detikBali

Demam Piala Dunia di Nyitdah, Bendera Argentina hingga Prancis Berkibar

Terpopuler Koleksi Pilihan

Demam Piala Dunia di Nyitdah, Bendera Argentina hingga Prancis Berkibar


I Dewa Made Krisna Pradipta - detikBali

Bendera negara-negara peserta Piala Dunia berkibar di Nyitdah, Tabanan.
Foto: Bendera negara-negara peserta Piala Dunia berkibar di Nyitdah, Tabanan. (I Dewa Made Krisna Pradipta/detikBali)
Tabanan -

Semarak turnamen sepak bola dunia selalu menghadirkan suasana berbeda di Banjar Kebon, Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, Tabanan. Salah satu tradisi yang paling mencolok adalah pemasangan bendera negara-negara peserta turnamen di sepanjang jalan banjar.

Kelihan Banjar Kebon, Agus Krisna Amertha Yoga, mengungkapkan tradisi ini telah berlangsung lebih dari satu dekade dan menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap perhelatan Euro alias Piala Eropa maupun Piala Dunia.

Awal mula tradisi tersebut dimulai saat gelaran Euro 2012. Kala itu, para pemuda yang tergabung dalam Sekeha Teruna Teruni (STT) berinisiatif memasang bendera negara-negara peserta turnamen sebagai bentuk antusiasme.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua tahun berselang, saat Piala Dunia 2014 berlangsung, pemasangan bendera semakin semarak. "Semangat para pemuda mendapat sambutan positif dari masyarakat sehingga kegiatan terus berlanjut dan akhirnya menjadi tradisi setiap kali ada ajang sepak bola besar dunia," ujar Agus Krisna, saat diwawancarai, Minggu (21/6/2026),

ADVERTISEMENT

Puncak kemeriahan terjadi saat Piala Dunia 2018 di Rusia. Puluhan bendera dengan berbagai ukuran menghiasi pinggir jalan. Sekitar satu kilometer di bahu jalan dipenuhi tiang-tiang khusus yang digunakan untuk memasang bendera negara peserta.

Tidak hanya itu, para pemuda juga membangun posko bertema Piala Dunia di kawasan perbatasan banjar yang menjadi pusat berkumpul dan berdiskusi para pecinta sepak bola.

"Suasana saat itu begitu meriah. Dukungan masyarakat juga sangat besar. Bahkan beberapa warga yang lebih tua meminta para pemuda memasang bendera di depan rumah mereka," tegasnya.

Mengingat ini sebagai apresiasi untuk negara asing, Agus Krisna juga menekankan pihak banjar tetap menjaga semangat nasionalisme. Pihaknya menginstruksikan agar setiap bulan Agustus, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pemasangan bendera Merah Putih harus lebih banyak dan berukuran lebih besar dibandingkan bendera negara lain.

"Jangan sampai ketika bulan kemerdekaan justru bendera Merah Putih sedikit dipasang. Itu tidak boleh, saya wajibkan agar bendera yang dipasang harus lebih banyak dan lebih besar," tegasnya kembali.

Sementara Ketua STT Ardhya Gharini, I Made Bagus Narendra Putra, menjelaskan seluruh proses pemasangan bendera dilakukan secara gotong royong oleh para pemuda.

Kegiatan diawali dengan mencari bambu yang sesuai untuk dijadikan tiang bendera. Bambu ori dipilih karena memiliki batang yang tebal dan kuat sehingga mampu menopang bendera berukuran besar.

Setelah bambu dipersiapkan, para pemuda bersama-sama memasang tiang dan bendera negara jagoan masing-masing. "Walaupun setiap orang memiliki tim favorit berbeda, proses pemasangan tetap dilakukan secara kolektif sebagai bentuk kebersamaan," beber Narendra.

Ukuran bendera yang dipasang pun cukup beragam, mulai dari 3 x 5 meter hingga 7 x 5 meter. Untuk Piala Dunia 2026, mayoritas bendera yang menghiasi Banjar Kebon berasal dari negara-negara unggulan seperti Portugal, Argentina, Jerman, Brasil, Belanda, Spanyol, dan Prancis.

Biaya pembuatan bendera bervariasi, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan bahan yang digunakan. Namun, demi efisiensi, sebagian bendera yang masih layak pakai dari turnamen empat tahun sebelumnya tetap digunakan kembali.

Menariknya, tradisi ini juga mengikuti dinamika kompetisi. Ketika sebuah negara gagal melaju ke babak berikutnya, bendera negara tersebut biasanya akan diturunkan.




(hsa/hsa)










Hide Ads