Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meraih Labbaytum Award, penghargaan bergengsi dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi yang diberikan kepada negara dengan penyelenggaraan ibadah haji terbaik. Namun, ada sejumlah aspek yang masih perlu diperkuat agar dapat bersaing dengan negara-negara penerima penghargaan tersebut.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Zaky Zakaria Anshary, menjelaskan penilaian Labbaytum Award dilakukan berdasarkan sejumlah indikator utama yang mencerminkan kualitas penyelenggaraan haji secara menyeluruh.
"Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator utama, antara lain kualitas pelayanan jemaah, tingkat kepuasan jemaah, kepatuhan terhadap regulasi, kesiapan dan pengelolaan kesehatan jemaah, inovasi digital, efektivitas operasional, ketepatan administrasi dan visa, serta pengelolaan pengaduan jemaah," kata Zaky kepada BeritaKlik, Kamis (4/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Zaky, Indonesia perlu menjadikan belum diraihnya penghargaan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas layanan haji dari tahun ke tahun.
"Kita harus objektif. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah jemaah terbesar di dunia dan memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding banyak negara lain, terutama tingginya proporsi jemaah lansia serta risiko kesehatan. Karena itu penghargaan ini harus menjadi bahan evaluasi dan pemacu untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara menyeluruh," ujarnya.
Zaky mengungkapkan, negara-negara yang berhasil memperoleh Labbaytum Award umumnya memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi perhatian dalam proses penilaian.
Beberapa di antaranya adalah tingkat kepatuhan sistem yang sangat tinggi, digitalisasi layanan yang matang, hingga kepuasan jamaah yang terjaga secara konsisten.
Selain itu, pengelolaan kesehatan jemaah yang lebih terkendali, penyelesaian administrasi dan visa yang tepat waktu, serta monitoring layanan berbasis data secara real-time juga menjadi faktor penting.
Meski belum berhasil meraih penghargaan tahun ini, Zaky optimistis Indonesia dapat menjadi salah satu kandidat kuat penerima Labbaytum Award pada masa mendatang.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang berpengalaman, dukungan pemerintah, serta pengalaman panjang dalam mengelola penyelenggaraan ibadah haji.
"Indonesia memiliki SDM yang kuat, pengalaman panjang dalam penyelenggaraan haji, serta dukungan pemerintah yang besar. Dengan penguatan layanan kesehatan, digitalisasi sistem, peningkatan kualitas petugas, dan peningkatan kepuasan jamaah, saya yakin Indonesia dapat menjadi salah satu kandidat penerima Labbaytum Award di masa depan," katanya.
Di sisi lain, Zaky menilai masih ada sejumlah faktor yang kemungkinan memengaruhi penilaian Indonesia dalam ajang tersebut.
Salah satunya adalah tingginya jumlah jemaah lanjut usia (lansia) yang berangkat haji setiap tahun. Selain itu, angka perawatan kesehatan dan kematian jemaah yang masih relatif tinggi dibandingkan beberapa negara lain juga menjadi tantangan tersendiri.
Belum lagi kompleksitas pengelolaan lebih dari 220 ribu jamaah haji Indonesia setiap tahun yang membutuhkan sistem pelayanan dan pengawasan yang sangat besar.
(hnh/lus)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan