Korban tewas akibat serangan rudal dan drone Rusia ke Ukraina kembali bertambah menjadi 27 orang. Otoritas Ukraina menyatakan akan membalas serangan Rusia yang menghancurkan sejumlah gedung apartemen tersebut.
Dilansir dari detikNews, ledakan mulai bergema pada Rabu malam hingga Kamis (2/7/206) dini hari ketika rudal dan drone Rusia menghujani daerah pemukiman di pusat kota Kyiv. Kepala administrasi militer kota, Tymur Tkachenko, mengatakan 27 orang tewas dan 91 terluka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan pasukannya akan membalas serangan semalam. Hal itu diungkapkan Zelensky saat memeriksa sebuah blok apartemen yang sebagian hancur.
Sementara itu, diplomat tertinggi Uni Eropa mengusulkan sanksi baru terhadap Moskow. Zelensky juga mendesak Amerika Serikat (AS) agar mendapatkan lisensi untuk memproduksi rudal pertahanan udara Patriot.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk serangan Rusia dan mengulangi seruan gencatan senjata. Terlebih, serangan tersebut mengorbankan warga sipil.
"Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di mana pun terjadi merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan harus segera dihentikan," kata Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric.
Di sisi lain, Rusia bersumpah untuk meningkatkan tekanan lebih lanjut terhadap Kyiv dan tetap berpegang pada retorika tanpa kompromi.
Sebelumnya, serangan rudal dan drone Rusia tersebut menghancurkan gedung-gedung apartemen di Kyiv. Serangan ini terjadi beberapa jam setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa Moskow sedang mempersiapkan serangan besar-besaran.
Rusia sendiri rutin meluncurkan rudal dan drone ke kota-kota Ukraina, termasuk Kyiv, selama invasi lebih dari empat tahunnya. Perang ini disebut-sebut menjadi konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!
(iws/iws)

