detikBali

Sindiran Menohok Joao Neves ke Arsenal Usai Kalah dari PSG

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sindiran Menohok Joao Neves ke Arsenal Usai Kalah dari PSG


Okdwitya Karina Sari - detikBali

Soccer Football - UEFA Champions League - Final - Paris St Germain v Arsenal - Puskas Arena, Budapest, Hungary - May 30, 2026 Paris St Germains Khvicha Kvaratskhelia in action with Arsenals William Saliba, Myles Lewis-Skelly, Martin Odegaard and Declan Rice REUTERS/Angelika Warmuth
Arsenal Vs PSG. (Foto: REUTERS/Angelika Warmuth)
Denpasar -

Paris Saint-Germain sukses mempertahankan gelar Liga Champions 2025/2026 usai menaklukkan Arsenal di final. Namun, kemenangan itu juga dibarengi sindiran pedas Joao Neves yang menyebut The Gunners tak berniat bermain sepakbola.

PSG keluar sebagai juara setelah menang adu penalti 4-3 atas Arsenal. Kedua tim sebelumnya bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu.

Arsenal sejatinya unggul lebih dulu lewat gol cepat Kai Havertz. Setelah itu, The Gunners cenderung menumpuk pemain di area pertahanan dan lebih banyak menunggu serangan PSG.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Statistik pertandingan memperlihatkan dominasi Les Parisiens. PSG menguasai 75 persen ball possession dan menciptakan 21 percobaan dengan empat tembakan mengarah ke gawang.

ADVERTISEMENT

Sebaliknya, Arsenal hanya mencatatkan 25 persen penguasaan bola. Tim asal London itu juga cuma melepaskan tujuh percobaan sepanjang laga dengan satu shot on target.

"Kami pantas mendapatkannya pada hari ini, karena PSG hanya satu-satunya tim yang niat bermain," sengat Joao Neves kepada M6, yang dikutip Metro.

"Bukan cuma kemenangannya yang membuatku senang, tapi bermain dengan rekan-rekan setim seperti ini, staf, dan manajemen ini. Aku sangat menyukai segalanya di sini. Aku sangat senang untuk tim ini, untuk semua yang sudah kami lakukan di musim ini."

Keberhasilan ini membuat PSG masuk ke daftar elite berisi 10 klub yang mampu menjuarai Liga Champions secara beruntun. Joao Neves dkk juga menjadi tim pertama yang mempertahankan trofi sejak Real Madrid melakukannya pada 2016, 2017, dan 2018.

"Ini lebih sulit karena kami harus mempertahankan titel juara kami. Memang ada rasa lelah yang besar, tapi ketika Anda bermain di final Anda harus melupakan semuanya dan memberikan segala-galanya," ujar pemain internasional Portugal itu.




(dpw/dpw)










Hide Ads