detikBali
Klungkung

Menjaga Warisan Leluhur, Kisah Indra Lestarikan Kerajinan Pis Bolong Kamasan

Terpopuler Koleksi Pilihan
Klungkung

Menjaga Warisan Leluhur, Kisah Indra Lestarikan Kerajinan Pis Bolong Kamasan


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Kerajinan dari Pis Bolong karya I Made Indra Kesumajaya di Desa Kamasan, Klungkung, Bali.
Kerajinan dari Pis Bolong karya I Made Indra Kesumajaya di Desa Kamasan, Klungkung, Bali. (Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Di tengah minimnya regenerasi pengrajin Pis Bolong di Desa Kamasan, Klungkung, Bali, I Made Indra Kesumajaya (28) memilih menapaki jalan yang telah dirintis keluarganya. Ia melanjutkan usaha sang ayah, I Made Sanjaya, pemilik Taksu Agung Bali, yang selama puluhan tahun menekuni kerajinan logam pis bolong.

Pilihan itu bukan sekadar meneruskan usaha keluarga. Bagi Indra, kerajinan pis bolong merupakan warisan leluhur yang perlu dijaga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Saat ditemui detikBali, Sabtu (20/6/2026), Indra tampak sibuk merangkai ratusan keping pis bolong menjadi penyeneng. Tangannya bergerak lincah menyusun kepingan logam yang telah akrab dengannya sejak kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baginya, kesempatan untuk meneruskan usaha yang telah dibangun ayahnya merupakan hak istimewa atau privilese yang tak ternilai.

ADVERTISEMENT

Ketertarikan Indra terhadap pis bolong tumbuh sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Ia terbiasa mengamati ayahnya bekerja di bengkel. Kedekatan dengan proses pembuatan itulah yang akhirnya membuatnya mantap melanjutkan usaha keluarga setelah lulus SMA.

Keunikan Pis Bolong Kamasan terletak pada bahan dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Pis Bolong asli Taksu Agung Bali dibuat dari lima unsur logam, yakni timah, tembaga, kuningan, perak, dan emas.

Kerajinan dari Pis Bolong karya I Made Indra Kesumajaya di Desa Kamasan, Klungkung, Bali.Kerajinan dari Pis Bolong karya I Made Indra Kesumajaya di Desa Kamasan, Klungkung, Bali. Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali

Kelima unsur tersebut melambangkan Panca Mahabhuta, unsur pembentuk alam semesta. Simbol itu juga merepresentasikan lima arah mata angin, yakni Timur-Indra/Angkasa, Selatan-Brahma/Api, Barat-Mahadewa/Air, Utara-Wisnu/Tanah, dan Tengah-Siwa/Eter.

Tidak hanya menjual pis bolong sebagai sarana ritual suci pedagingan, Indra juga mengembangkannya menjadi berbagai karya seni bernilai tinggi. Ia merangkainya menjadi Penyeneng Serobong Daksina, Lamak, Capah, Sampiang, Tamiang, hingga patung Cili dan Rambut Sedane.

Pasang Surut Pendapatan dan Nilai Seni Pis Bolong

Seperti usaha lainnya, kerajinan pis bolong juga mengalami pasang surut pendapatan. Pada momen tertentu, terutama menjelang hari raya keagamaan, pesanan biasanya meningkat signifikan.

"Namanya usaha pasti ada turun naiknya. Biasa jika ada upacara-upacara, pasti banyak pesanan. Seperti saat ini Galungan-Kuningan," terangnya.

Menurut Indra, harga pis bolong mengalami kenaikan cukup signifikan seiring meningkatnya biaya bahan baku. Pis Bolong bertuliskan aksara dijual per ikat, dengan satu ikat berisi 200 keping seharga Rp 350 ribu.

"Dulu harganya Rp 250 ribu. Lumayan naiknya," terang Indra.

Sementara itu, Pis Bolong bergambar seperti "uang kepeng bulan" dijual seharga Rp 1.100 per keping. Motif bulan tersebut awalnya muncul akibat kesalahan cetak yang bergeser, namun justru mendapat respons positif dari pasar.

Pesanan untuk kebutuhan pedagingan menjadi yang paling banyak diminati. Dalam satu pesanan, jumlahnya bisa mencapai 10 ribu keping. Adapun untuk produk turunan, harga ditentukan berdasarkan jumlah keping yang digunakan serta tingkat kesulitannya.

Penyeneng yang sedang dikerjakan Indra, misalnya, membutuhkan sekitar 400 hingga 500 keping pis bolong. Produk itu dijual Rp 2,5 juta untuk ukuran besar dan Rp 1,5 juta untuk ukuran sedang.

Karya-karya Taksu Agung Bali Kamasan juga rutin tampil dalam Pekan Kesenian Bali (PKB) 2026 di Art Center Denpasar.

"Saat ini hampir semua barang di sana," jelas Indra.

Ia pun memperlihatkan beberapa karya yang tengah dipamerkan. Mulai dari Patung Cili yang dibanderol Rp 2,5 juta per patung hingga Patung Rambut Sedane yang menjadi karya termahal dengan harga mencapai Rp 27 juta per pasang.

"Kalau harga tergantung tingkat kesulitan dan berapa banyak bahan yang dibutuhkan," ujarnya.

Selain menjaga warisan leluhur, Indra juga membuka lapangan pekerjaan bagi pengrajin lain. Sistem upah yang diterapkan dihitung per keping. Untuk satu penyeneng berisi sekitar 400 keping, upah yang diberikan berkisar Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu, belum termasuk pemasangan aksesori pendukung.

Waktu pengerjaan pun bervariasi. Produk seperti penyeneng dapat diselesaikan paling cepat dalam dua hari. Namun, jika dikerjakan lebih santai, prosesnya bisa memakan waktu hingga dua minggu.

Sebagai generasi muda, Indra berharap anak-anak muda Kamasan tidak ragu menekuni profesi sebagai pengrajin pis bolong.

"Saya sendiri tidak minder meski hampir semua teman-teman seusia saya memilih bekerja di pariwisata. Karena ini identitas dan warisan leluhur saya. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi," tegasnya sembari merajut kembali penyeneng dari pis bolong.

Di tangan Indra, kesenian Wayang Kamasan dan kerajinan logam Pis Bolong Kamasan terus menemukan ruang untuk bertahan. Dari pis bolong seharga Rp 350 ribu per ikat hingga karya seni bernilai puluhan juta rupiah, warisan lima unsur leluhur itu tetap hidup dan berkembang melalui sentuhan generasi baru.




(dpw/dpw)










Hide Ads