detikBali

Gaya Jualan Barbar Kober Malah Bikin Ciloknya Laris di Sembalun

Terpopuler Koleksi Pilihan

Gaya Jualan Barbar Kober Malah Bikin Ciloknya Laris di Sembalun


Sanusi Ardi W - detikBali

Kober alias Saril Rasyidi ketika berjualan di pinggir jalan jalur Sembalun, Lombok Timur, NTB, Sabtu (16/5/2026)
Foto: Kober alias Saril Rasyidi ketika berjualan di pinggir jalan jalur Sembalun, Lombok Timur, NTB, Sabtu (16/5/2026). (Sanusi Ardi/detikBali)
Lombok Timur -

Seorang penjual cilok di jalan menuju Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) viral di media sosial (medsos) karena cara promosi yang unik dari konten-konten yang dibuatnya. Hal ini berhasil menyedot perhatian para wisatawan yang melintas.

Kober, sapaan akrab penjual cilok itu, setiap harinya menjual cilok di pinggir jalan tepatnya di dekat pintu masuk Bukit Gedong. Pria kelahiran 1999 tersebut, berasal dari Desa Sapit, Kecamatan Suela.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di medsos, Kober dikenal sebagai penjual cilok yang barbar. Sebab, dia menyapa setiap wisatawan yang melintas dengan cara tidak biasa. Bahkan, banyak videonya mengejar pengunjung yang melintas sembari membawa kursi dan juga dagangannya.

Pria yang bernama asli Saril Rasyidi tersebut, menceritakan awalnya dia membuat konten sejak dua tahun lalu. Saat itu ia direkam oleh temannya kemudian konten tersebut viral di medsos.

ADVERTISEMENT
Kober, penjual cilok di Sembalun.Kober, penjual cilok di Sembalun. (Foto: Sanusi Ardi/detikBali)

"Teman saya dulu yang pertama rekam, dia belinya cuma Rp 5 ribu, dia rekam saya dan kontennya viral pas saya ngomel-ngomel, dari situ kemudian saya akhirnya membuat konten juga, ngamuk-ngamuk ngomel-ngomel gitu dah dan ternyata banyak yang suka," kata Saril alias Kober, ditemui detikBali, Sabtu (16/5/2026).

Menurutnya, tak semua orang bisa diperlakukan sama, Kober harus memilih setiap pengunjung yang melintas untuk disapa dengan ngomel-ngomel seperti setiap konten yang dibuatnya.

"Harus milih-milih juga, kadang kalau orangnya kelihatan sedang tidak mood cukup disapa dengan senyum, tapi kalau orangnya yang senyum duluan baru dah saya keluarkan jurus barbar saya, saya sapa sambil ngomel-ngomel dan kadang memaksa mereka untuk beli cilok saya," ucap Kober.

Meskipun terkesan berjualan sambil ngomel-ngomel, tidak pernah ada pembeli yang tersinggung. Malahan, pembeli merasa terhibur dan tertawa melihat kelakuan kocaknya ketika jualan.

"Mereka terhibur tidak pernah ada yang keberatan dari cara saya jualan," ujar Kober.

Menurutnya, berjualan sambil membuat konten itu berdampak pada hasil penjualan yang meningkat. Banyak pengunjung yang melintas teriak-teriak memanggil namanya.

"Kadang orang yang tidak ingin beli cilok mereka jadi beli, karena sudah kenal saya dari medsos, banyak yang nyapa-nyapa juga, kober-kober mereka bilang," kelekar Kober sembari melayani pelanggan.

Nama Kober dipilih karena sebelum jualan, ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan di Bali dan selalu membeli Mie Kober seusai bekerja. Sehingga setiap media sosialnya hingga ciloknya diberi nama Kober.

Kober menjelaskan, dari hasil membuat konten bisa menjadi tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, selain penghasilan dari menjual cilok. Baik adsense maupun dari hasil endorse.

"Lumayanlah dari hasil konten, tapi untuk saat ini masih lebih besar dari hasil jualan cilok," jelas Kober.

Jika detikers ke Sembalun, Kober berjualan di dekat pintu masuk Bukit Gedong pinggir jalan raya. Ia berjualan mulai dari pukul 08.00 Wita sampai 17.00 Wita.




(hsa/hsa)










Hide Ads