Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan menanggapi terkait tuduhan banyak Kiai Pesantren yang cabul. Buya Amirsyah menegaskan agar semua pihak menahan diri dari tuduhan tanpa dasar yang jelas.
"Jangan fitnah. Jika memang ada (bukti), silahkan buktikan secara hukum pada aparat penegak hukum (APH)," kata Buya Amirsyah Tambunan, dilansir dari situs MUI pada Rabu (3/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekjen MUI itu menekankan pencabulan yang dilakukan siapa pun, di mana pun dan terhadap siapa pun merupakan tindakan keji yang bertentangan dari segi agama maupun hukum di Indonesia. Dia menegaskan praktik keji itu tidak boleh dibiarkan karena bertentangan dengan nilai agama.
MUI mengecam praktik pencabulan dan selalu mendorong adanya proses hukum yang tegas terhadap pelaku. Tetapi, Buya Amirsyah meminta masyarakat dan pihak terkait untuk mendahulukan proses tabayun atau cek dan ricek.
Tabayun ditujukan agar informasi yang beredar tidak jadi bola liar yang merugikan nama baik institusi maupun individu. Buya Amirsyah menekankan pentingnya penguatan karakter bagi sleuruh pemangku kepentingan dalam pengelolaan pondok pesantren.
Dia menilai integritas dan moralitas pengelola jadi benteng utama marwah pesantren. Apabila tuduhan atau dugaan pelanggaran itu nantinya terbukti secara sah dan meyakinkan, Buya Amirsyah menekankan hukum harus ditegakkan secara tegas tanpa pandang bulu.
Langkah pengambilan hukum terhadap pelaku tersebut dinilai penting untuk memberi efek jera bagi pelaku.
"Kita harus dudukan masalah ini secara jernih. Jika ada pelanggaran, silakan bawa ke ranah hukum agar ada efek jera. Namun jika tidak ada bukti, jangan sampai narasi yang berkembang justru menjadi fitnah yang merusak citra dunia pendidikan Islam," tegas Buya Amirsyah.
Sebagai informasi, ceramah ustazah asal Malang yang bernama Ning Sisca Farisa Dhona, mendadak menjadi perbincangan luas setelah videonya yang menyinggung dugaan kasus kekerasan seksual berkedok lembaga pendidikan agama di Malang viral di media sosial.
Dilansir dari detikJatim, polemiknya bermula saat Ning Sisca menyampaikan ceramah yang menyoroti keberanian kelompok Yakuza Maneges dalam mengungkap kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Dia lalu menyebut Malang akan menjadi wilayah berikutnya yang memiliki persoalan serupa sehingga pernyataan itu langsung menyita perhatian publik.
"Sebentar lagi menunggu kasus-kasus di Malang. Karena di Malang pun sendiri ada apa banyak?" tanya Ning Sisca dalam video ceramahnya.
Pada potongan video yang sama, Ning Sisca menegaskan tindakan menyimpang yang berlindung di balik simbol agama tidak boleh ditoleransi ataupun ditutup-tutupi hanya demi menjaga nama baik lembaga, keluarga maupun kelompok tertentu sehingga pernyataannya menuai dukungan sekaligus kritik.
"Ning Sisca kok berani berbicara? Lho, nyuwun sewu, batang ojo sampek ditutup-tutupi. Barang lek sing ala, opo maneh sing bertopeng agama, embel-embele agomo, demi oleh barokah, barokah, barokah, tapi lek kelakuane ora bener yo awak dewe ora oleh bela. (Lho, mohon maaf, bangkai jangan sampai ditutup-tutupi. Sesuatu yang buruk, apalagi yang bertopeng agama, embel-embel agama, demi mendapat berkah, berkah, berkah, tapi kalau kelakuannya tidak benar ya kita tidak boleh membela.) Sekalipun itu saudara kita," tegasnya dalam potongan video itu.
(aeb/inf)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan