detikBali

Cerita Penawati Sulap Limbah Tekstil Jadi Karya Seni Penuh Makna

Terpopuler Koleksi Pilihan

Cerita Penawati Sulap Limbah Tekstil Jadi Karya Seni Penuh Makna


Made Wijaya Kusuma - detikBali

Ni Wayan Penawati, perupa kontemporer asal Bali saat ditemui di kediaman di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, Senin (21/4/2026). (Foto: Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Ni Wayan Penawati, perupa kontemporer asal Bali saat ditemui di kediaman di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, Senin (21/4/2026). (Foto: Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Buleleng -

Ni Wayan Penawati tampak telaten menggunting selembar kain biru di atas tikar warna-warni. Di sekelilingnya, potongan kain tersusun dalam keranjang. Perupa kontemporer Bali itu menyulap limbah tekstil menjadi karya seni penuh makna.

Penawati melahirkan karya seni dari sisa-sisa kain perca sejak pandemi COVID-19. Karya seni tersebut mengangkat narasi tentang perempuan, lingkungan, dan keseharian yang sering luput dari sorotan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya lihat di sekitar rumah, banyak limbah kain dari garmen, terutama kebaya. Dari situ saya mulai berpikir, kenapa tidak dimanfaatkan?" ujar Penawati saat ditemui di kediamannya di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, Senin (20/4/2026).

Penawati tumbuh di lingkungan seniman dengan ayah seorang perajin kayu sekaligus pengajar seni. Lulusan SMK Negeri 1 Sukawati itu kemudian melanjutkan pendidikan ke ISI Denpasar. Selama kuliah, ia melihat bagaimana seni terus bergerak, bertransformasi mengikuti zaman.

ADVERTISEMENT

Alih-alih meninggalkan tradisi, Penawati justru merangkulnya dalam bentuk baru. Ia menggabungkan teknik keseharian perempuan Bali seperti mejejaitan atau menganyam tipat ke dalam praktik seni kontemporer.

"Saya merasa keseharian saya sebagai perempuan Bali itu bisa nyambung dengan karya seni. Menjahit kain ini seperti membuat banten, ada proses, ada makna," tuturnya.

Penawati kerap terinspirasi dari bentuk kepelan nasi kecil yang dipersembahkan umat Hindu Bali setiap hari. Bagi Penawati, bentuk sederhana itu menyimpan filosofi kekuatan. Ia kemudian menerjemahkannya ke dalam medium tekstil, menjahit potongan kain menjadi simbol-simbol keseharian yang sarat arti.

Ni Wayan Penawati, perupa kontemporer asal Bali. (Foto: Made Wijaya Kusuma/detikBali)Ni Wayan Penawati, perupa kontemporer asal Bali. (Foto: Made Wijaya Kusuma/detikBali)

Isu perempuan menjadi napas utama dalam karya Penawati. Ia menggambarkan keseharian perempuan Bali menjalani peran berlapis mulai dari mengurus rumah, terlibat dalam upacara adat, hingga tetap berkarya dari ruang domestik.

Di tengah stigma bahwa perempuan yang sibuk dengan yadnya tak lagi produktif secara kreatif, Penawati justru melihat sebaliknya. "Bagi saya, saat perempuan membuat banten, itu juga berkarya. Itu seni. Hanya saja sering tidak dilihat sebagai karya," ujarnya.

Penawati juga menyoroti budaya patriarki di Bali. Perempuan Bali, dia berujar, memulai dari hal-hal kecil seperti merangkai banten yang kemudian menjadi besar. Sementara laki-laki, memulai dari bentuk besar yang kemudian dirinci seperti pembuatan penjor.

"Hasilnya sama, sama-sama penting untuk keberlangsungan adat," imbuhnya.

Penawati tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga membuka perspektif baru tentang perempuan, seni, dan tradisi. Meski demikian, jalan yang ditempuhnya tak selalu mulus.

Ia menilai ruang bagi seni rupa di Bali masih terbatas dibanding seni pertunjukan. Banyak seniman visual justru lebih diapresiasi di luar daerah, seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Bandung.

"Di Bali senimannya banyak, tapi ruangnya masih kurang. Jadi kami sering justru pameran di luar," kata Penawati.

Di tengah keterbatasan itu, Penawati mencoba mengajak perempuan lain di sekitarnya untuk ikut berkarya, meski bukan berasal dari latar belakang seni. Ia berencana menggelar pameran tunggal di Ubud tahun depan.




(iws/iws)










Hide Ads