Ribuan krama Desa Adat Buleleng tumpah ruah mengikuti prosesi melasti bertepatan dengan purnama kedasa atau purnama yang jatuh pada bulan kesepuluh menurut perhitungan kalender Balii. Iring-iringan berjalan sejauh 4 kilometer (km) menuju Pura Segara Buleleng.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, mengungkapkan krama memboyong berbagai benda sakral untuk disucikan ke laut. Termasuk 89 sarad dan 46 kotak ampilan dari seluruh dadia di wilayah Desa Adat Buleleng.
"Iring-iringan melasti diawali dengan sarad dari Pura Ciwa Sapujagat. Maknanya sebagai pembersih sekaligus pengawal bagi sarad lainnya," tutur Sutrisna, Kamis (2/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiba di pesisir, melasti dilanjutkan dengan prosesi mekobok. Warga yang mengusung sarad, kotak ampilan, dan sarana lainnya berjalan menembus air laut. Setiap langkah yang diayun membawa makna simbol penyucian yang menyatu dengan alam semesta.
Sutrisna menuturkan prosesi melasti telah dimulai sejak pagi hari dengan mepiuning atau memohon doa restu di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Buleleng. Dua kulkul di sisi utara dan selatan jaba tengah Pura Desa dibunyikan secara bergantian oleh krama Tridatu.
Tradisi melasti di Desa Adat Buleleng tergolong unik karena waktu pelaksanaannya berbeda dengan melasti di desa adat lainnya. Umumnya, umat Hindu di Bali melaksanakan melasti sebelum Hari Raya Nyepi. Sedangkan, prosesi melasti di Desa Adat Buleleng digelar setelah Nyepi, tepat saat Purnama Kedasa.
Menurut Sutrisna, penentuan waktu ini bukan tanpa alasan. Purnama Kedasa juga dianggap sebagai hari peleburan segala kekotoran batin (mala). Adapun, Purnama Kedasa kerap dikaitkan dengan kata kedas yang dalam bahasa Bali berarti bersih.
"Dulu melasti sempat dilaksanakan saat Purnama Kesanga, namun terjadi bencana di sekitar desa adat. Akhirnya melasti kembali dilaksanakan saat Purnama Kedasa, sesuai dengan lontar Sundarigama dan ajaran Mpu Kuturan," imbuhnya.
(iws/iws)










































