Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), merespons adanya dugaan kasus pembakaran terhadap tiga santri di salah satu pondok pesantren yang ada di Dusun Sengkol II, Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, pada November 2025.
Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Lombok Tengah, Muhamad Salim, mengaku telah mendapat informasi tersebut sejak dua bulan yang lalu. Kemenag sudah turun ke ponpes tersebut. Namun, dugaan tindak pidana berat yang merenggut nyawa satu korban itu justru penyelesaiannya diarahkan secara kekeluargaan.
"Nggih (benar) sampun (sudah) tiang (saya) turun ke ponpes tersebut dua bulan yang lalu, untuk segera diselesaikan dengan pihak korban," kata Salim kepada detikBali, Kamis (4/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salim menjelaskan saat berkunjung ke ponpes tersebut pihaknya kemudian langsung meminta kepada pihak ponpes untuk segera menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Ia pun berencana akan kembali turun untuk mengetahui informasi terbaru.
"Dan pihak ponpes menjawab sudah diselesaikan katanya. Insyaallah nanti kami akan turun kembali untuk mengklarifikasi," bebernya.
Salim mengatakan kejadian tersebut memang terbilang sudah cukup lama terjadi namun viralnya belakangan ini. Hal itu dikarenakan adanya upaya penyelesaian secara kekeluargaan yang diinisiasi oleh pihak ponpes kepada para korban.
"Kami dari Kemenag tetap untuk meminta menyelesaikan secara kekeluargaan dengan santri sebagai korban, akan tetapi kalau dari pihak korban akan menyerahkan ke pihak berwajib kami tidak bisa untuk menghalangi semua itu, biar APH yang akan menyelesaikan persoalannya," tegasnya.
Ia pun berencana akan kembali turun ke Ponpes tersebut. Salim menyebut pesantren itu bernama Ponpes Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy yang beralamat di Dusun Sengkol 2 Kecamatan Batukliang.
"Ponpes Rosudatussaulatiyah al Ibrahimy Sengkol Mantang 2 Batukliang," katanya.
Sebelumnya, kasus dugaan pembakaran terhadap tiga santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, terungkap setelah video korban beredar dan viral di media sosial (medsos).
Dalam video yang dilihat detikBali dari akun Facebook bernama @Tiara Erna BenKinara Cahya, terlihat seorang korban menangis kesakitan sambil memperlihatkan luka bakar di sejumlah bagian tubuhnya yang telah dibalut perban di rumah sakit.
Terdengar juga suara pihak keluarga yang sedang menenangkan korban. Korban mengaku merasakan kesakitan di bagian badan dan kakinya. Unggahan tersebut telah ditonton oleh 65 ribu orang, dikomentari 312 orang dan dibagikan sebanyak 307 kali.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, peristiwa itu terjadi pada November 2025. Namun, baru terungkap setelah videonya beredar luas di media sosial.
"Kasus di pondok pesantren ini kejadiannya November 2025. Saya baru mengetahui setelah videonya beredar sekarang," kata Joko, Rabu (3/6/2026).
Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, terdapat tiga santri yang menjadi korban. Mereka diduga disiram menggunakan bahan bakar sebelum dibakar oleh sesama santri. Akibat kejadian tersebut, dua korban mengalami luka bakar serius, sementara satu korban lainnya meninggal dunia.
"Ada tiga korban. Dua mengalami luka bakar dan satu meninggal dunia," ujarnya.
Kasus tersebut saat ini tengah dalam proses penyelidikan pihak kepolisian setempat menerima laporan dari keluarga korban pada Selasa (2/6/2026).
"Informasi baru kami terima hari ini, dan orang tua korban juga akan melaporkan hari ini," kata Kasatreskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaean, saat dihubungi melalui WhatsApp, Rabu (3/6/2026).
(hsa/hsa)










































