detikBali

CJH Lombok Timur Dilarikan ke RS Saat Tiba di Asrama, Mataram Kategori Risti

Terpopuler Koleksi Pilihan

CJH Lombok Timur Dilarikan ke RS Saat Tiba di Asrama, Mataram Kategori Risti


Ahmad Viqi, Nathea Citra - detikBali

CJH Wanita asal Lombok Timur dilarikan ke RSUD NTB. Diduga penyakit patah tulang di kaki, kambuh saat tiba di Asrama Haji Embarkasi Lombok, Selasa (21/4/2026)
CJH Wanita asal Lombok Timur dilarikan ke RSUD NTB. Diduga penyakit patah tulang di kaki, kambuh saat tiba di Asrama Haji Embarkasi Lombok, Selasa (21/4/2026). (Foto: dok. Kanwil Kemenhaj NTB)
Mataram -

Seorang calon jemaah haji (CJH) perempuan yang tergabung dalam Kloter I asal Kabupaten Lombok Timur dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat baru tiba di Asrama Haji Embarkasi Lombok. Diduga, penyakit bawaan yang diderita sebelum berangkat ke asrama haji kambuh.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kanwil Kemenhaj) NTB, Lalu Muhammad Amin, mengatakan CJH perempuan asal Lombok Timur itu pernah mengalami kecelakaan sebelum masuk asrama. Kakinya sempat patah saat beraktivitas di rumahnya.

"Hasil pemeriksaan terdapat satu jemaah yang memiliki riwayat patah tulang, itu dilihat dari hasil rontgennya," kata Amin dikonfirmasi, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat turun dari bus, korban kesulitan berjalan. Karena itu, korban langsung dirujuk ke RSUD NTB untuk menjalani pemeriksaan lanjutan guna memastikan kondisi kesehatannya.

ADVERTISEMENT

"Sudah dilakukan pemeriksaan lanjutkan di rumah sakit untuk mendapatkan rekomendasi apakah jemaah tersebut layak atau tidaknya terbang ke tanah suci," kata Amin.

Amin menjelaskan, hasil pemeriksaan di rumah sakit akan menjadi dasar rekomendasi apakah CJH tersebut layak diberangkatkan atau tidak. CJH itu diketahui akan berangkat bersama suaminya ke tanah suci.

"Benar dia bersama suami dan ada riwayat sakit sebelum masuk asrama," tutur eks Kabid Haji tersebut.

Ia memastikan seluruh jemaah akan menjalani pemeriksaan sebelum diberangkatkan. Hasil pemeriksaan itu menjadi rujukan untuk menentukan kelayakan terbang.

"Kan rata-rata jemaah kita ini di atas 65 tahun. Tapi sejauh ini seluruhnya jamaah berdasarkan pemeriksaan istithaahnya memenuhi syarat," tutur Amin.

Prioritas Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi

Amin menjelaskan tema haji tahun ini adalah haji ramah lanjut usia (lansia). Seluruh jemaah lansia menjadi prioritas pelayanan petugas, baik di daerah maupun selama di tanah suci.

"Memang tidak semua lansia dalam kondisi kurang sehat, namun bagi yang memiliki risiko kesehatan tinggi tetap kami kategorikan untuk mendapatkan perhatian khusus," kata Amin.

Selain jemaah lansia, petugas juga menyiapkan pelayanan khusus bagi jemaah dengan risiko tinggi (risti) dan jemaah disabilitas. Pada Kloter I, tercatat 60 jemaah masuk kategori risti berat, 81 orang risti sedang, 126 orang risti ringan, dan 120 orang tidak berisiko.

Kloter pertama jemaah haji NTB berjumlah 398 orang dan dijadwalkan terbang menuju Madinah pukul 02.30 Wita, Rabu dini hari (22/4). Jemaah tertua berusia 83 tahun bernama Sarbini, sedangkan yang termuda berusia 35 tahun bernama Nurlaela Wardiana.

71 Persen CJH Mataram Masuk Kategori Risti

CJH Mataram tahun sebelumnya.CJH Mataram tahun sebelumnya. Foto: Nathea Citra/detikBali

Terpisah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram mencatat 71 persen calon jemaah haji (CJH) asal Kota Mataram masuk kategori risiko tinggi (risti). Faktor usia dan penyakit degeneratif menjadi penyebab utama.

"Tahun ini hampir 71 persen jemaah kita risti atau berisiko tinggi. Risiko tinggi ini karena faktor usia serta penyakit-penyakit lainnya," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, Emirald Isfihan.

Menurut Emirald, penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes mendominasi jemaah asal Kota Mataram.

"Penyakitnya banyak. Yang paling banyak adalah hipertensi. Penyakit yang berkaitan dengan penyakit degeneratif ada diabetes. (Meski begitu) ini masih memenuhi kriteria dari istitoah kesehatannya," terangnya.

"Walaupun dia berisiko tinggi, insyaallah masih layak posisinya," sambungnya.

Untuk memantau kondisi jemaah selama di tanah suci, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram telah menyiapkan tim kesehatan yang akan mendampingi jemaah risti maupun lansia.

"Tim kesehatan akan mengawal, kami sudah titip. Insyaallah mudah-mudahan aman, walaupun komposisinya 71 persen risiko tinggi, tapi kita sudah menyiapkan pemetaan terhadap risiko ini. Yakni dengan memberikan obat dengan memberikan pendampingan mulai dari proses sekarang sampai dengan keberangkatan," tuturnya.

Selain itu, kondisi kemarau panjang di tanah suci juga menjadi perhatian karena berpotensi memicu heat stroke pada jemaah.

"Dari tahun ke tahun itu terus menjadi atensi kami bersama petugas kesehatan di sana. Dan saya pikir itu sudah masuk di dalam proses pembimbingannya kemarin. Tetap diedukasi, dan tim kesehatan juga terus melakukan upaya-upaya (menghindari heat stroke). Misalnya mengkonsumsi oralit, dan memperbanyak minum," tandasnya.




(dpw/dpw)










Hide Ads