Kedua anak Ni Ketut Ngasti atau Men Djenggo kenang masa-masa sang ibu menjual nasi jinggo di area Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Putra sulung Men Djenggo, Henry Alexie Bloem, menceritakan perjuangan Men Djenggo setiap dini hari untuk menyiapkan ratusan bungkus nasi setiap hari.
"Jam 1 malam dia bangun mengguling babi, jam 7 nasi 100-200 bungkus dengan lauk pilihan. Kemudian dibawa tiga orang kayak pengepul gitu yang dijual di Pelabuhan Benoa," kata Henry saat ditemui saat proses ngaben ibunya di Krematorium Santha Yana, Denpasar, Selasa (12/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Henry, nasi jinggo mulai diracik Men Djenggo pada era 1970-an sebagai makanan bagi para pekerja di Pelabuhan Benoa. Bahkan, dalam sehari, Men Djenggo kerap menerima pesanan hingga 400 bungkus nasi untuk kebutuhan kapal pesiar.
"Tapi lauknya bukan kayak sekarang. Zaman dulu ibu itu jualan babi guling. Aslinya nasi jinggo itu babi guling tapi ada pilihannya juga, tapi yang utama babi guling," jelas henry.
Men Djenggo kala itu menjual nasi jinggo Rp 50 per bungkus. Namun pada tahun 1980-an, dia sudah tidak berjualan lagi karena fokus pada kegiatan keagamaan.
"Jadi singkat cerita seperti itu, nasi jinggo yang mulai terkenal di Denpasar (tahun 1980) kan lauknya beda," sebut mantan Presiden Indonesian Chef Asociation itu.
Henry mengaku banyak dorongan dari rekan-rekan chef untuk mematenkan nama ibu menjadi pencetus awal nasi jinggo. Namun, ia merasa tidak perlu karena akan menimbulkan konflik ke depannya.
Sementara itu, anak kedua Men Djenggo, Kadek Epy Dwipayani, menuturkan semasa hidup sang ibu mencontohkan arti dari kerja keras. Kerja keras Men Djenggo kini diwariskan oleh kedua anaknya yang juga aktif di bidang kuliner.
"Saya di lawar Bali, kalau kakak sudah chef jadi sudah nasional dia. Jadi kita memang keluarga kuliner," jelasnya.
Pantauan detikBali, suasana prosesi kremasi Men Djenggo dihadiri keluarga besar, saudara dan kerabat dekat. Proses kremasi berjalan dengan khidmat.
Sebelumnya, kabar kepergian Men Djenggo diunggah oleh Henry melalui akun Instagram @henryalexiebloem. Dalam unggahan tersebut, Henry menampilkan foto kenangan dan momen kebersamaan dengan ibunda sejak kanak-kanak hingga dirinya menjadi chef terkenal.
"Selamat jalan meme (ibu), berbahagia lah di sana. Karyamu akan selalu dicari dan dikenang. Men Djenggo, pencipta nasi jinggo," tulis Henry dikutip detikBali, Minggu (10/5).
Kolom komentar pada unggahan tersebut dibanjiri ucapan belasungkawa dari rekan-rekan sesama chef dan sejumlah tokoh publik. Termasuk Ni Luh Djelantik hingga Chef Juna.
"Turut berduka yang sedalamnya atas berpulangnya Ibunda tercinta," tulis Ni Luh Djelantik.
"My Deepest Condolences Brother. May she Rest In Peace," ucap Chef Juna.
(nor/nor)










































