detikBali

Kartini dari Kepaon, Olah Sampah Organik dengan Maggot di Tengah Krisis Sampah

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kartini dari Kepaon, Olah Sampah Organik dengan Maggot di Tengah Krisis Sampah


Ahmad Firizqi - detikBali

Ana Rohanah Salamah saat ditemui detikBali di Kebun Imut atau Rumah Imut, Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan, Denpasar Selatan pada Senin (20/4/2026). (Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)
Foto: Ana Rohanah Salamah saat ditemui detikBali di Kebun Imut atau Rumah Imut, Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan, Denpasar Selatan pada Senin (20/4/2026). (Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)
Denpasar -

Di Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan, Denpasar, Bali, sosok Ana Rohanah Salamah dikenal sebagai perempuan yang konsisten mengolah sampah organik dengan cara tak biasa. Perempuan kelahiran 1974 itu memanfaatkan maggot sebagai solusi pengelolaan sampah.

Di tengah masih banyaknya warga Denpasar dan Badung yang kesulitan mengolah sampah organik, Ana justru sudah lebih dulu bergerak. Ia menggunakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam untuk mengurai limbah organik hingga 70 persen atau dapat terurai hingga 50-100 kilogram (kg).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya mengelola sampah organik berbasiskan maggot itu spontan. Melihat ciptaan Tuhan yang paling sempurna ini, justru hewan inilah salah satu makhluk yang mampu mengolah sampah organik dengan baik," kata Ana saat ditemui detikBali, Senin (20/4/2026).

Ana mulai menekuni pengelolaan sampah sejak 2015. Saat itu, ia masih bekerja sebagai petugas pengelola sampah di sekitar kampungnya. Kondisi Sungai Taman Pancing yang dipenuhi sampah membuatnya prihatin.

ADVERTISEMENT

Dari situlah, perempuan asal Cilacap itu mencari cara yang lebih sederhana untuk mengatasi limbah organik. Pilihannya jatuh pada maggot yang memiliki siklus hidup cepat dan efektif dalam mengurai sampah.

"Maggot ini memahami apa yang dia mau tentang sampah itu. Sampah terkelola dengan sangat cepat dan menghasilkan banyak kebaikan dari maggotnya hingga maggot ini juga alternatif untuk pakan ternak," jelasnya.

Ia mengaku, tidak mudah mengolah sampah dengan metode alami seperti ini. Sempat gagal dan berhenti. Dalam dua tahun terakhir, Ana kembali membuktikan bahwa metode ini bisa berjalan optimal.

Kini, ia mengembangkan "Kebun Imut" atau "Rumah Imut" di Jalan Raya Pemogan, Gang Sholeh. Lahan seluas dua are itu menjadi tempat integrasi maggot, unggas, dan tanaman.

Meskipun budidaya ini sempat mendapatkan kritikan, tapi seiring waktu akhirnya banyak yang mulai tersadar akan pentingnya mengelola sampah dengan baik. Ia mengaku butuh perjalanan panjang yang harus dilalui agar semua itu bisa diterima dengan baik.

"Alhamdulillah saya bersyukur, paling penting masih diberikan kebahagiaan untuk bereksplorasi lebih dalam. Plus minus ada, tapi memang harus dilalui," akuinya.

Ana kini juga menjadi bagian pengelolaan sampah organik di TPS3R Pemogan. Langkahnya mendapat pengakuan dari Kepala TPS3R Kubu Lestari Desa Pemogan dan didukung Kepala Desa hingga Klian Kampung Islam Kepaon karena langkah positif yang dilakukan sosok Kartini di tengah situasi sampah yang carut marut.

Ke depannya, Ana berharap, ada dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar untuk memberikan sarana yang lebih baik dalam mengelola sampah organik. Ia tidak keberatan jika harus dipindahkan di tengah perkebunan, asalkan tugas mulia itu bisa diberikan dengan keadaan baik.

"Saya berharap tempat ini bisa legal, sehingga Kampung Islam Kepaon punya aset ini. Dengan Ruang Imut ini, juga bisa memberikan pemahaman termasuk membuang sampah ke sungai itu haram seperti fatwa MUI, saya setuju dengan itu," imbuhnya.

Jadi Tempat Belajar Pengelolaan Sampah

Ana Rohanah Salamah saat ditemui detikBali di Kebun Imut atau Rumah Imut, Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan, Denpasar Selatan pada Senin (20/4/2026). (Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)Ana Rohanah Salamah saat ditemui detikBali di Kebun Imut atau Rumah Imut, Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan, Denpasar Selatan pada Senin (20/4/2026). (Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)

Ibu tiga anak itu menyebut tidak sedikit masyarakat hingga akademisi pecinta lingkungan turun hadir ke Kebun Imut miliknya untuk mempelajari bagaimana maggot bisa mengurai sampah organik.

Maggot yang berevolusi menjadi lalat tentara hitam memiliki siklus kehidupan yang sebentar. Sejak 10 hari penetasan, maggot lalu menjadi mesin pengurai sampah organik alami selama 20 hari sebelum akhirnya berubah menjadi prepupa.

"Sedangkan saat menjadi lalat, ia hanya bertahan satu minggu. Namun lalat ini berbeda dengan pada umumnya, lalat BSF ini yang terbaik," jelasnya.

Mahasiswa dari Universitas Udayana yang menjalani KKN di Desa Pemogan juga ikut mempelajari metode ini, lalu menyebarkannya ke sekolah dan masyarakat. Beberapa kali, pecinta lingkungan juga saling tukar pikiran mengatur cara pengelola sampah dengan metode alami hingga modern, dari yang tidak berguna jadi berguna dan tidak berharga jadi berharga atau memiliki nilai ekonomi.

Di sisi lain, besar harapannya istri dari mantan guru agama itu untuk bisa memiliki aset dalam mengelola sampah organik. Mengingat ia harus menyewa lahan dengan biaya yang tidak sedikit.

"Alhamdulillah ini kebantu, karena yang memberikan sumbangan. Sekarang saya merasa inilah hari terbaik, bersyukur tentang semua yang sudah dimiliki. Semoga hal ini juga bisa menginspirasi dan insyaallah, ke depan akan lebih baik lagi," pungkas Ana.




(nor/nor)










Hide Ads