Kisah Sufi Besar Berguru pada Bahlul 'si Gila'

Kisah Sufi Besar Berguru pada Bahlul 'si Gila'

Kristina - detikHikmah
Minggu, 05 Jul 2026 05:00 WIB
Ilustrasi Syekh Junaid al-Baghdadi berguru pada Bahlul si Gila
Ilustrasi Syekh Junaid al-Baghdadi berguru pada Bahlul "si Gila". Foto: AI/ChatGPT
Jakarta -

Di Baghdad abad ke-3 Hijriah, ada seorang sufi besar yang tak pernah berhenti mencari guru untuk membawanya ke tingkat pengembaraan yang lebih tinggi. Ia bahkan pernah berguru kepada Bahlul "si Gila".

Adalah Syekh Junaid al-Baghdadi. Sosoknya dikenal sebagai pemimpin kaum sufi pada abad tersebut. Ia merupakan keturunan bangsa Persia yang kemudian menetap di Baghdad.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diceritakan dalam buku Jubah Kanjeng Nabi oleh A. Yusrianto Elga dan Nor Fadilah, suatu ketika Syekh Junaid al-Baghdadi pergi keluar kota bersama muridnya. Dia kemudian bertanya tentang orang yang bernama Bahlul. Murid-muridnya pun menjawab Bahlul adalah orang gila.

Mendengar jawaban itu, Syekh Junaid al-Baghdadi justru minta murid-muridnya mencari tempat tinggal Bahlul. Mereka lalu menemukan Bahlul di sebuah gurun dan mengantarkan Syekh-nya ke sana.

ADVERTISEMENT

Bahlul terlihat gelisah kala itu. Dia menyandarkan kepalanya ke tembok. Melihat pemandangan ini, Syekh Junaid al-Baghdadi mendekat dan menyapanya.

Bahlul menjawab sapaan itu dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Mulai dari siapa sosok yang datang di hadapannya hingga bertanya cara makan dan berbicara.

"Apakah engkau Abul Qasim?"
"Apakah engkau Syekh Baghdadi yang memberikan petunjuk spiritual pada orang-orang?"
"Apakah engkau tahu bagaimana cara makan?"

Begitulah Bahlul mengawali pertanyaannya. Syekh Junaid al-Baghdadi lantas menjawab satu per satu dengan penuh kebijaksanaan.

Terkait cara makan, Syekh Junaid al-Baghdadi menjawab, "Aku mengucapkan Bismillaah (Dengan menyebut nama Allah). Aku makan yang ada di hadapanku, aku menggigitnya sedikit, meletakkannya di sisi kanan dalam mulutku, dan perlahan mengunyahnya. Aku tidak menatap suapan berikutnya. Aku mengingat Allah sambil makan. Apa pun yang aku makan, aku ucapkan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah). Aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan."

Mendengar hal itu, Bahlul lantas berkata, "Kau ingin menjadi guru spiritual di dunia, tetapi kau bahkan tidak tahu cara makan!"

Bahlul lalu pergi. Murid-murid Syekh Junaid al-Baghdadi lantas mengingatkan gurunya bahwa Bahlul adalah orang gila. Namun, sang sufi nampaknya melihat ketinggian ilmu dari si Bahlul.

"Dia orang gila yang cerdas dan bijak. Dengarkan kebenaran darinya!" kata Syekh Junaid al-Baghdadi.

Syekh Junaid al-Baghdadi lalu mengikuti Bahlul dan duduk mendekatinya. "Siapakah engkau?" tanya Bahlul.

"Syekh Baghdadi yang bahkan tak tahu cara makan," jawabnya.

"Engkau tak tahu cara makan, tetapi tahukah engkau cara berbicara?" tanya Bahlul.

Syekh Junaid al-Baghdadi kemudian menjelaskan ia berbicara apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih. Berbicara agar pendengar bisa mengerti, mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasulullah SAW, tidak berbicara terlalu banyak agar orang tidak bosan, dan memberikan perhatian atas kedalaman pengetahuan lahir dan batin. Dia juga menggambarkan bagaimana etika berbicara.

Ternyata jawaban itu tak sesuai dengan yang diharapkan Bahlul. "Lupakan tentang makan. Sebab, kau pun tak tahu cara berbicara," ujarnya lalu pergi.

Para murid kembali mengingatkan Syekh Junaid al-Baghdadi, tapi sang syekh tetap gigih mencari ilmu dari sosok Bahlul. Dia kembali mengejar Bahlul. Kali ini, Bahlul bertanya tentang cara tidur. Namun, lagi-lagi Bahlul menampik jawaban Syekh Junaid al-Baghdadi.

Pemimpin sufi itu lantas memohon kepada Bahlul, "Wahai Bahlul! Aku tidak tahu. Karenanya, demi Allah, ajari aku!"

Bahlul lantas menjelaskan panjang lebar jawaban dari setiap pertanyaannya.

"Sebelumnya, engkau mengklaim bahwa dirimu berpengetahuan dan berkata bahwa engkau tahu, maka aku menghindarimu. Sekarang, setelah engkau mengakui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, aku akan mengajarimu. Ketahuilah, apa pun yang telah kau gambarkan itu merupakan permasalahan sekunder. Kebenaran yang ada di belakang memakan makanan ialah bahwa kau memakan makanan halal. Jika engkau memakan makanan haram dengan cara seperti yang engkau gambarkan, dengan seratus sikap pun, maka itu tak bermanfaat bagimu, melainkan akan menyebabkan hatimu hitam!"

Mendengar ungkapan bijak itu, Syekh Junaid al-Baghdadi berkata, "Semoga Allah memberimu pahala yang besar."

Lantas, Bahlul melanjutkan, "Hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum kau mulai berbicara. Dan, percakapanmu haruslah menyenangkan Allah. Jika itu untuk duniawi dan pekerjaan yang sia-sia, maka apa pun yang kau nyatakan akan menjadi malapetaka bagimu. Itulah alasan diam ialah yang terbaik. Dan, apa pun yang kau katakan tentang tidur, itu juga bernilai sekunder. Kebenaran darinya yakni hatimu mesti terbebas dari permusuhan, kecemburuan, dan kebencian. Hatimu tidak boleh tamak akan dunia atau kekayaan di dalamnya. Dan, ingatlah Allah ketika akan tidur!"

Benar saja, di balik anggapan "gila" itu, ternyata Bahlul adalah sosok yang cerdas lagi bijaksana. Dia memiliki tingkatan spiritual tinggi, dan tidak semua orang bisa menyingkapnya. Syekh Junaid al-Baghdadi kemudian mencium tangan Bahlul.




(kri/hnh)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads