detikBali
detikBali-Nusra Awards 2026

Dari Sekepal Nasi Men Django, Lahir Ikon Kuliner Bali Bernama Nasi Jinggo

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026
detikBali-Nusra Awards 2026

Dari Sekepal Nasi Men Django, Lahir Ikon Kuliner Bali Bernama Nasi Jinggo


Rizki Setyo Samudero - detikBali

Ni Ketut Ngasti atau dikenal Men Django pelopor nasi jinggo Bali. (Dok. putra sulung Men Django, Henry Alexie Bloem)
Foto: Ni Ketut Ngasti atau dikenal Men Django pelopor nasi jinggo Bali. (Dok. putra sulung Men Django, Henry Alexie Bloem)
Denpasar -

Ni Ketut Ngasti atau dikenal Men Django meninggal dunia di usia 90 tahun pada 9 Juni 2026. Ia meninggalkan warisan kuliner Nasi Jinggo yang saat ini menjadi ikon Bali.

Di balik terkenalnya Nasi Jinggo, ada cerita Men Django dalam memperbaiki ekonomi keluarga kecilnya dengan sekepal nasi dibungkus daun pisang itu. Putra sulungnya, Henry Alexie Bloem atau Django menceritakan perjuangan sang ibu menghidupi kedua anaknya pada masa sulit sekitar tahun 1970-an di Gang Merak, Sesetan, Denpasar Selatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Men Django merupakan istri kedua dari seorang mantan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang memilih menjadi TNI setelah Indonesia merdeka. Ayah Henry sebelumnya sudah menikah dengan perempuan di Jakarta sebelum dipindah tugas ke Bali.

Ketika pindah ke Bali, Men Django dikaruniai dua anak yakni Henry dan adiknya, Kadek Epy Dwipayani. Namun, pernikahan Men Djenggo dan suami tidak berlangsung lama. Ayah Henry memilih bersama istri pertamanya dan meminta Henry ikut hidup dengannya. Sedangkan, Men Djenggo bersama Epy.

ADVERTISEMENT

Setelah itulah Men Django berpikir bagaimana caranya menghidupi anak tanpa sosok suami. Dengan dasar pintar memasak, Men Djenggo memutuskan berjualan nasi bungkus -waktu itu belum ada nama-.

"Walaupun yang satu ikut bapaknya yang satu sama saya, saya harus tetap bertahan hidup dong," kata Men Django ditirukan Henry saat diwawancarai detikBali di Denpasar, Selasa (23/6/2026).

Henry menuturkan ia melihat ibunya bangun setiap pukul 2 pagi untuk mengguling babi dan lauk lainnya seperti ayam sisit dan daging sapi. Prosesnya membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Kemudian, pukul 6-7 pagi akan dijual oleh pedagang yang ia rekrut untuk berjualan di sekitar Pelabuhan Benoa.

Men Django menjual ke pedagang keliling dengan harga Rp 50 per bungkus. Setiap hari, ia bisa membungkus sekitar 70-100 nasi dan berkembang sampai 200-300 bungkus. Bahkan sering menerima pesanan dari kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Benoa saat itu hingga lebih dari 400 nasi bungkus.

Lambat laun jualan nasi bungkus Men Django laris manis dan diketahui mulut ke mulut. Bila ada yang tanya itu nasi dari mana, masyarakat akan menyebut nasinya Men Django atau ibunya Django -nama kecil Henry-. Dari situ lah mulai mengenal istilah Nasi Django yang kemudian dikenal sampai hari ini dengan sebutan Nasi Jinggo.

"Kehidupan ekonomi kita sudah membaik dan saya mulai makan enak setelah dia mulai jualan," ujar Henry.

Pada tahun 1980-an, Men Django memutuskan tidak melanjutkan berjualan nasi lagi karena urusan keagamaan dan adat Bali. Ia melanjutkan menjadi supplier babi potong untuk dijual ke rumah potong di Denpasar yang kemudian babi potong tersebut dijual oleh Men Django di seputaran Kedonganan, Jimbaran, Pedungan, dan seputaran Sesetan.

Henry mengenang bahwa ibunya merupakan sosok pekerja keras. Hasil jerih payahnya dibelikan sejumlah sawah dan tanah yang diwariskan ke kedua anaknya. Bahkan, hasil dari berjualan nasi dan daging babi dikumpulkan untuk menyekolahkan anaknya sampai sukses.

Kedua anaknya saat ini melanjutkan di bidang kuliner seperti sang ibu. Henry merupakan chef terkenal di Indonesia dan mantan Presiden Asosiasi Chef Indonesia. Sedangkan, Epy hingga kini memiliki bisnis bubur Bali.

"Pastinya secara tidak langsung mengali dari situ (ibu) kan. Bagaimana pun dia merasa sedikit bangga dengan profesi saya yang sebagai chef," ungkapnya.

"Ya dia lihat saya di TV ya senang lah pasti orang tua melihat 'oh dari saya jualan nasi bungkus bisa ngelihat anak saya seperti ini'," sambungnya.

Henry mengungkapkan bahwa sosok ibunya penuh inspiratif. Kegigihan dan perjuangan Men Django di kuliner selain menurun ke anaknya juga menular ke saudara-saudaranya. Hampir semua saudaranya sukses berjualan nasi babi guling di seputar Denpasar dan Badung.

Men Django juga mengajarkan kepada anak-anaknya sejak kecil untuk berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Meskipun setelah sukses berjualan nasi dan daging babi, kedua anaknya tidak dimanjakan.

"Meme (ibu) itu orang bisa dibilang pelit meskipun kondisi ekonomi sudah membaik. Dia selalu mengajarkan ke anaknya kalau mau sesuatu harus kerja dulu, misalkan mau mainan harus nyapu dulu, cuci piring dulu," kenang Henry.

Asal-usul Nama Nasi Jinggo Masih Diperdebatkan

Nasi Jinggo yang saat ini dikenal sebagai kuliner khas Bali sudah berevolusi seiring perkembangan zaman. Culinary storyteller, Ade Putri Paramadita, menjelaskan bahwa ciri khas Nasi Jinggo pada awalnya bukan terletak pada bumbu yang kuat, melainkan pada porsi kecil dengan lauk yang kaya protein.

"Seperti halnya makanan bisa berevolusi karena ketersediaan bahan, nah nasi jinggo berevolusi karena namanya orang usaha ya pasti pengen punya sesuatu yang khas. Jadi pasti bumbunya beda sedikit atau ada tambahan saus yang lain," jelas Ade.

Menurut Ade, pada rentang 1970 hingga 1990-an mulai bermunculan banyak penjual nasi jinggo dengan racikan masing-masing. Kondisi tersebut membuat asal-usul maupun sosok pelopor Nasi Jinggo masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

Fenomena itu, lanjutnya, lazim terjadi pada kuliner populer di berbagai daerah di Indonesia. Ketika suatu makanan digemari masyarakat, banyak pelaku usaha kemudian membuat versi serupa, baik dengan resep yang sama maupun hasil modifikasi.

"Yang jelas nas jinggo sendiri atau yang konon dibilang aslinya harusnya jingo ini masih jadi perdebatan," ujarnya.

Ade juga mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusurannya, istilah 'nasi jinggo" mulai dikenal luas sekitar 1995, ketika banyak pedagang menjajakan makanan tersebut ke para backpacker di Bali.

"Jingo itu karena harganya sih dulu Rp 1.500 di tahun itu. Sehingga kita sangat percaya bahwa nasi jingo namanya itu asalnya dari bahasa Hokkien, jingo itu artinya Rp 1.500 gitu," terang Ade.

Kini Jadi Simbol Gaya Hidup

Akademisi Sosiologi Universitas Udayana, Ni Made Anggita Sastri Mahadewi, menjelaskan secara sosiologis tren konsumsi nasi jinggo saat ini menunjukkan adanya fenomena peleburan batas kelas sosial dan komodifikasi hidup malam.

Menurut Anggi, konsep habitus dan modal simbolik dari Piere Bourdieu sangat tepat untuk digunakan dalam melihat fenomena pergeseran kelas sosial pada nasi jinggo.

"Dulu, makan nasi jinggo adalah kebiasaan kelas bawah. Namun sekarang ketika kelas atas ikut mengonsumsinya, nasi jinggo telah mengalami komodifikasi dan beralih fungsi menjadi modal simbolik," kata Anggi kepada detikBali.

Ia menjelaskan, bagi sebagian kalangan menengah ke atas, mengonsumsi Nasi Jinggo bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga untuk menunjukkan kesan merakyat, estetika lokal, dan nostalgia.

Selain itu, Anggita mengaitkan fenomena tersebut dengan teori The Third Place dari Ray Oldenburg. Menurutnya, lapak-lapak nasi jinggo yang ramai pada malam hari merupakan contoh ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial.

"Di mana masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul secara egaliter, mengobrol dan membangun solidaritas sosial tanpa sekar kelas," ujar Anggi.

Anggit menjelaskan dari sudut pandang sosiologi ekonomi dan fungsionalisme ada tiga alasan utama mengapa nasi jinggo memiliki daya tahan yang tinggi di tengah masyarakat.

Pertama, nasi jinggo dapat beradaptasi dan merespons terhadap situasi ekonomi. Menurutnya, nasi jinggo adalah jaring pengaman sosial ekonomi.

"Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, nasi jinggo menawarkan fungsi keterjangkauan. Ketika uang saku atau pendapatan menipis nasi jinggo selalu ada sebagai solusi rasional," terangnya.

Kedua, nasi jinggo terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman tanpa meninggalkan identitasnya. Jika dahulu isinya didominasi nasi, mi, ayam sisit, dan sambal, kini variasi lauk semakin beragam, mulai dari daging sapi, babi, hingga ikan.

"Bahkan bentuknya disesuaikan untuk kebutuhan modern seperti nasi jinggo berwadah mika saat rapat. Namun elemen intinya yaitu porsi ringkas dan sambal pedasnya tetap dipertahankan," ungkap dia.

Menurut Anggita, daya tahan Nasi Jinggo tidak hanya berasal dari cita rasanya, tetapi juga dari kemampuannya beradaptasi dengan perubahan struktur sosial masyarakat Bali.

"Tanpa kehilangan akarnya sebagai makanan yang merakyat," pungkas Anggi.




(nor/nor)











Hide Ads
LIVE