detikBali

Antisipasi Gas Melon Langka, Pemprov NTT Imbau Dapur MBG Gunakan LPG 50 Kg

Terpopuler Koleksi Pilihan

Antisipasi Gas Melon Langka, Pemprov NTT Imbau Dapur MBG Gunakan LPG 50 Kg


Simon Selly - detikBali

Pemprov NTT mengecek stok LPG di sejumlah titik di Kota Kupang, NTT. (Foto: Dok. Humas Pemprov NTT)
Pemprov NTT mengecek stok LPG di sejumlah titik di Kota Kupang, NTT. (Foto: Dok. Humas Pemprov NTT)
Kupang -

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengimbau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan LPG nonsubsidi. Hal itu bertujuan untuk mengatasi kelangkaan LPG subsidi atau gas melon 3 kilogram (kg) di daerah tersebut.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga mengarahkan para pelaku usaha untuk menggunakan tabung LPG 50 kg. Imbauan ini dikeluarkan setelah stok LPG 3 kg langka di sejumlah titik di Kota Kupang, NTT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka diarahkan menggunakan LPG 50 kg agar pasokan tabung kecil tetap tersedia bagi rumah tangga," ujar Laka Lena dalam keterangannya, Sabtu (11/4/2026).

Laka Lena mengatakan kelangkaan LPG 3 kg di daerah tersebut terkendala distribusi dari luar daerah yang dipengaruhi kondisi global. Menurutnya, NTT masih sangat bergantung pada pasokan energi dari luar wilayah, termasuk pengiriman LPG dari Surabaya, Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

"Memang ada keterlambatan distribusi, sehingga terjadi kekosongan di beberapa titik," kata Laka Lena.

Untuk mengatasi kelangkaan tersebut, dia berujar, Pemprov NTT bersama Pertamina menambah agen LPG di Kota Kupang. Hal itu diharapkan dapat mempercepat distribusi LPG dari Surabaya.

"Masyarakat diminta tidak melakukan pembelian berlebihan yang justru bisa memperparah kondisi," imbuh politikus Partai Golkar itu.

Di sisi lain, Laka Lena menyebut pasokan bahan bakar minyak (BBM) di NTT sejauh ini masih dalam kondisi aman. Ia menyebut harga BBM juga tetap normal sesuai ketentuan yang berlaku.

"Untuk BBM aman, stok tersedia dan tidak ada kendala di lapangan," tambah Laka Lena. Diketahui, sekitar 80 persen kebutuhan energi NTT masih berasal dari luar daerah tersebut.




(iws/iws)










Hide Ads