Dhabit adalah salah satu syarat utama dalam menentukan hadits sahih. Istilah ini sering muncul dalam ilmu hadits, tetapi masih banyak yang belum memahaminya dengan jelas.
Dalam ilmu hadits, setiap riwayat tidak bisa langsung dianggap benar. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah dhabit. Lalu, apa arti dhabit dan kenapa hal ini penting?
Pengertian Dhabit
Mengutip buku Najm Ad-Durar Fi Wasiati Rasulillah Syarah Hadits Pilihan dari Kitab "Matan Arba'in Fil 'Ilm Wal Ulama' Wal Muta'allim" oleh Robi'ah Al-'Adawiyah, dhabit secara bahasa berarti menghafal dengan cermat, hafalan yang sempurna, kuat, dan kokoh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dalam buku Menyingkap Khazanah Ilmu Hadis oleh Saifuddin Herlambang dan Saepul Anwar, dijelaskan bahwa dhabit adalah kemampuan intelektual seorang perawi hadits.
Pentingnya dhabit juga dijelaskan oleh Al-Hafidz Al-Iraqi yang mengatakan:
"Tidak diragukan lagi bahwa kedhabitan periwayat merupakan syarat mutlak sahih tidaknya suatu hadits. Sebab periwayat yang banyak melakukan kesalahan, maka haditsnya harus ditinggalkan meskipun ia seorang periwayat adil."
Secara sederhana, dhabit berarti kuat, tepat, dan mampu menghafal dengan baik. Berikut beberapa kriteria perawi yang bersifat dhabit:
1. Perawi yang dhabit adalah orang yang hafal dengan baik hadits yang diterimanya dan mampu menyampaikannya dengan tepat kepada orang lain.
2. Perawi yang dhabit juga mampu memahami hadits yang dihafalnya dengan baik.
Sarbanun, mengutip dari Muqaddimah Ibnu Ash-Shalah, menjelaskan bahwa hadits sahih adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi SAW dengan sanad yang bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit hingga akhir sanad, serta tidak janggal dan tidak memiliki cacat.
Syarat Lain Hadits Sahih
Selain dhabit, ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi agar suatu hadits disebut sahih, yaitu:
1. Sanadnya Bersambung
Setiap perawi dalam sanad menerima riwayat dari perawi sebelumnya hingga sampai ke akhir sanad.
2. Perawinya Adil
Perawi harus seorang Muslim, baligh, berakal sehat, tidak melakukan dosa besar, jarang melakukan dosa kecil, dan tidak melakukan perbuatan menyimpang.
3. Tidak Janggal
Hadits tidak bertentangan dengan hadits lain yang setara atau lebih kuat.
4. Tidak Memiliki Cacat ('Illat)
Hadits tidak memiliki cacat tersembunyi yang bisa merusak keabsahannya.
Selain hadits sahih, umat Islam juga mengenal hadits hasan dan dhaif. Sifat dhabit juga ada pada hadits hasan, tetapi tingkat kekuatannya tidak sekuat hadits sahih.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dhabit adalah kemampuan perawi dalam menjaga dan menyampaikan hafalan atau catatan hadits dengan tepat tanpa kesalahan.
(lus/lus)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan