Sejarah Hari Raya Galungan Lengkap dengan Rangkaian Kegiatannya

ADVERTISEMENT

Sejarah Hari Raya Galungan Lengkap dengan Rangkaian Kegiatannya

Nikita Rosa - detikEdu
Rabu, 17 Jun 2026 17:15 WIB
Umat Hindu melaksanakan ibadah Hari Galungan dengan penuh khidmat di Pura Amerta Jati, Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (17/6/2026). Hari suci yang diperingati setiap 210 hari sekali dalam kalender Bali ini menjadi momentum penting bagi umat Hindu unt
Sejarah Hari Raya Galungan. (Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto)
Jakarta -

Umat Hindu kembali merayakan Hari Raya Galungan pada Rabu, 17 Juni 2026. Hari suci tersebut dimaknai sebagai simbol kemenangan dharma melawan adharma. Adapun sembahyang dilakukan untuk memuja para leluhur dan Tuhan.

Menurut laman resmi Pemerintah KabupatenBuleleng, Bali, Hari RayaGalungan dirayakan oleh umat Hindu setiap 6 bulan sekali dalam kalender Bali (210 hari). Dalam kalender Masehi, Hari RayaGalungan digelar dua kali dalam setahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makna Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan adalah hari di mana umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta dan seluruh isinya. Seperti disebutkan sebelumnya, peringatan ini juga untuk merayakan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma).

Sebagai ungkapan syukur, umat Hindu memberi persembahan pada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara (dengan segala manifestasinya).

ADVERTISEMENT

Hari Raya Galungan dikenal juga sebagai hari "Rerahinan Gumi" yang berarti semua umat Hindu wajib melaksanakannya agar terhindar dari marabahaya. Perayaan ini adalah simbol dari hari kemenangan kebaikan/kebenaran (dharma) atas ketidakbaikan (adharma).

Umat Hindu meyakini Hari Raya Galungan dapat memberi kekuatan spiritual termasuk kekuatan fisik dan non-fisik untuk membedakan mana perbuatan yang baik dan tidak baik.

Sejarah Hari Raya Galungan

Menurut buku Hari Raya Galungan Sebagai Momentum Bertumbuhnya Dharma dalam Diri yang diterbitkan oleh STAHN-TP Palangka Raya, sejarah pelaksanaan Hari Raya Galungan di Indonesia masih sulit dipastikan. Jika melihat Kitab Usana Bali, Galungan telah dirayakan pada masa Pemerintahan Valajaya atau Taranajaya/

Semenjak saat itu, umat Hindu di Bali selalu merayakan Hari Galungan dengan meriah. Tetapi pada tahun 1103 Saka, perayaan tersebut tiba-tiba dihentikan.

Hal tersebut terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang pemerintahan. Selama Galungan tidak dirayakan, terus terjadi musibah.

Pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, ia mulai mempertanyakan mengapa hal-hal tersebut terjadi. Untuk mendapatkan jawabannya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya (mendekatkan diri pada Dewa). Dewa Sraya itu dilakukannya di Pura Dalem Puri, tidak jauh dari Pura Besakih.

Raja Sri Jayakasunu melakukan tapa brata dengan sungguh-sungguh hingga mendapatkan pawisik atau bisikan religius dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu, Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan.

Sejak saat itu, Galungan kembali dirayakan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku.

Rangkaian Kegiatan Hari Raya Galungan

Dilansir dari detikBali, berikut rangkaian kegiatan Hari Raya Galungan:

Tumpek Wariga
Tumpek Wariga jatuh pada 25 hari sebelum Galungan. Pada hari Hari Tumpek Wariga Ista Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Sangkara yang merupakan Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan.

Umat Hindu biasanya merayakan hari ini dengan menghaturkan banten (sesaji) yang berupa bubuh (bubur) sumsum yang berwana.

Sugihan Jawa
Sugihan Jawa diadakan setiap hari Kamis Wage wuku Sungsang. Sugihan Jawa sendiri berasal dari 2 kata, yakni Sugi dan Jawa. Sugihan Jawa adalah hari sebagai pembersihan/penyucian segala sesuatu yang berada di luar diri manusia (bhuana agung).

Dalam acara ini, umat Hindu akan melakukan upacara yang disebut denganMererebu atauMererebon. Ini adalah upacara yang dilaksanakan dengan tujuan untuk menetralisir segala sesuatu yang negatif yang berada padaBhuana Agung.

Sugihan Bali
Sugihan Bali dilaksanakan setiap Jumat Kliwon wuku Sungsang. Sugihan Bali adalah penyucian atau pembersihan diri sendiri atau bhuana alit.

Di rangkaian acara ini, umat Hindu akan mandi, melakukan pembersihan diri secara fisik dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih. Hal tersebut merupakan simbolis penyucian jiwa raga untuk menyambut Galungan yang sudah semakin dekat.

Hari Penyekeban
Hari Penyekeban dilakukan setiap Minggu Pahing wuku Dungulan. Di hari ini, umat Hindu akan mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama.

Hari Penyajan
Hari Penyajan dilakukan setiap Senin Pon wuku Dungulan. Hari ini diyakini bahwa umat Hindu akan digoda oleh Sang Bhuta Dungulan untuk menguji sejauh mana tingkat pengendalian dirinya untuk melangkah lebih dekat lagi menuju Galungan.

Hari Penampahan
Umat Hindu di Hari Penampahan akan disibukkan dengan pembuatan penjor. Ini merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala anugerah yang diterima selama ini.

Penjor dibuat dari batang bambu melengkung yang dihiasi sedemikian rupa. Tidak hanya membuat penjor, umat Hindu juga menyembelih babi yang dagingnya akan digunakan sebagai pelengkap acara.

Hari Raya Galungan
Acara ini adalah puncak rangkaian Hari Raya Galungan. Mulai dari persembahyangan di rumah masing-masing kemudian dilanjutkan ke Pura sekitar lingkungan.

Hari Umanis Galungan
Pada Hari Umanis Galungan, umat Hindu akan melaksanakan persembahyangan dan dilanjutkan dengan Dharma Santi dan saling mengunjungi sanak saudara atau tempat rekreasi.

Hari Pemaridan Guru
Pemaridan Guru berasal dari kata marid dan guru. Memarid sama artinya dengan ngelungsur/nyurud (memohon). Sedangkan Guru mengarah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Jadi dapat diartikan bahwa Hari Pemaridan guru adalah hari memohon anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi.

Ulihan
Ulihan artinya pulang atau kembali. Dalam konteks ini yang dimaksud adalah hari kembalinya para dewata-dewati/leluhur ke kahyangan dengan meninggalkan berkat dan anugerah panjang umur.

Hari Pemacekan Agung
Pemecekan Agung bermakna sebagai simbol keteguhan iman umat manusia atas segala godaan selama perayaan hariGalungan.

Hari Kuningan
Hari Suci Kuningan dirayakan umat dengan cara memasang tamiang, kolem, dan endong. Di Hari Kuningan ini, umat Hindu melakukan persembahan dan persembahyangan sebelum jam 12 siang. Hal ini dikarenakan terdapat keyakinan bahwa semua Dewata akan kembali ke Kahyangan setelah jam 12 siang.

Hari Pegat Wakan
Hari Pegat Wakan adalah rangkaian terakhir dari perayaan Galungan dan Kuningan. Rangkaian acara yang satu ini dilaksanakan dengan cara melakukan persembahyangan, dan mencabut penjor yang telah dibuat pada hari Penampahan.

Penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah. Pegat Wakan jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Pahang, sebulan setelah galungan.




(nir/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads