detikBali

Cerita Oma Sri Jadi Konten Kreator meski Usia Tak Muda Lagi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Cerita Oma Sri Jadi Konten Kreator meski Usia Tak Muda Lagi


Sui Suadnyana, Rizki Setyo - detikBali

Oma Sri, kreator konten lansia yang aktif membuat video di media sosial hingga menghasilkan uang saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Jimbaran, Badung, Minggu (19/4/2026). (Rizki Setyo/detikBali)
Foto: Oma Sri, kreator konten lansia yang aktif membuat video di media sosial hingga menghasilkan uang saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Jimbaran, Badung, Minggu (19/4/2026). (Rizki Setyo/detikBali)
Badung -

Usianya sudah tak muda lagi, tetapi semangatnya untuk mengikuti tren zaman tidak pudar. Ester Sri Suwarni namanya. Lansia yang tinggal di Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali, itu aktif membuat video dan mengunggah sosial medianya.

Kontennya bukan mengulas makanan, bukan juga bermain gim online, tetapi memperlihatkan aktivitasnya sehari-hari sebagai warga biasa. Siapa sangka, video dia sedang menjahit hingga belanja ke pasar justru mendapatkan simpati publik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sri pun menceritakan pengalamannya menjadi kreator konten saat ditemui detikBali di rumahnya di Puri Gading, Kelurahan Jimbaran, Minggu (19/4/2026).

Sri mulanya diberi tahu anaknya untuk membuat akun Facebook untuk menyimpan foto-foto agar momen kebersamaan dengan keluarga tersimpan di sana. Dia juga kerap mengunggah foto-foto dirinya ketika hendak bepergian.

ADVERTISEMENT

Seiring berjalannya waktu, Sri mengetahui ada fitur Facebook Profesional yang dapat menghasilkan uang ketika giat mengunggah video. Dari situlah Sri aktif membuat konten.

Bermodal hobi bernyanyi, Sri gemar mengunggah video tarik suara lagu-lagu di eranya. Video yang diunggah Sri bukan suai bibir. 500 video telah dibuat oleh ibu dari tiga anak itu. Namun, selama dua tahun ia tidak mendapatkan monetisasi.

"Terus saya tanya gimana saya ngonten sudah dua tahun kok nggak pernah monetisasi, terus saya dikasih arahan kalau lip-sync itu nanti suaranya ada pembatasan kadang ada kesalahan kalau pingin monetisasi harus konten original," kata Sri.

Perempuan berusia 77 tahun itu akhirnya mengubah gaya kontennya. Dia tak lagi bernyanyi, tetapi membuat video aktivitas sehari-harinya. Sri tahu membuat konten tidak mudah, apalagi tidak konsisten dalam mengunggah.

"Saya dipacu terus harus konsisten, satu hari 2-3 video, kalau bisa seminggu jangan 1-2 kali, kapan mau monetisasi," ujar Sri.

Bermodal pintar bercerita, Sri rajin membuat video apa pun yang sedang ia lakukan. Berangkat ke gereja, jalan-jalan bersama anak cucu, didatangi teman, semua ia rekam.

Saat ditemui, Sri juga langsung bergegas menggenggam gawainya di tangan kanan dan merekam semua kejadian. Sambil menarasikan kegiatan apa yang ia lakukan.

"Terus lama-lama kok penontonnya banyak-banyak, saya tidak tahu kok bisa ke Instagram. Instagram saya lama punya, tetapi saya tidak tahu masuk ke Instagram, saya tahunya dikasih tahu teman kalau video saya viral," jelas Sri.

Videonya seketika viral di Instagram. Videonya dilihat sebanyak dua juta orang. Dari situ ia menerima monetisasi dari kontennya sebesar Rp 500 ribu.

Sri merasa kontennya tidak terlalu bagus dari segi isi video, editing maupun resolusi videonya. Ia hanya rajin mengunggah setiap hari dan melakukan interaksi kepada warganet.

"Mungkin dua bulan yang lalu itu sudah ribuan, saya itu kalau malam balasin komentar satu-satu, lama-lama saya dapat endorse, dapat kiriman uang dari penggemar, ada yang datang dari Surabaya ke sini untuk kolaborasi konten," beber Sri.

Penghasilannya kini tidak hanya dari menjahit. Sri kini mulai mendapat tawaran kerja sama dari kedai kopi, restoran hingga kolaborasi dengan kreator konten lain.

Satu video penontonnya minimal 10 ribu. Anak-anaknya juga sekarang mendorong Sri agar aktif berkonten agar ada kegiatan selain menjahit, apalagi mendapatkan penghasilan.

Sri merupakan gambaran dari kerja kerasnya seorang perempuan Indonesia yang tidak lekang oleh zaman. Menurut Sri, makna Hari Kartini di era sekarang adalah perempuan Indonesia sekarang bisa sederajat dengan laki-laki.

Pada zamannya, perempuan selalu dipaksa untuk tidak boleh melakukan apa pun. Namun, perempuan Indonesia sekarang berani untuk melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan oleh laki-laki.

"Sekarang banyak wanita yang derajatnya lebih tinggi dari laki-laki. Nah itu sudah tidak bisa diubah, mungkin era sekarang dan dahulu lain, kalau bagi saya begitu," ungkap Sri.

"Kalau sekarang kan nggak, wanita-wanita berkarir sekarang sekolahnya tinggi-tinggi, sekarang bisa memiliki beberapa bahasa bisa, dahulu nggak bisa," imbuh Sri.




(hsa/hsa)










Hide Ads