Ada sederet peristiwa populer selama sepekan terakhir di Bali. Pertama, penemuan jasad pria bertato dalam kondisi membusuk di lahan kosong di Banjar Cabe, Desa Darmasaba, Abiansemal, Badung. Belakangan identitas korban mulai terkuak.
Kemudian, kabar tutup usia Men Djenggo juga mengejutkan banyak pihak. Men Djenggo merupakan pencipta nasi jinggo yang saat ini menjadi salah satu kuliner khas Bali paling populer.
Selanjutnya, ada kritikan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bali mengenai sistem retribusi parkir di Bandara Ngurah Rai dan Pelabuhan Gilimanuk. MTI menyebut ada keanehan dalam sistem tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus seorang pria disabilitas mental yang dilecehkan dalam live TikTok juga menjadi salah satu kabar paling menarik perhatian. Ada tiga orang yang dipolisikan dalam perkara tersebut. Berikut rangkuman peristiwa populer sepekan terakhir dalam rubrik Bali Sepekan di detikBali.
Geger Jasad Pria Bertato Membusuk
Identitas jasad pria terkubur yang diduga menjadi korban pembunuhan di lahan kosong di Banjar Cabe, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, mulai menemui titik terang. Pria tersebut diduga berinisial D (25) yang pernah bekerja di sebuah tempat pencucian motor dekat lokasi penemuan mayat.
Warga sekitar meyakini jasad tersebut merupakan D setelah mengenali tato di tubuh korban yang fotonya sempat beredar luas di media sosial.
"Memang dia orangnya, kan ada tato itu. Dari polisi sudah ngecek dan bilang sudah tahu identitas korbannya ini," ujar salah seorang sumber yang enggan namanya dicantumkan saat ditemui di sekitar lokasi, Jumat (15/5/2026).
Foto-foto sosok korban itu pun tersebar di media sosial sejak Kamis (14/5/2026). Sumber lain menyebutkan, bahwa D merupakan warga asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang direkrut sebagai tukang cuci motor melalui informasi lowongan kerja di Facebook pada Februari lalu. Namun, korban sudah diberhentikan sejak 23 April 2024 karena masalah disiplin.
"Setelah berhenti, tidak ada kontak lagi dan tidak tahu dia kerja di mana," kata sumber tersebut.
Meski sudah tidak bekerja, sebuah keributan hebat diduga sempat pecah di lokasi pencucian motor tersebut pada 7 Mei 2026 dini hari. Ditemukan sejumlah barang dan perabotan di sana hancur, meski saat pagi hari situasi di area tersebut sudah terlihat dirapikan oleh seseorang.
Kecurigaan menguat setelah dua karyawan aktif di tempat tersebut mendadak mengundurkan diri dalam waktu yang berdekatan dengan peristiwa keributan dan penemuan mayat. Polisi kini tengah mendalami keterkaitan antara keributan di tempat cuci motor tersebut dengan penemuan jasad korban.
Sumber di kepolisian mengatakan, saat ini fokus pada menggali beberapa keterangan. Selain memeriksa rekaman CCTV yang sayangnya terkendala koneksi internet saat kejadian, petugas juga menelusuri hilangnya beberapa alat kerja yang diduga berkaitan dengan kasus ini.
Belum ada keterangan apapun terkait perkembangan penyelidikan kasus ini. "Tunggu hasil penyelidikan resmi Reskrim Polres Badung," tegas PS Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung, Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti.
Men Djenggo Tutup Usia
Pencipta nasi jinggo khas Bali yang sangat populer tutup usia. Dia adalah Ni Ketut Ngasti. Kedua anak Ni Ketut Ngasti atau Men Djenggo kenang masa-masa sang ibu menjual nasi jinggo di area Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Putra sulung Men Djenggo, Henry Alexie Bloem, menceritakan perjuangan Men Djenggo setiap dini hari untuk menyiapkan ratusan bungkus nasi setiap hari.
"Jam 1 malam dia bangun mengguling babi, jam 7 nasi 100-200 bungkus dengan lauk pilihan. Kemudian dibawa tiga orang kayak pengepul gitu yang dijual di Pelabuhan Benoa," kata Henry saat ditemui saat proses ngaben ibunya di Krematorium Santha Yana, Denpasar, Selasa (12/5/2026).
Menurut Henry, nasi jinggo mulai diracik Men Djenggo pada era 1970-an sebagai makanan bagi para pekerja di Pelabuhan Benoa. Bahkan, dalam sehari, Men Djenggo kerap menerima pesanan hingga 400 bungkus nasi untuk kebutuhan kapal pesiar.
"Tapi lauknya bukan kayak sekarang. Zaman dulu ibu itu jualan babi guling. Aslinya nasi jinggo itu babi guling tapi ada pilihannya juga, tapi yang utama babi guling," jelas henry.
Men Djenggo kala itu menjual nasi jinggo Rp 50 per bungkus. Namun pada tahun 1980-an, dia sudah tidak berjualan lagi karena fokus pada kegiatan keagamaan.
"Jadi singkat cerita seperti itu, nasi jinggo yang mulai terkenal di Denpasar (tahun 1980) kan lauknya beda," sebut mantan Presiden Indonesian Chef Asociation itu.
Henry mengaku banyak dorongan dari rekan-rekan chef untuk mematenkan nama ibu menjadi pencetus awal nasi jinggo. Namun, ia merasa tidak perlu karena akan menimbulkan konflik ke depannya.
Sebelumnya, kabar kepergian Men Djenggo diunggah oleh Henry melalui akun Instagram @henryalexiebloem. Dalam unggahan tersebut, Henry menampilkan foto kenangan dan momen kebersamaan dengan ibunda sejak kanak-kanak hingga dirinya menjadi chef terkenal.
"Selamat jalan meme (ibu), berbahagia lah di sana. Karyamu akan selalu dicari dan dikenang. Men Djenggo, pencipta nasi jinggo," tulis Henry dikutip detikBali, Minggu (10/5).
Kolom komentar pada unggahan tersebut dibanjiri ucapan belasungkawa dari rekan-rekan sesama chef dan sejumlah tokoh publik. Termasuk Ni Luh Djelantik hingga Chef Juna.
"Turut berduka yang sedalamnya atas berpulangnya Ibunda tercinta," tulis Ni Luh Djelantik.
"My Deepest Condolences Brother. May she Rest In Peace," ucap Chef Juna.
MTI Soroti Parkir Bandara dan Pelabuhan Gilimanuk
MTI Bali menyoroti sistem parkir di dua pintu masuk dan keluar Provinsi Bali, yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai dan Pelabuhan Gilimanuk.
Ketua MTI Bali I Made Rai Ridharta mengaku resah melihat sistem dua prasarana transportasi itu yang sudah lama menjadi kegelisahan masyarakat.
Di bandara, ia melanjutkan, kendaraan masuk akan menerima tiket dan membayar dengan tarif yang sesuai durasi kendaraan tersebut menggunakan fasilitas bandara.
"Kelihatannya normal-normal saja seperti di tempat lain, tapi dibalik itu ada sesuatu yang kurang pas jika mengacu pada ketentuan retribusi," kata Ridharta kepada detikBali, Minggu (10/4/2026).
Dia menerangkan ketentuan retribusi harus ada wanprestasi atau ganti jasa yang digunakan atas fasilitas yang disediakan. Bagi kendaraan yang keluar masuk hanya menurunkan atau menjemput penumpang terjadi kerancuan.
"Apakah masih dikategorikan juga telah menggunakan fasilitas tempat parkir? Padahal lokasi mereka menurunkan dan menjemput adalah fasilitas yang wajib disediakan bagi pengguna, beda jika pengguna tadi parkir sesaat sebelum mengantar atau menjemput," jelasnya.
Ridharta meminta kendaraan tersebut tidak perlu ditarif, tapi bisa ditetapkan dan dihitung secara rata-rata antara waktu proses di saat kondisi bandara senggang atau sibuk.
"Jika ada kendaraan yang memang tidak parkir tapi karena sesuatu dan lain hal waktu maksimal untuk free terlampaui maka dengan berat hati harus tetap membayar di gate keluar," beber dia.
Kemudian, Ridharta juga menyoroti sistem parkir Pelabuhan Gilimanuk. Ia merasa ada sejumlah keanehan ketika kendaraan diwajibkan membayar retribusi parkir yang dipungut oleh Pemkab Jembrana.
"Pertama, fasilitas apa yang disediakan? Bukankah itu adalah kewajiban dari penyelenggara pelabuhan untuk menyiapkan tempat menunggu atau antre sebelum dapat giliran masuk ke kapal?" ungkapnya.
Kedua, lanjut Ridharta, area pelabuhan adalah milik ASDP atau pemerintah pusat, tetapi yang memungut retribusi adalah Pemkab Jembrana. Kemudian, kejanggalan lainnya ketika kendaraan turun dari kapal menuju pintu keluar tidak ditagih membayar apa-apa, tetap kembali dibelokkan masuk ke area Terminal Gilimanuk.
"Mengapa harus masuk ke jalur terminal, bukankah kendaraan tersebut tidak wajib masuk terminal? Keanehan kedua adalah ketika mau keluar dipungut retribusi, fasilitas apa yang disediakan sehingga harus membayar retribusi?" cecar Ridharta heran.
Ia mempertanyakan fasilitas apa yang digunakan pengendara hingga sampai diminta retribusi parkir. Ridharta membandingkan kondisi tersebut tidak terjadi di Pelabuhan Ketapang.
"Jika aturannya memang wajib atau memperbolehkan tentu Pemkab Banyuwangi akan memanfaatkannya karena ini pendapatan yang lumayan besar. Coba kita pikirkan dan renungkan," tandas Ridharta.
Pria Disabilitas Dipaksa Masturbasi saat Live TikTok
Kasus dugaan eksploitasi pria disabilitas mental asal Kecamatan Mengwi, Badung, saat siaran langsung TikTok berbuntut panjang. Tidak hanya perempuan berinisial IRPS, dua orang lainnya berinisial IKGTWK dan IGS turut dipolisikan karena diduga terlibat dalam tayangan bermuatan asusila yang viral di media sosial.
Ketiga terlapor kini menjalani pemeriksaan intensif setelah keluarga korban melapor karena tidak terima anggota keluarganya dijadikan bahan lelucon dan konten vulgar di media sosial.
"Ya, sudah kami limpahkan ke Polres Badung untuk penanganan lanjut di unit terkait. Ada tiga orang terlapor yang diduga terlibat dalam tayangan langsung bermuatan kesusilaan di medsos," kata Kapolsek Mengwi Kompol Anak Agung Gede Rai Darmayasa, Rabu (13/5/2026).
Polisi mengungkap para terlapor diduga aktif memprovokasi korban untuk melakukan tindakan tidak senonoh di depan kamera saat siaran langsung berlangsung. IRPS dan IGS disebut menyuruh korban melakukan masturbasi hingga videonya menyebar luas.
"Para pelaku diduga menyuruh korban melakukan perbuatan asusila di aplikasi TikTok hingga viral ke mana-mana. Perannya ada yang menyiarkan, ada juga yang aktif menyuruh korban melakukan hal yang tidak seharusnya," jelas Rai Darmayasa.
Kasus tersebut pertama kali diketahui keluarga korban setelah rekaman video beredar luas pada Senin (11/5) malam. Keluarga mengaku terpukul karena korban yang memiliki keterbelakangan mental justru dieksploitasi demi konten media sosial.
"Saya awalnya dikirimi tautan video oleh adik saya dan setelah ditonton ternyata benar itu keluarga kami dijadikan konten tidak senonoh. Tetangga juga kasih info, siapa saja orang di video siaran langsung itu," ungkap keluarga korban dalam keterangannya kepada polisi.
Keluarga sempat meminta para terlapor datang dan menyelesaikan persoalan secara baik-baik. Namun, upaya itu gagal karena para terlapor dinilai tidak menunjukkan penyesalan.
"Kami suruh mereka datang, kooperatif, tapi malah terlihat tidak ada rasa penyesalan sama sekali. Karena tidak ada itikad baik, mereka kesannya santai, kami putuskan langsung lapor polisi malam itu juga," tegas kerabat korban.
Akibat kejadian tersebut, kondisi korban disebut sempat terguncang dan trauma. Keluarga memastikan laporan polisi tetap berlanjut agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
"Kondisi kakak saya sempat drop, gemetar badannya karena merasa tertekan dengan kejadian yang menjadikannya bahan lelucon. Kami ingin proses hukum tetap jalan biar nggak ada lagi orang disabilitas yang dieksploitasi demi konten," sambung adik korban.
Sebelumnya, Puspita sempat memberikan klarifikasi dan mengaku tindakannya spontan karena sedang menghadapi banyak masalah pribadi. Ia juga memohon agar kasus tersebut tidak dibawa ke ranah hukum. Terduga pelaku mengaku tidak memberikan uang kepada korban saat siaran langsung berlangsung.
(hsa/nor)










































