Sejumlah siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tando di Desa Robo, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di bawah pohon mente. Musababnya, sekolah tersebut keterbatasan rombongan belajar atau ruang kelas.
Momen ketika para siswa belajar di bawah pohon itu belakangan viral di media sosial. Warganet menyebut minimnya fasilitas pendidikan tersebut sebagai sebuah ironi. Lokasi sekolah itu dapat ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Labuan Bajo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marta Jaimun, salah satu guru di sekolah tersebut, menceritakan momen ketika mengajar para siswa di bawah pohon. Murid-murid kelas 2 dan kelas 3 belajar di bawah pohon saat cuaca cerah secara bergantian.
"Pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 sering di luar (di bawah pohon) karena mereka sudah lincah membaca," tutur Marta, Sabtu (11/4/2026).
Marta mengatakan KBM di luar kelas tersebut dilaksanakan di bawah pohon mente atau pohon ketapang yang tidak terlalu rindang. Para siswa kerap kepanasan saat hari semakin siang dan terik matahari mulai menyengat.
"Tidak terlalu rindang. Kami pindah-pindah, kadang di bawah ketapang kadang di bawah pohon mente," jelas Marta.
Saat musim hujan, Marta berujar, siswa kelas 2 dan kelas 3 biasanya berbagi satu ruang kelas yang hanya berukuran 5x6 meter. Ruang kelas itu dibangun secara swadaya oleh orang tua murid.
Kondisi ruangan tersebut juga memprihatinkan dengan lantai tanah dan dinding menggunakan seng. Tak ada sekat pembatas antarruangan. Siswa kelas 2 yang berjumlah 15 orang dan siswa kelas 3 sebanyak 10 orang terpaksa belajar pada waktu yang sama di ruangan sempit tersebut.
"Kalau tidak hujan kami gantian (KBM di bawah pohon). Kalau hujan, kami masuk ruangan dan berbagi kelas," imbuh Marta.
Marta mengatakan kegiatan belajar di bawah pohon khusus untuk mata pelajaran ilmu-ilmu sosial. Sementara pelajaran seperti matematika tetap dilaksanakan di ruang kelas karena membutuhkan papan tulis saat pemaparan materi.
"Anak-anak sudah terbiasa dengan situasi seperti itu," pungkas Marta.
Diketahui, Marta adalah guru pertama di sekolah yang beroperasi sejak 2014 tersebut. Kini, SDN Tando memiliki delapan guru. Sedangkan, jumlah seluruh siswa di sekolah tersebut saat ini sebanyak 173 orang.
Kepala SDN Tando, Fransiskus Jenala, mengungkapkan momen siswa belajar di bawah pohon itu sudah berlangsung sejak 2018. Fransiskus menjelaskan SDN Tando memiliki tiga ruang permanen dan satu ruang nonpermanen. Ruang kelas nonpermanen ini dibangun secara swadaya oleh orang tua murid pada 2016.
"Yang di bawah pohon itu siswa dari satu ruangan yang dibangun swadaya orang tua, itu kami gunakan untuk kelas 2 dan 3. Yang kemarin viral itu anak kelas 3 karena yang di dalam ruangan diisi anak kelas 2," terang Fransiskus.
"Kalau siswa kelas 3 belajar di dalam kelas, maka kelas 2 belajar di luar (di bawah pohon)," imbuhnya.
(iws/iws)

