Temuan Unik Setelah Bencana Nuklir: Babi Domestik dan Babi Hutan Kawin Silang

ADVERTISEMENT

Temuan Unik Setelah Bencana Nuklir: Babi Domestik dan Babi Hutan Kawin Silang

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 16 Jun 2026 16:00 WIB
Peneliti menemukan keadaan unik setelah bencana nuklir di Fukushima, Jepang, yaitu perkawinan silang alami antara babi domestik dan babi hutan.
Foto: Prof. Hiroko Ishiniwa/Mukogawa Women's University/Setelah bencana nuklir di Fukushima, Jepang, muncul perkawinan silang alami antara babi domestik dan babi hutan.
Jakarta -

Bencana nuklir Fukushima di Jepang pada 2011 tidak hanya meninggalkan dampak lingkungan. Peneliti menemukan fenomena biologis yang unik, yaitu perkawinan silang antara babi peliharaan dan babi hutan liar.

Ketika penduduk dievakuasi dari wilayah sekitar reaktor Fukushima Daiichi, ratusan babi ternak terlepas dan mulai hidup bebas di alam. Di tengah hutan dan lahan pertanian yang ditinggalkan manusia, mereka bertemu dengan babi hutan lokal dan beranak-pinak.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa hibrida babi-babi hutan ini mengalami evolusi genetik cepat yang tak terduga. Studi yang dilakukan oleh tim dari Fukushima University dan Hirosaki University ini dipublikasikan di Journal of Forest Research pada 22 Januari 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perkawinan Silang Langka Setelah Bencana Nuklir di Jepang

Peneliti utama studi, Profesor Shingo Kaneko, menjelaskan bahwa situasi di Fukushima menciptakan "eksperimen alami" untuk mempelajari bagaimana hibridisasi memengaruhi genetika satwa liar.

ADVERTISEMENT

"Selama ini diduga bahwa kawin silang antara babi rewilded dan babi hutan dapat meningkatkan populasi. Namun, studi ini melalui analisis besar-besaran pascakecelakaan nuklir Fukushima menunjukkan bahwa siklus reproduksi cepat pada babi domestik diwariskan melalui garis keturunan ibu," ucapnya, seperti dilansir dari Phys.org.

Tim peneliti menemukan bahwa garis maternal babi domestik (mitokondria yang diwariskan dari induk betina) berperan mempercepat pergantian generasi. Akibatnya, gen babi peliharaan cepat menipis karena keturunan hasil kawin silang terus dikawinkan kembali dengan babi hutan murni.

"Hipotesis kami adalah bahwa sifat khas babi domestik, yaitu kemampuan berkembang biak sepanjang tahun, menjadi kuncinya," ujar Dr Donovan Anderson, rekan penulis dari Hirosaki University.

Untuk memverifikasi ini, mereka menganalisis DNA dari 191 babi hutan dan 10 babi ternak yang dikumpulkan antara 2015 dan 2018. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak individu hibrida sudah lebih dari lima generasi dari indukan awal, menandakan proses genetika yang berlangsung sangat cepat.

Dampak Evolusi Cepat bagi Pengelolaan Satwa Liar

Menurut Profesor Kaneko, fenomena ini mungkin terjadi karena kondisi unik Fukushima, yaitu daerah tanpa aktivitas manusia yang memungkinkan populasi babi hutan berkembang pesat.

"Warisan genetik dari indukan babi domestik mempercepat pergantian generasi, dan ini berperan dalam kecepatan perubahan genetik di populasi babi hutan," jelasnya.

Namun, para peneliti menilai bahwa pola serupa bisa terjadi di banyak tempat lain di dunia, terutama di wilayah di mana populasi babi liar dan babi peliharaan sering tumpang tindih.

"Kami ingin menekankan bahwa mekanisme ini kemungkinan juga terjadi di wilayah lain di dunia di mana babi liar dan babi ternak kawin silang," timpal Dr Anderson.

Temuan ini penting bagi ilmu genetika satwa liar serta berdampak pada strategi pengendalian spesies invasif.

"Hasil penelitian ini dapat diterapkan dalam strategi pengelolaan satwa liar dan pengendalian spesies invasif. Dengan memahami bahwa garis keturunan indukan babi dapat mempercepat pergantian generasi, otoritas dapat lebih tepat memprediksi risiko ledakan populasi," tutur Kaneko.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads