Pelajaran Paling Tidak Disukai Versi Ipsos 2025: Orang RI Cinta dan Benci Matematika

ADVERTISEMENT

Pelajaran Paling Tidak Disukai Versi Ipsos 2025: Orang RI Cinta dan Benci Matematika

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 14 Jan 2026 13:00 WIB
Pelajaran Paling Tidak Disukai Versi Ipsos 2025: Orang RI Cinta dan Benci Matematika
Ilustrasi matematika. Foto: Getty Images/nicolas_
Jakarta -

Hasil survei Ipsos pada Agustus 2025 memperlihatkan kontradiksi orang Indonesia terhadap matematika. Mata pelajaran (mapel) matematika jadi yang paling disukai, tapi sekaligus paling dibenci.

Survei tersebut dirilis dalam laporan "Ipsos Education Monitor 2025". Bagi yang belum tahu, Ipsos merupakan perusahaan riset pasar yang berkantor pusat di Prancis.

Survei ini tidak hanya mewawancarai orang Indonesia, melainkan ada 23.700 orang dewasa dari 30 negara yang terlibat. Sampel merupakan penduduk pengguna internet yang sudah dewasa dan berusia di bawah 75 tahun. Ipsos melakukan riset ini mulai 20 Juni hingga 4 Juli 2025.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di seluruh dunia, mapel paling disukai secara berurutan adalah sejarah, matematika, dan sains. Sedangkan mapel paling dibenci di seluruh dunia secara berurutan adalah matematika, agama, dan sejarah.

Pada survei ini, sejarah; matematika; dan bahasa asing adalah mapel paling favorit di Indonesia. Namun, ternyata matematika juga masuk di jajaran mapel paling dibenci di Tanah Air.

ADVERTISEMENT

Mata Pelajaran Paling Tidak Disukai Orang Indonesia

Ini urutan mapel paling dibenci di Indonesia:

  1. Matematika: 47%
  2. Sains: 23%
  3. Geografi: 20%
  4. Olahraga: 20%
  5. Sejarah: 18%
  6. Seni: 17%
  7. Bahasa asing: 14%
  8. Sastra tertentu: 13%
  9. Bahasa tertentu: 8%
  10. Ilmu komputer: 7%

Siapa Saja yang Terlibat Survei?

Ada berbagai negara yang terlibat dalam survei. Ipsos mewawancarai 23.700 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas di India. Selain itu, terdapat sampel dari orang dewasa berusia 18-74 tahun di Kanada, Republik Irlandia, Israel, Malaysia, Afrika Selatan, Turki, dan Amerika Serikat. Selanjutnya, Ipsos juga mewawancarai orang dewasa berusia 20-74 tahun di Thailand, 21-74 tahun di Indonesia dan Singapura, dan orang berusia 16-74 tahun di negara-negara lain.

Berikutnya, ada sampel yang terdiri dari sekitar 2.000 orang dari Jepang serta 1.000 orang masing-masing dari Australia, Belgia, Brasil, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris Raya, Italia, Meksiko, Spanyol, dan AS. Kemudian, ada 500 individu masing-masing dari Argentina, Chili, Kolombia, Hongaria, Indonesia, Irlandia, Malaysia, Belanda, Peru, Polandia, Rumania, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Swedia, Thailand, dan Turki.

Adapun sampel dari India terdiri dari sekitar 2.200 orang. Sekitar 1.800 orang diwawancarai secara tatap muka dan 400 diwawancarai secara daring.

Sampel di Argentina, Australia, Belgia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris Raya, Hongaria, Italia, Jepang, Belanda, Polandia, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, dan AS dapat dianggap mewakili populasi dewasa umum mereka di bawah usia 75 tahun.

Sementara, sampel di Brasil, Chili, Kolombia, Indonesia, Irlandia Malaysia, Meksiko, Peru, Rumania, Singapura, Afrika Selatan, Thailand, dan Turki lebih urban, lebih terdidik, dan/atau lebih makmur daripada populasi umum. Ipsos mengatakan hasil survei untuk negara-negara ini harus dilihat mencerminkan pandangan segmen populasi yang lebih "terhubung".




(nah/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads