Jenazah Ali Khamenei Dimakamkan 4 Bulan Setelah Wafat, Ini Alasannya

Jenazah Ali Khamenei Dimakamkan 4 Bulan Setelah Wafat, Ini Alasannya

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Jumat, 03 Jul 2026 17:44 WIB
Mourners carry the coffin of Irans slain supreme leader Ali Khamenei at the Grand Mosalla in Tehran on July 3, 2026. Preparations for the funeral of Khamenei were in full swing on July 3, with authorities expecting millions and a coterie of foreign dignitaries to attend the official ceremony. (Photo by Atta KENARE / AFP) /
Pemakaman Ali Khamenei. Foto: AFP/ATTA KENARE
Jakarta -

Jenazah mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, baru akan dimakamkan pada 9 Juli 2026. Pemakaman itu berlangsung lebih dari empat bulan setelah ia tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Penundaan tersebut terbilang tidak biasa dalam tradisi Islam. Jenazah seorang Muslim umumnya segera dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dimakamkan. Lantas, mengapa pemakaman Khamenei baru digelar beberapa bulan setelah kematiannya?

Situasi Perang Menghambat Pemakaman

NDTV World melaporkan rencana pemakaman Khamenei semula dijadwalkan pada awal Maret. Namun, pemerintah Iran menundanya karena perang dengan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah menilai upacara yang dihadiri jutaan orang sulit digelar saat serangan udara dan ancaman keamanan masih tinggi. Rangkaian pemakaman baru disiapkan setelah tercapai gencatan senjata sementara dan situasi dianggap lebih memungkinkan.

Dilansir dari AP News, upacara berlangsung selama beberapa hari di Teheran, Qom, Karbala, Najaf, dan Mashhad. Khamenei dijadwalkan dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, yang merupakan kota kelahirannya.

ADVERTISEMENT

Bulan Muharam Dipilih untuk Mengenang Gugurnya Imam Husain

Rencana pemakaman Ayatollah Ali Khamenei telah disampaikan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA sekitar Juni lalu. Dijelaskan bahwa panitia sengaja menempatkan rangkaian pemakaman setelah sepuluh hari pertama Muharam.

Pemilihan waktu tersebut dikaitkan dengan komitmen Khamenei terhadap tradisi berkabung untuk Imam Husain. Sepuluh hari pertama Muharam merupakan masa penting bagi umat Syiah untuk mengenang gugurnya Imam Husain dalam Pertempuran Karbala.

Namun, Muharam bukan penyebab utama pemakaman tertunda selama empat bulan. Penundaan awal terjadi karena kondisi perang. Panitia kemudian memilih waktu setelah masa utama peringatan Muharam agar kedua agenda keagamaan tidak berlangsung bersamaan.

Di Mana Jenazah Khamenei Disimpan?

Pemerintah Iran tidak mengungkap lokasi tempat jenazah Khamenei disimpan selama beberapa bulan. Pejabat hanya menyatakan bahwa jenazah dijaga sesuai ketentuan agama dan hukum.

NDTV World mengutip pakar kontraterorisme Mohammed Omar yang memperkirakan jenazah disimpan dalam fasilitas pendingin, bukan diawetkan melalui pembalseman kimia.

"Hukum Syiah memungkinkan penundaan pemakaman dan pengawetan dengan pendinginan dalam kasus luar biasa, dan pengecualian keagamaan untuk seorang pemimpin tertinggi mudah diperoleh," ujarnya.

Namun, pernyataan tersebut merupakan analisis pakar, bukan konfirmasi resmi pemerintah Iran.

Selain itu, rumor bahwa jenazah sempat dimakamkan sementara juga beredar. Akan tetapi, pejabat Iran membantahnya dan menyatakan penundaan terjadi karena situasi perang yang berat dan tidak menentu.

Pemakaman Khamenei Menjadi Panggung Persatuan Politik

Upacara pemakaman Khamenei juga membawa pesan politik. Pemerintah Iran ingin menunjukkan bahwa Republik Islam masih mendapat dukungan luas setelah menghadapi perang dan gelombang protes dalam negeri.

Imam Salat Jumat Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, menyebut kehadiran masyarakat dalam prosesi tersebut sebagai "referendum lain" bagi Republik Islam.

"Kehadiran publik yang besar dalam prosesi pemakaman pemimpin syahid dan para syuhada lainnya pada dasarnya akan menjadi referendum lain bagi Republik Islam," kata Saidi dilansir NDTV, Jumat (3/7/2026).

Pemerintah Iran dilaporkan menyiapkan transportasi, makanan, dan akomodasi untuk memobilisasi jutaan pelayat, serta menjadikan rangkaian upacara pemakaman selama enam hari sebagai hari libur masyarakat Iran.

The Guardian menilai skala upacara itu dirancang untuk menyampaikan pesan perlawanan, persatuan, dan ketahanan Iran kepada dunia.

Bagaimana Pandangan Islam?

Dalam Islam, pengurusan jenazah pada dasarnya harus disegerakan. Mengacu pendapat para ulama, penundaan dapat dibolehkan untuk kebutuhan tertentu, seperti autopsi, penyelidikan, menunggu wali, atau keadaan darurat, selama kondisi jenazah tetap terjaga.

"(Tidak ditunda) salat jenazah (untuk menambah jumlah jemaah [yang menyalatkannya]) berdasarkan hadits shahih 'Segerakanlah jenazah'. Tetapi tidak masalah (menunda) dengan menunggu wali jenazah untuk sekian waktu sebatas tidak dikhawatirkan perubahan fisik jenazah," jelas Syekh M Khatib As-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj seperti dinukil NU Online.

Di sisi lain, penundaan berbulan-bulan juga bukan ciri khusus ajaran Syiah. Pedoman fikih Syiah berjudul Islamic Law yang disusun al‑Sayyid Ali al‑Husayni al‑Sistani, terjemahan Mohammed Ali Ismail mengatur kemungkinan jenazah dibawa ke kota lain atau tempat suci. Namun, pedoman tersebut tidak menjadikan penundaan panjang sebagai kebiasaan yang dianjurkan.




(inf/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads