Kampung Loloan menyimpan jejak penyebaran Islam di Kabupaten Jembrana, Bali. Salah satunya adalah keberadaan Makam Buyut Lebai yang dikenal sebagai ulama besar dan pendakwah asal Serawak, Malaysia.
Makam ini terletak di Jalan Gunung Agung, Kampung Loloan, Kecamatan Negara, Jembrana. Saat ini, makam Buyut Lebai telah menjadi cagar budaya dan sering diziarahi saat waktu-waktu tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simak ulasan mengenai Makam Buyut Lebai di Kampung Loloan, Jembrana, Bali, seperti dirangkum detikBali berikut ini:
Sosok Buyut Lebai
Buyut Lebai yang memiliki nama Datuk Dawam Sirojuddin diperkirakan lahir pada tahun 1619. Konon, ulama besar asal Malaysia dapat berdakwah di Kampung Loloan Jembrana karena diizinkan oleh penguasa setempat.
Buyut Lebai datang ke wilayah Jembrana pada tahun 1669. Ia memberi dakwah pada semua kalangan, dari masyarakat bawah, menengah, hingga atas. Penguasa di Jembrana kala itu juga menjalin hubungan baik dengan Buyut Lebai di bidang perdagangan.
Ia wafat pada 1744. Jasad Buyut Lebai dimakamkan di atas tanah pekarangannya di Jalan Gunung Agung, Loloan Timur. Makam Buyut Lebai juga dikeramatkan oleh warga, terutama oleh anak cucunya.
Makam Buyut Lebai selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, termasuk dari luar Bali. Keberadaan makam tokoh muslim di Kampung Loloan ini biasanya menjadi salah satu rangkaian ziarah Wali Pitu yang ada di Bali.
Konsep Wali Pitu sendiri masih diperdebatkan dan dianggap penyerupaan Wali Songo di Jawa. Meski begitu, kehadiran makam Wali Pitu ini memiliki pengaruh yang cukup kuat dan menjadi daya tarik wisata religi di Kampung Loloan.
Kampung Muslim Loloan di Jembrana
Selain Makam Buyut Lebai, terdapat pula makam dari Ustaz Ali Bafaqih di Loloan Jembrana. Ali Bafaqih wafat dalam usia 107 tahun pada 27 Februari 1997.
Jejak dua ulama itu menjadikan Kampung Loloan sebagai salah satu pemukiman muslim terbesar di Bali. Sebagian besar yang menghuni wilayah ini merupakan orang-orang dari suku Bugis, Melayu, dan Jawa.
Suasana di Kampung Loloan pun tidak terasa seperti di Bali. Sebab, beberapa arsitektur rumah di kampung ini bergaya rumah panggung yang merupakan ciri khas dari budaya Bugis dan Melayu.
Adapun, Masjid Baitul Qodim menjadi pusat keagamaan di Kampung Loloan. Tempat ibadah ini menjadi saksi bisu awal mula penyebaran agama Islam di tempat ini. Di dalam masjid ini disimpan beberapa artefak seperti Al-Quran, kerekan timba sumur, dan mimbar yang berumur ratusan tahun.
(iws/iws)

