulai.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Program Maganghub Kemnaker di BeritaKlik.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads