Suasana khusyuk menyelimuti titik nol, pusat Kota Semarapura, Klungkung, Bali, tepat pada perayaan Hari Raya Kuningan, Sabtu (27/6/2026). Sejak pagi buta, ribuan umat Hindu yang mengenakan pakaian adat bernuansa putih dan kuning tampak memadati kawasan simpang empat Catus Pata Semarapura untuk melangsungkan persembahyangan bersama.
Pantauan di lokasi, kepulan asap dupa membumbung tinggi di sekitar patung Kanda Pat Sari yang berdiri kokoh di tengah perempatan agung. Kilauan wastra (kain pembungkus patung) kuning-putih serta tumpukan sesajen tumpeng kuning khas Kuningan melengkapi estetika spiritual di jantung bumi serombotan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun arus lalu lintas di sekitar simpang dialihkan sementara oleh petugas, ribuan warga silih berganti berdatangan, duduk bersila dengan tertib di atas aspal jalan, larut dalam lantunan bait mantra dan doa keselamatan.
Alasan Catus Pata Menjadi Pusat Persembahyangan
Mengapa kawasan simpang empat ini selalu menjadi magnet dan pusat spiritual warga saat hari besar Hindu?
Secara kosmologi spiritual Bali, perempatan agung atau Catus Pata bukanlah sekadar titik pertemuan arus lalu lintas biasa. Catus Pata dipercaya sebagai poros spiritual desa atau wilayah (nol kilometer) tempat bertemunya empat kekuatan mata angin.
Di tempat ini pula berdiri Patung Kanda Pat Sari yang melambangkan empat saudara spiritual yang menjaga manusia dari lahir hingga akhir hayat.
Melakukan persembahyangan di Catus Pata dipercaya dapat menetralisir energi negatif (bhuta kala) menjadi energi positif (dewa yang), sekaligus memohon kesejahteraan langsung di pusat kiblat kota.
Selain nilai filosofis agama, pemilihan lokasi ini memiliki ikatan emosional dan sejarah yang sangat kuat bagi masyarakat Klungkung. Simpang empat Semarapura adalah saksi bisu dari Perang Puputan Klungkung 1908.
Di titik inilah, tepat di depan Pemedal Agung, Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe beserta keluarga dan rakyatnya gugur demi mempertahankan kedaulatan tanah kelahiran melawan kolonial Belanda.
"Jadi tempat ini adalah poros yang menjadi sumber anugerah. Seluruh umar Hindu di Kabupaten Klungkung akan datang ke sini untuk meminta keselamatan. Di sinilah dewi Durga menjelma menjadi Dewi Uma di Catus Pata ini," ujar Sekretaris Desa Adat Semarapura, Putu Yudhi Pasek Kusuma pada detikBali di area persembahyangan.
Tempat ini sudah ramai didatangi warga sejak pukul 4 dini hari. Di Hari Raya Kuningan, warga berdatangan sampai pukul 12.00 Wita. Persembahyangan yang berlangsung hingga siang hari ini berjalan dengan sangat khidmat, lancar, dan aman.
Kehadiran ribuan umat di tengah simpang empat bersejarah ini seolah mempertegas bahwa Catus Pata Semarapura akan selalu menjadi simbol bersatunya spiritualitas, adat, dan penghormatan terhadap sejarah pahlawan Klungkung.
(nor/nor)

