detikBali

Melihat Anak-anak di Klungkung Berburu Tapel Barong untuk Ngelawang

Terpopuler Koleksi Pilihan

Melihat Anak-anak di Klungkung Berburu Tapel Barong untuk Ngelawang


Sui Suadnyana, Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Anak-anak membeli barong bangkal karya Mangku Merta di Art Shop Amerta Nadi Jaya di Banjar Nyamping, Desa Gunaksa, Klungkung, Bali, Minggu (21/6/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Foto: Anak-anak membeli barong bangkal karya Mangku Merta di Art Shop Amerta Nadi Jaya di Banjar Nyamping, Desa Gunaksa, Klungkung, Bali, Minggu (21/6/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Art Shop Amerta Nadi Jaya di Banjar Nyamping, Desa Gunaksa, Klungkung, ramai didatangi pembeli, terutama anak-anak, di sela-sela rangkaian Galungan dan Kuningan. Mereka berburu barong dan tapel karya Mangku Merta (32), perajin setempat yang menekuni seni ukir sejak 2010.

Sejumlah anak-anak tampak sedang memilih tapel (topeng) barong bangkal pada Minggu (21/6/2026). Mereka memilih tapel untuk dipakai ngelawang serangkaian Kuningan. Mangku Merta pun menjelaskan satu persatu karyanya pada anak-anak itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menentukan kepala barong bangkal atau babi hutan jantan yang diinginkan. Setelah memantapkan hati, mereka menanyakan harga.

Mangku Merta lantas menyebut angka Rp 2,5 juta atas nilai tapel yang dipilih anak-anak itu. Tanpa menawar, anak-anak itu mengumpulkan uang dari sakunya masing-masing. Sebanyak 15 lembar uang warna merah pun terkumpul. Walhasil, kepala barong bangkal buatan Mangku Merta pun terjual.

ADVERTISEMENT

Karya Mangku Merta memang laris manis pada musim Galungan dan Kuningan. Terlebih, lelaki berusia 32 tahun itu tak mematok harga tinggi untuk karya-karyanya. Harga tapel barong yang dijual Mangku Merta kepada anak-anak itu bisa jauh lebih tinggi di pasaran. Mangku Merta hanya mengambil untung Rp 500 ribu dari harga jual tapel barong seharga Rp 2,5 juta itu.

"Kalau saya yang penting anak-anak senang. Karena yang mahal itu bahan-bahannya. Seperti cat akrilik harganya Rp 1 juta, terus kayu Rp 500 ribu, juga rambutnya dari ijuk juga beli. Itu modalnya Rp 2 jutaan," jelas Merta.

Namun, bagi Mangku Merta, momen Galungan dan Kuningan kini tidak seramai dibandingkan sebelumnya. Ia menilai, hal itu disebabkan oleh kenaikan harga bahan pokok. Semua harga bahan pangan naik sehingga kemampuan masyarakat untuk membeli mainan barong menurun.

"Jadi tidak seramai dahulu. Sekarang semua naik. Jadi uang yang ada difokuskan buat membeli kebutuhan pokok dahulu. Bukan untuk beli mainan barong," jelasnya.

Modal Cinta dan Imajinasi

Mangku Merta sudah memiliki kemampuan untuk membuat berbagai jenis seni ukur dan menjualnya hingga ratusan pieces sejak 2010. Karya Mangku Merta sangat beragam, mulai dari barong ketet ukuran 110-115 sentimeter (cm), tapel, ogoh-ogoh, arca hingga variasi lamak dari pis bolong.

Karya termahal Mangku Merta adalah tapel barong bangkal seharga Rp 10 juta. Tapel itu dibuat menggunakan permata dan perada emas.

"Ini yang mahal bahannya. Cat emasnya saja khusus. Per kotak harganya Rp 13 juta. Itu bisa buat bikin lima tapel," jelasnya.

Mangku Merta membuat tapel kecil menggunakan kayu kenanga. Sedangkan untuk ukuran besar, ia memilih kayu randu atau kayu pule. Selain lebih keras, kayu pule juga dipercaya memberi kesan angker.

Mangku Merta mendapatkan ilmu seni ukir kayu, khususnya dalam pembuatan tapel barong, hanya bermodalkan cinta dan imajinasi. Pria lulusan sekolah dasar (SD) itu awalnya membuat tapel barong untuk keperluan diri sendiri untuk ngelawang.

"Saya hanya tamatan SD. Awalnya buat sendiri untuk dimainkan waktu ngelawang. Buatnya mengandalkan imajinasi dan ingatan. Tidak ada guru. Apalagi YouTube. Belum ada dahulu di 2008 itu belum tahu ada begitu," terang Mangku Merta.




(hsa/hsa)











Hide Ads