Proses kremasi serangkaian Ngaben Ni Ketut Ngasti atau Men Djenggo, pencipta nasi jinggo Bali, mulai dilaksanakan. Men Djenggo dikremasi di Krematorium Santha Yana, Denpasar, Selasa (12/5/2026).
Pantauan detikBali di lokasi, lantunan kidung mengiringi proses pemandian jenazah Men Djenggo. Tampak kedua anaknya, para cucu, hingga keluarga besar turut mendampingi proses tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putra sulung Men Djenggo, Henry Alexie Bloem, tampak terus melihat wajah sang ibu dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca setiap melihat ibunda.
Di samping Henry ada adiknya, Kadek Epy, yang juga setia mendampingi ibu dalam proses pemandian. Tangan Henry dan Epy juga tampak menggenggam tangan Men Djenggo.
Sebagai informasi, Ni Ketut Ngasti atau Men Djenggo meninggal dunia pada usia 90 tahun. Men Djenggo dikenal sebagai pencipta makanan khas Bali, nasi jinggo, yang mulai populer sejak 1980-an.
Djenggo sebenarnya merupakan nama panggilan masa kecil dari Henry Alexie Bloem. Henry sendiri merupakan mantan Presiden Indonesian Chef Association (ICA) sekaligus putra dari Men Djenggo.
"Jam 1 malam dia bangun mengguling babi, jam 7 nasi 100-200 bungkus dengan lauk pilihan. Kemudian dibawa tiga orang kayak pengepul gitu yang dijual di Pelabuhan Benoa," kata Henry saat ditemui di Krematorium Santha Yana, Denpasar, Selasa (12/5/2026).
Proses kremasi Men Djenggo di Krematorium Santha Yana, Denpasar, Selasa (12/5/2026). (Rizki Setyo) |
Menurut Henry, nasi jinggo mulai diracik Men Djenggo pada era 1970-an sebagai makanan bagi para pekerja di Pelabuhan Benoa. Bahkan, dalam sehari, Men Djenggo kerap menerima pesanan hingga 400 bungkus nasi untuk kebutuhan kapal pesiar.
"Tapi lauknya bukan kayak sekarang. Zaman dulu ibu itu jualan babi guling. Aslinya nasi jinggo itu babi guling tapi ada pilihannya juga, tapi yang utama babi guling," jelas henry.
Men Djenggo kala itu menjual nasi jinggo Rp 50 per bungkus. Namun pada tahun 1980-an, dia sudah tidak berjualan lagi karena fokus pada kegiatan keagamaan.
"Jadi singkat cerita seperti itu, nasi jinggo yang mulai terkenal di Denpasar (tahun 1980) kan lauknya beda," sebut mantan Presiden Indonesian Chef Asociation itu.
Sementara itu, anak kedua Men Djenggo, Kadek Epy Dwipayani, menuturkan semasa hidup sang ibu mencontohkan arti dari kerja keras. Kerja keras Men Djenggo kini diwariskan oleh kedua anaknya yang juga aktif di bidang kuliner.
"Saya di lawar Bali, kalau kakak sudah chef jadi sudah nasional dia. Jadi kita memang keluarga kuliner," jelasnya.
(nor/nor)











































