Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) yang berkolaborasi dengan Direktorat Pendidikan Khusus menekankan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara tanpa terkecuali, termasuk bagi murid berkebutuhan khusus. Salah satu langkah konkret penguatannya adalah melalui implementasi program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, menyampaikan regulasi telah menjadi pegangan kuat dalam menjalankan amanat pelayanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Hal ini mengacu pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, hingga Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023.
"Pendidikan merupakan hak setiap warga negara tanpa terkecuali, termasuk bagi murid berkebutuhan khusus. Regulasi dan peraturan perundangan tentu akan senantiasa menjadi pegangan kita dalam menjalankan amanat pelayanan ini," ungkap Saryadi dalam acara webinar Solusi (Sosialisasi dan Diskusi) seri: Praktik Baik Penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di SLB yang dinisiasi oleh Pusat Penguatan Karakter pada Kamis (30/4/2026), yang disiarkan dalam YouTube Cerdas Berkarakter Kemendikdasmen RI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Instrumen Penguatan Karakter yang Holistik
Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diluncurkan Kemendikdasmen bukan sekadar rutinitas, melainkan instrumen penting dalam penguatan pendidikan karakter. Bagi satuan pendidikan luar biasa, implementasi ini memiliki peran yang lebih spesifik.
Menurut Saryadi, di SLB, kebiasaan-kebiasaan tersebut berfungsi sebagai bagian dari intervensi pendidikan yang menyeluruh.
"Implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menjadi agenda yang sangat penting karena tidak hanya berfungsi sebagai penguatan karakter, tetapi juga sebagai bagian dari intervensi pendidikan yang holistik yang memperhatikan aspek kognitif dan sosial," jelasnya.
Dukungan Kekuatan Karakter Menuju Indonesia Emas 2045
Pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 disebut tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual semata. Dukungan kekuatan karakter menjadi fondasi yang harus dipastikan kehadirannya pada setiap murid, termasuk mereka yang menempuh pendidikan di SLB.
Saryadi memaparkan ada delapan karakter utama bangsa yang ingin dicapai, yakni religius, bermoral, sehat, cerdas dan kreatif, kerja keras, disiplin dan tertib, mandiri, serta bermanfaat bagi sesama.
"Nilai-nilai tersebut harus diinternalisasikan secara konsisten melalui pembiasaan yang terstruktur, termasuk melalui implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat," tambahnya.
Berbagi Praktik Baik yang Kontekstual
Melalui webinar ini, Kemendikdasmen berharap satuan pendidikan dapat saling berbagi perspektif mengenai cara penerapan program tersebut di lapangan. Mengingat kondisi setiap murid di SLB sangat beragam, maka penerapannya pun harus fleksibel.
"Kita tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga berbagi praktik baik. Bagaimana implementasi kebiasaan anak Indonesia Hebat dilakukan secara kontekstual dan adaptif sesuai dengan kebutuhan," tutur Saryadi.
"Mari kita bersama-sama memperkuat komitmen untuk menghadirkan layanan pendidikan yang tidak hanya bermutu, tetapi juga humanis, adaptif, dan berpihak (pada murid)," pungkasnya.
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(nah/nah)











































