Apakah Haji Bisa Tidak Mabrur? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Jemaah

Apakah Haji Bisa Tidak Mabrur? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Jemaah

Hanif Hawari - detikHikmah
Selasa, 21 Apr 2026 08:45 WIB
Suasana Masjidil Haram pada malam ke-27 Ramadan, Minggu (15/3/2026). Mencapai kapasitas maksimum.
Ilustrasi haji (Foto: X/insharifain)
Jakarta -

Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial. Ibadah ini menjadi momen istimewa yang seharusnya dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun demikian, tidak semua ibadah haji berakhir dengan predikat mabrur. Ada pula yang justru tergolong haji mardud, yakni haji yang tidak diterima oleh Allah SWT karena adanya kesalahan dalam pelaksanaannya.

Haji Bisa Tidak Mabrur

Mengacu pada penjelasan Mohammad Mufid dalam buku Dakwah Bil Qolam, haji dapat menjadi tidak mabrur atau mardud apabila dalam pelaksanaannya tercampur dengan hal-hal yang diharamkan atau disertai perbuatan maksiat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini diperkuat dengan pendapat Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Haj yang diterjemahkan oleh Mujiburrahman. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW menggambarkan kondisi seseorang yang berhaji dengan cara yang tidak benar:

"Barang siapa datang ke Baitullah karena pekerjaan haram, maka ia adalah pribadi yang tidak taat kepada Allah SWT. Apabila ia bersiap berangkat, kedua kakinya menaiki kendaraan, kemudian kendaraannya berjalan dan ia berkata, 'Labbaika Allahumma Labbaik (Kami datang menyambut panggilan-Mu ya Allah, kami datang menyambut panggilan-Mu),' maka malaikat berseru dari langit menjawab, 'Tidak ada sambutan untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu. Pekerjaanmu haram, pakaianmu haram, kendaraanmu haram dan perbekalanmu haram. Pulanglah kamu membawa haji mardud (ditolak), bukan haji mabrur (diterima), dan bergembiralah dengan hajimu yang buruk."

ADVERTISEMENT

Hadits ini menegaskan bahwa ibadah haji tidak hanya soal ritual, tetapi juga menyangkut kehalalan niat, bekal, dan perilaku selama menjalankannya.

Kesalahan yang Membuat Haji Tidak Mabrur

Dikutip dari buku Ensiklopedia Haji & Umrah karya KH Ahmad Chodri Romli, terdapat beberapa kesalahan yang kerap dilakukan jemaah sehingga hajinya tidak mencapai derajat mabrur:

Niat yang Tidak Lurus

Misalnya berhaji demi gengsi, pencitraan, ingin dipuji, atau mengejar status sosial.

Tidak Mengikuti Tuntunan Syariat

Seperti enggan mempelajari manasik haji atau tidak mengikuti bimbingan yang benar.

Masih Melakukan Maksiat

Kebiasaan buruk tetap dilakukan, bahkan saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Tanda Haji Belum Mabrur

Ciri haji mabrur dijelaskan dalam beberapa hadits, di antaranya riwayat Imam Ahmad. Dalam musnadnya yang dikutip dari buku 65 Kultum Kamtibmas karya Syarif Hidayatullah, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?" Rasulullah menjawab, "Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian."

Riwayat lain juga menyebutkan bahwa haji mabrur ditandai dengan sikap santun dalam berkata. Jika seseorang tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, maka ada kemungkinan hajinya belum mabrur.

"Dari Jabir RA, Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah bersabda: Memberikan makanan dan santun dalam berkata." (HR al-Hakim dan al-Baihaqi: Hadits ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan Muslim)

"Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata-kata kasar dan juga kotor." (HR At-Tirmidzi)

Berikut tanda seseorang hajinya tidak mabrur:

1. Tidak Menjaga Lisan

Seseorang yang hajinya belum mabrur cenderung masih berkata kasar, menyakiti orang lain, atau tidak mampu menjaga ucapannya. Padahal, haji yang diterima akan membentuk pribadi yang lebih santun.

2. Menebarkan Kebencian

Alih-alih membawa kedamaian, ia justru memicu konflik, menyebarkan kebencian, atau memperkeruh hubungan sosial. Ini bertentangan dengan nilai haji yang mengajarkan persatuan dan kasih sayang.

3. Minim Kepedulian Sosial

Haji mabrur seharusnya melahirkan pribadi yang peduli terhadap sesama, seperti gemar membantu dan berbagi. Jika sikap ini tidak muncul, maka hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa ibadah hajinya belum optimal.

Maka dari itu, penting bagi setiap muslim untuk tidak hanya fokus pada pelaksanaan ritual ibadah haji, tetapi juga menjaga hati dan perilaku agar terhindar dari haji mardud.

Wallahu a'lam.




(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads