Empat kecamatan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilanda bencana kekeringan sejak Juni lalu. Sebanyak 2.370 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut terdampak.
"Ada 15 dusun yang terdampak, sekitar 2.370 KK," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat, Toni Hidayat, Kamis (2/7/2026).
Wilayah terdampak meliputi Desa Giri Tembesi dan Desa Banyu Urip di Kecamatan Gerung; Desa Kuripan Selatan (Kecamatan Kuripan); Desa Sekotong Barat dan Desa Cendi Manik (Kecamatan Sekotong), serta Desa Persiapan Penanggak (Kecamatan Batulayar). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat telah menetapkan status siaga bencana kekeringan yang berlaku hingga 31 Agustus 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Toni, status tersebut akan dievaluasi secara berkala. Apabila dampak kekeringan semakin meluas, status penanganan berpotensi dinaikkan menjadi tanggap darurat bencana.
"Sambil kami evaluasi. Kalau memang meluas, statusnya bisa dinaikkan menjadi tanggap darurat," imbuh Toni.
Toni mengatakan sebanyak 124 ribu liter air bersih telah disalurkan kepada warga terdampak. BPBD Lombok Barat, dia berujar, menggandeng sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mendistribusikan air bersih bagi warga terdampak kekeringan.
Saat ini, Lombok Barat belum memiliki anggaran khusus untuk penanganan kekeringan. Toni mengatakan anggaran distribusi air bersih baru dapat dialokasikan apabila status bencana ditingkatkan menjadi tanggap darurat.
Toni mengimbau masyarakat agar menghemat penggunaan air. Terlebih, bencana kekeringan tahun lalu sempat meluas hingga menjangkau 27 desa dan berlangsung hingga September.
"Kami berharap warga efisien atau irit dalam menggunakan air," pungkasnya.
(iws/iws)

