detikBali

Jejak Panjang Arak Bali: Dari Tradisi ke Produk Bernilai

Terpopuler Koleksi Pilihan

Jejak Panjang Arak Bali: Dari Tradisi ke Produk Bernilai


Wibhi Leksono - detikBali

Ida Ayu Puspa Eny sosok di balik arak Iwak Arumery
Arak Bali. (Foto: Wibhi Leksono/detikBali)
Denpasar -

Bagi sebagian masyarakat Bali, arak bukan sekadar minuman. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif, diwariskan dari dapur ke dapur, dari generasi ke generasi, sebagai ramuan yang dipercaya menjaga tubuh tetap hangat dan membantu meredakan penyakit ringan.

Di tengah perubahan zaman, arak Bali perlahan menemukan jalannya menuju ruang yang lebih luas. Dari produksi rumahan yang terbatas, kini ia mulai bergerak menjadi produk yang lebih terstandar dan memiliki nilai ekonomi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan itu juga dialami Ida Ayu Puspa Eny. Ia mulai mengenal arak bukan dari industri, melainkan dari fungsi kesehariannya sebagai bagian dari pengobatan tradisional.

"Iwa sebenarnya sudah dimulai dari tahun 2009, tapi hanya untuk lingkungan keluarga saja," ujarnya saat diwawancarai, Rabu (8/4/2026).

ADVERTISEMENT

Saat itu, arak Bali belum memiliki landasan hukum yang jelas. Produksinya berjalan secara terbatas, dan para petani berada dalam posisi yang rentan.

Perubahan baru terasa ketika Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 terbit. Regulasi ini membuka ruang legal bagi produksi dan distribusi arak, sekaligus memberi perlindungan bagi para petani.

"Dari situ kami mulai bergabung untuk melegalkan brand Iwa," kata Puspa.

Langkah itu tidak hanya soal legalitas, tetapi juga membuka peluang baru. Puspa mulai melibatkan sekitar 22 keluarga petani arak di Karangasem sebagai mitra binaan. Para petani tetap memproduksi bahan baku, sementara proses lanjutan dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual.

"Yang saya punya ada 22 keluarga binaan, petani arak yang kita dampingi," ujarnya.

Arak dalam Tradisi Usada

Di balik geliat industrinya, arak Bali menyimpan fungsi yang lebih dalam. Dalam praktik usada Bali, arak kerap menjadi bagian dari ramuan pengobatan tradisional.

Ia digunakan sebagai campuran obat herbal, penghangat tubuh, hingga dipercaya membantu meredakan batuk, flu, dan sariawan. Bagi banyak keluarga, penggunaan ini bukan hal baru, melainkan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.

Puspa pun tumbuh dengan pemahaman serupa. Sejak kecil, arak hadir dalam keseharian sebagai bagian dari pengobatan rumahan-mulai dari obat kumur hingga campuran ramuan untuk menjaga kondisi tubuh.

Menjaga Rasa, Menaikkan Standar

Ida Ayu Puspa Eny sosok di balik arak Iwak ArumeryIda Ayu Puspa Eny sosok di balik arak Iwak Arumery Foto: Wibhi Leksono/detikBali

Meski lekat dengan nilai budaya, arak Bali sempat terjebak dalam stigma sebagai produk tradisional dengan kualitas yang belum terstandar. Tanpa perlindungan hukum yang kuat, nilai jualnya rendah dan posisi tawar petani pun terbatas.

"Dulu hanya di kalangan itu saja. Sekarang dengan adanya aturan, petani mulai lebih terlindungi," jelasnya.

Seiring hadirnya regulasi, proses produksi mulai berkembang. Arak yang dihasilkan petani tidak lagi berhenti di tahap awal, melainkan melalui pengolahan lanjutan seperti distilasi dan pematangan.

Untuk menghasilkan produk tertentu, proses ini bahkan membutuhkan waktu hingga dua tahun.

"Kalau di Iwak kita butuh minimum dua tahun," kata Puspa.

Di saat yang sama, inovasi juga dilakukan. Varian baru berbasis buah dan rempah dikembangkan, tanpa meninggalkan bahan alami sebagai identitas utama. Arak Bali tetap berpijak pada sumbernya-nira lontar, kelapa, atau palma yang difermentasi dan disuling secara tradisional.

Menariknya, di balik keseriusannya mengembangkan produk, Puspa justru tidak mengonsumsi arak. "Saya bukan peminum," ungkapnya.

Di Antara Tradisi dan Persepsi

Langkah arak Bali menuju industri yang lebih modern bukan tanpa tantangan. Salah satu yang paling terasa adalah persepsi masyarakat yang kerap mengaitkannya dengan konsumsi berlebihan.

Padahal, dalam konteks budaya Bali, arak memiliki peran yang jauh lebih luas. Ia hadir dalam upacara keagamaan, sekaligus menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional.

Kini, dengan dukungan regulasi, keterlibatan koperasi, serta berbagai inovasi, arak Bali mulai bergerak lebih terarah. Namun, jalan ke depan masih ditentukan oleh banyak hal-mulai dari kualitas produksi, konsistensi pelaku usaha, hingga sejauh mana pasar dapat menerima wajah baru arak Bali.




(dpw/dpw)











Hide Ads