Memanasnya konflik antara AS-Israel dan Iran membuat ribuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali di Timur Tengah ikut dalam radar pemantauan pemerintah daerah. Total ada 2.490 PMI Bali yang tercatat bekerja di kawasan tersebut pada 2025.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Bali Ida Bagus Setiawan mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan BP3MI serta Dinas Ketenagakerjaan kabupaten/kota untuk memastikan kondisi para pekerja migran.
"Kalau kaitannya dengan hubungi langsung kami belum bisa karena buka kami lansung tapi kita coba teman-teman kabupaten/kota dan BP3MI kondisi update seperti apa," kata Setiawan ditemui di Kantor Disnaker Bali, Selasa (3/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga saat ini, belum ada laporan PMI asal Bali yang terdampak serangan dari kedua pihak.
Berdasarkan data 2025, PMI Bali tersebar di 11 negara tujuan di Timur Tengah, di antaranya Turki, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, Oman, Qatar, Bahrain, Lebanon, dan Mesir. Pekerja terbanyak berasal dari Jembrana dan Buleleng, dengan tujuan dominan ke Turki sebagai spa terapis dan sektor hospitality.
"Tapi ini kita sepakati data 2025 terbanyak Turki secara pekerjaan spa terapis dan hospitality," sebut Setiawan.
Ia menambahkan, tidak ada PMI Bali yang tercatat bekerja di Iran pada 2025. Data terakhir menunjukkan hanya satu orang pada 2024.
Disnaker Bali bersama BP3MI juga telah menyebarkan informasi kontak perwakilan pemerintah Indonesia di masing-masing negara tujuan agar keluarga dapat memantau kondisi PMI.
"Sudah ada tindaklanjut dari kita di daerah untuk mendapatkan data ari bawah dulu dan juga mendapatkan petunjuk data valid dari pusat," tandasnya.
Pemantauan serupa juga dilakukan Pemerintah Kabupaten Karangasem. Kepala Disnakertrans Karangasem I Ketut Mertadina menyebut ada 18 PMI asal Karangasem yang bekerja di Timur Tengah, yakni sembilan orang di Uni Emirat Arab, tujuh orang di Kuwait, dan dua orang di Arab Saudi.
"Kami masih terus berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait untuk memastikan kondisi PMI di sana aman," kata Mertadina.
Pihaknya juga mengimbau para PMI mencatat kontak penting seperti KBRI terdekat serta terus berkoordinasi dengan BP2MI, KBRI, LPK, dan keluarga di daerah.
"Kami akan terus upayakan untuk mendapatkan informasi sekecil apapun terkait kondisi PMI Karangasem di Timur Tengah," ujarnya.
"Saya berharap konflik di wilayah Timur Tengah segera mereda dan situasi kembali aman seperti sebelumnya. Sehingga para pekerja migran di sana merasa aman," harap Mertadina.
(dpw/dpw)

