Investigasi polisi menguak kondisi memprihatinkan jembatan gantung di objek wisata Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ambruk dan menewaskan dua wisatawan asal Austria. Struktur jembatan disebut sudah tak layak pakai, mulai dari papan pijakan yang goyang dan terangkat, kayu penyangga lapuk, hingga jaringan pengaman yang hilang hampir seluruhnya.
Korban diketahui pasangan suami istri, Jurgen Perjul (55) dan Astrid Perjul (57). Keduanya tewas setelah terjatuh dari jembatan gantung setinggi sekitar 20 meter saat berwisata di kawasan tersebut.
"Kedua korban diidentifikasi sebagai pasangan suami istri asal Austria yang tengah menikmati masa liburan mereka di kawasan air terjun Cunca Wulang," kata Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, Senin (25/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jembatan Rusak Parah
Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) awal, polisi menemukan lubang menganga sepanjang 1,20 meter pada lantai jembatan yang patah.
"Polisi menemukan lubang menganga sepanjang 1,20 meter pada lantai jembatan yang patah," ungkap Christian.
Hasil investigasi fisik juga menemukan jaringan pengaman atau safety net di sisi kiri dan kanan jembatan rusak dan hilang hingga 90 persen.
Tak hanya itu, kayu penyangga atau tulang jembatan ditemukan dalam kondisi lapuk termakan usia. Sebagian besar papan pijakan disebut sudah goyang, terangkat, bahkan terlepas dari rangkanya.
"Hasil pemeriksaan sementara mengungkap adanya kondisi jembatan yang sebagian papan sudah goyang dan terangkat," ungkap Christian.
"Selain itu, tidak terdapat SOP tertulis terkait pengecekan rutin jembatan maupun sistem keselamatan wisata yang memadai," lanjut dia.
Selain minim pengamanan, polisi juga menemukan tidak adanya rambu peringatan bahaya di titik rawan. Pengelola wisata Air Terjun Cunca Wulang juga disebut tidak menyediakan fasilitas asuransi kecelakaan bagi wisatawan.
Pijakan Jebol Saat Korban Melintas
Insiden maut itu terjadi saat Jurgen dan Astrid tiba di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang sekitar pukul 09.20 Wita. Mereka didampingi sopir pribadi, Julius Mam (45), lalu registrasi di pos tiket sebelum trekking menuju air terjun bersama pemandu wisata Muhamad Muhardin (30).
Saat tiba di jembatan gantung kayu di atas aliran sungai berbatu, keduanya meminta Muhardin merekam momen kebersamaan mereka saat menyeberang.
"Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum hangat ke arah kamera. Mereka sempat meminta saya, 'Tolong ambil video kami dari belakang saat kami menyeberang jembatan ini, ya'," kenang Muhardin di Labuan Bajo.
Baru sekitar 10 meter melangkah, struktur kayu yang menjadi tumpuan kaki korban mendadak patah. Jembatan kemudian ambruk dan keduanya jatuh bebas hingga menghantam bebatuan besar di dasar sungai.
"Tiba-tiba terdengar suara kayu patah yang sangat keras seperti dahan pohon besar yang tumbang. Dalam hitungan detik, jembatan langsung ambruk total," ujar Muhardin.
"Saya melihat mereka berdua jatuh bebas ke bawah dan langsung menghantam batu-batu sungai yang besar di dasar jurang," imbuh dia.
Jembatan Sudah Tak Layak Pakai
Kondisi jembatan gantung wisata Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat, NTT, Minggu (24/5/2026). (Foto: Dok. Basarnas Maumere) Foto: Kondisi jembatan gantung wisata Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat, NTT, Minggu (24/5/2026). (Foto: Dok. Basarnas Maumere) |
Christian mengatakan pemandu lokal sebelumnya sempat memperingatkan korban terkait jalur trekking yang licin akibat cuaca. Namun, hasil penyelidikan sementara menunjukkan faktor utama insiden berasal dari kondisi jembatan yang sudah rusak.
"Namun, kondisi jembatan yang memang sudah tidak layak pakai menjadi faktor penentu runtuhnya pijakan korban hingga terjatuh ke dasar sungai," kata Christian.
Penyidik Satreskrim Polres Manggarai Barat telah memeriksa lima saksi kunci, yakni Kepala Desa Cunca Wulang, petugas pos retribusi tiket masuk, pramuwisata lokal yang mendampingi korban, sopir mobil sewaan korban, serta anggota Bhabinkamtibmas yang pertama kali mengamankan lokasi.
Christian menegaskan penyelidikan dilakukan secara transparan untuk mengusut standar keselamatan wisata, tanggung jawab pengelolaan fasilitas, hingga kemungkinan unsur kelalaian.
"Kami akan mendalami seluruh aspek, baik terkait standar keselamatan wisata, tanggung jawab pengelolaan fasilitas, maupun unsur kelalaian yang mungkin terjadi. Semua akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," pungkas Christian.
Pengelola Destinasi Ikut Disorot
Kasus ini juga mendapat sorotan dari Asita Manggarai Raya. Ketua DPC Asita Manggarai Raya Sebastian Pandang menilai pengelola tidak memperhatikan kondisi infrastruktur jembatan secara berkala.
"Tentunya sebagai pebisnis yang menjual destinasi, termasuk Cunca Wulang, itu merasa prihatin di mana pengelola, yaitu pertama pemda. Pemda tidak memperhatikan infrastruktur, fasilitas yang ada khususnya jembatan itu secara rutin," kata Sebastian di Labuan Bajo, Senin (25/5/2026).
"Berikutnya, mungkin kelompok Pokdarwis Cunca Wulang, yang mengelola destinasi Cunca Wulang. Mereka lalai memperhatikan terkait kondisi jembatan yang sudah lapuk, yang sudah rusak sehingga terjadinya hal yang di luar keinginan kami itu," imbuh Sebastian.
Ia meminta Pemkab Manggarai Barat segera membenahi infrastruktur wisata agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Kapolres Ancam Penyebar Gambar Korban
Di tengah penyelidikan kasus tersebut, Christian meminta masyarakat menghentikan penyebaran foto maupun video kondisi dua wisatawan Austria yang tewas usai jatuh dari jembatan gantung.
"Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh masyarakat, baik di Manggarai Barat maupun pengguna media sosial di mana pun berada, untuk segera menghentikan penyebaran foto atau video kondisi korban yang tidak layak dikonsumsi publik," tegas Christian dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026) malam.
Christian menegaskan penyebaran konten visual korban yang vulgar dan tragis bukan sekadar pelanggaran etika, tetapi juga berpotensi diproses pidana.
"Ingat, ada konsekuensi hukum yang nyata. Penyebaran konten yang melanggar kesusilaan, privasi, atau mengeksploitasi kondisi korban secara tidak pantas dapat dijerat dengan UU ITE. Jangan sampai niat awal yang ingin memberi tahu informasi, justru berujung pada tindak pidana," tegas Christian.
Ia menambahkan kepolisian tak hanya fokus pada proses evakuasi dan penyelidikan runtuhnya jembatan, tetapi juga menjaga kondisi psikologis keluarga korban.
"Polri juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengayomi psikologis keluarga korban serta mendidik masyarakat agar memiliki empati sosial yang tinggi di dunia maya," jelas Christian.
Jenazah Dipulangkan ke Austria
Jenazah kedua korban masih disemayamkan di instalasi pemulasaran jenazah RSUD Komodo, Labuan Bajo. Polisi masih berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Austria di Jakarta untuk proses pemulangan ke negara asal.
Informasi dari internal Polres Manggarai Barat menyebut jenazah kedua turis dijadwalkan diberangkatkan ke Austria pada Selasa (26/5).
"Rencananya pemulangan besok," ujar sumber di internal Polres Manggarai Barat.
(dpw/dpw)











































