Kejadian nahas menimpa seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kota Medan bernama Dewi (47). Usai suaminya meninggal, anaknya jatuh sakit hingga rumahnya dibobol maling.
Dewi mengatakan peristiwa itu berawal pada 26 Mei 2026 di rumah yang disewanya bersama suami dan anaknya di Jalan Bromo Gang Aman, Kecamatan Medan Denai. Awalnya, suaminya tiba-tiba tak sadarkan diri.
Sontak Dewi melarikan suaminya ke RS Pirngadi Medan menggunakan becak barang yang biasa digunakannya untuk mengangkut barang jualan. Setelah dicek oleh dokter, suaminya mengalami pecah pembuluh darah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembuluh darahnya pecah, katanya (dokter), dia (suami) stroke, tensinya tinggi," kata Dewi saat diwawancarai di rumahnya, Rabu (1/7/2026).
Pihak dokter pun menyarankan agar suaminya dirujuk ke RSUPH Adam Malik. Namun, dari informasi yang diterimanya, RS itu penuh, sehingga suaminya tidak bisa dirujuk.
Dewi menyebut suaminya hampir sepekan dirawat di RS Pirngadi itu. Nahasnya, pada Senin (1/6), suaminya menghembuskan napas terakhir.
Jasad suami Dewi pun dibawa pulang dan dimakamkan pada Selasa (2/6). Setelah kepergian suaminya itu, kesedihan Dewi bertambah saat anaknya N (12) harus dilarikan ke rumah sakit karena wajahnya pucat.
Dewi menyebut anaknya ini memang mengalami gizi buruk. N adalah anak paling bungsu di antara tiga anak Dewi. Dua anak lainnya adalah M (19) dan R (14).
Dewi pun memacu becak barang miliknya dan membawa anaknya ke RS Pirngadi. Dia menyebut kunci kamar mereka yang di lantai 2 memang itu tidak ada, sehingga pintu yang terkunci dengan baik hanya yang di lantai satu.
Akibat buru-buru, Dewi pun tidak sempat untuk mengunci dengan baik kamar mereka itu. Dewi mengatakan anaknya dirawat sekitar dua pekan.
Saat pulang ke rumah pada Senin (15/6), Dewi mendapati rumahnya yang berada di lantai 2 itu telah dibobol maling. Beberapa barangnya hilang, seperti mesin jahit, mesin pompa air, pemasak nasi dan piring. Alhasil, setelah kemalingan itu, Dewi memasak nasi menggunakan periuk.
Menurunya, para pelaku naik ke lantai 2 dengan memanjat lewat samping. Dia mengaku baru menyewa di rumah itu selama satu bulan. Sebelumnya, dia bersama suami dan anaknya tinggal di gang sebelah yang tidak jauh dari lokasi.
"Jadi, aku pas pulang, naik ke atas. Sudah berserak," sebutnya.
Tak sampai di situ, Dewi mengaku juga mengalami pencurian pada Sabtu (27/6) dini hari. Saat itu, Dewi tengah tidur bersama anak-anaknya.
Dia menduga para pelaku adalah orang yang sama dengan kejadian sebelumnya. Dia mengaku mengenali para pelaku itu karena merupakan warga sekitar. Dewi menyebut para pelaku mengambil sekira 3 ponsel milik mereka.
"Hp lagi dicas diambilnya hp ayahnya, sama hp ku yang bukan android. Pukul 03.30 WIB, anak ku sadar, langsung menjerit dia, (pelaku) sudah keburu keluar. Teriak-teriaklah kami semua," ujarnya.
Dewi mengaku kesulitan untuk mencari nafkah setelah suaminya masuk rumah sakit. Sebelumnya, dia dan suaminya berjualan pakaian wanita ke pasar-pasar.
Namun, hasil berjualan itu tidak mencukupi kebutuhan mereka. Dewi pun mengambil beberapa jahitan untuk membantu biaya hidup mereka.
"Setelah ayahnya masuk rumah sakit sampai sekarang nganggur, nggak ada bekerja. Anakku tiga, ini anakku kena gizi buruk. Saya berharap pelakunya bisa ditangkap," jelasnya.
Setelah kejadian itu, dia mengaku sudah bertemu dengan petugas kepolisian. Dewi menyebut juga mendapatkan bantuan, seperti pemasak nasi, ponsel dan sejumlah uang dari polisi.
"Ada (datang), pak polisi itu tadi dikasihnya pemasak nasi sama hp, uang juga," pungkasnya.
Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan bahwa sejauh ini korban belum membuat laporan atas kejadian ini. Namun, pihaknya telah bertemu dengan korban dan memberikan sejumlah bantuan.
"Saya tidak menunggu lama, saya minta sampaikan kepada kasat reskrim, tolong undang ibu itu lebih dulu. Kita lakukan pemulihan psikis karena saya tahu itu begitu terguncang. Salah satu sisi, (korban) kehilangan suaminya, dan bersamaan waktu anaknya sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di Medan. Tapi pada saat pulang, barang-barangnya hilang. (Beberapa) barang yang hilang kami beli dan kami berikan kembali, supaya paling tidak hatinya senang," kata Calvijn.
Perwira menengah Polri itu mengatakan sudah memerintahkan anggotanya untuk mengungkap kasus itu. Saat ini, petugas kepolisian tengah menyelidikinya.
"Terkait tindak pidananya, saya sampaikan kepada jajaran, ini harus ditindak dan harus dilakukan pengungkapan kasus. Ini termasuk pencurian dengan pemberatan dan sudah berani masuk ke dalam rumah warga. Tidak dilihat dari jumlah nominal barang yang dicuri, tapi tindakan pidana yang dilakukan," pungkasnya.
(fnr/afb)
