Di Masjid Nabawi, terdapat jendela unik yang menghadap langsung ke makam Nabi Muhammad SAW. Menariknya, jendela ini sudah terbuka terus-menerus selama 1.400 tahun.
Kisah di balik jendela ini terkait Hafshah binti Umar, istri Rasulullah SAW. Awalnya ia menolak merelakan rumahnya untuk perluasan masjid. Namun, dengan satu syarat, Hafshah meminta dibuatkan jendela yang selalu terbuka agar bisa memandang makam Nabi Muhammad SAW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siapa Hafshah bin Umar?
Menurut buku Telaga Cinta Rasulullah karya Fuad Bawazir, Hafshah adalah istri keempat Rasulullah SAW. Nama lengkapnya Hafshah binti Umar bin Khattab, dari suku Arab Adawiyah. Ibunya bernama Zaynab binti Madh'un, sedangkan ayahnya adalah sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab.
Hafshah lahir di tahun yang sama ketika Rasulullah memindahkan Hajar Aswad setelah Ka'bah dibangun kembali, hanya beberapa hari setelah Fatimah Az-Zahra, putri bungsu Rasulullah.
Mengutip buku Pahit Manis Rumah Tangga Rasulullah oleh A.R. Shohibul Ulum, dijelaskan bahwa Hafshah dikenal sebagai wanita yang cerdas, berilmu, dan sangat taat. Banyak sahabat yang menjadikannya rujukan dalam hadits dan beribadah. Khalifah Abu Bakar pun mempercayakan Hafshah untuk menyimpan lembaran-lembaran Al-Qur'an karena ia adalah orang yang taat, berilmu, ahli puasa, dan bisa membaca dan menulis pada waktu itu.
Sebelum menikah dengan Rasulullah, Hafshah adalah janda dari Khunais bin Hudzafah, seorang mujahid yang gugur dalam Perang Badar. Umar yang merasa sedih melihat putrinya menjanda di usia 18 tahun pun menghadap Rasulullah SAW untuk menceritakan hal tersebut. Rasulullah SAW akhirnya bersedia menikahi Hafshah pada tahun 3 Hijriah, sebelum Perang Uhud, dengan mahar 400 dirham.
Kisah Jendela Hafshah di Masjid Nabawi
Bagi seseorang yang pernah berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di Madinah, pasti tahu ada sebuah jendela yang menghadap langsung ke makam beliau. Kabarnya, jendela ini unik karena telah terbuka terus-menerus selama 1400 tahun, dan tidak ada yang berani menutupnya, bahkan raja Arab sekalipun.
Kisah ini berawal dari janji seorang ayah kepada putrinya. Saat Masjid Nabawi diperluas pada tahun 17 Hijriah, jumlah jamaah meningkat pesat karena wilayah Islam semakin luas. Masjid lama pun tidak mampu menampung banyak orang, sehingga Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan perluasan masjid.
Namun, di sebelah selatan makam Nabi, berdiri rumah putrinya, Hafshah binti Umar, yang juga dikenal sebagai Ummul Mukminin, istri Rasulullah SAW. Rumah ini adalah rumah yang penuh kenangan karena Hafshah dulu menemani Rasulullah di sana. Demi perluasan masjid, rumah itu pun harus dirobohkan.
Awalnya, Hafshah menolak keras. Ia menangis dan bersikukuh tidak mau meninggalkan rumahnya. Khalifah Umar bahkan harus berdiskusi beberapa kali, tapi putrinya tetap tidak mau merelakan rumah itu. Semua saran dari sahabat Nabi, termasuk Sayyidah Aisyah juga ditolak Hafshah.
Akhirnya, setelah beberapa malam, Hafshah mau menerima rencana perluasan dengan syarat tertentu. Ia ingin menempati kamar saudaranya, Abdullah, di sebelah rumahnya, dan yang paling penting, ia meminta dibuatkan sebuah jendela yang selalu terbuka agar bisa selalu memandang makam Nabi Muhammad SAW.
Sejak saat itu, jendela Hafshah tidak pernah ditutup, hingga saat ini. Jendela ini memiliki beberapa nama, yaitu Imam As-Suyuthi menyebutnya "Jendela Umar bin al-Khattab," sedangkan Ibnu Katsir menamakannya "Jendela Keluarga Umar."
Pemerintah Arab Saudi hingga sekarang tetap menjaga janji Khalifah Umar dengan putrinya, memastikan jendela itu tetap terbuka.
(lus/lus)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan