Tak banyak yang menyangka masih ada kampung yang terasa teduh di tengah padatnya Kota Bandung. Meski sudah banyak diapit bangunan tinggi menjulang, kawasan ini tetap menawarkan ketenangan bagi warganya yang sudah lama tinggal di sana.
Daerah itu terletak di RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Di salah satu sisinya, aliran Sungai Cikapundung membentang menjadi batas alami kampung sekaligus menghadirkan suasana yang lebih sejuk dibanding kawasan perkotaan di sekitarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi orang-orang yang kerap melintasi Jalan Tamansari, kampung ini mungkin tampak seperti permukiman padat pada umumnya. Namun bagi warga sekitar, RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi menyimpan jejak dan kenangan yang tak lekang oleh usia.
Kampung ini tepat berada di dekat gerbang belakang Kebun Binatang Bandung atau Bandung. Meski kini sudah tidak lagi difungsikan, bangunan gerbang tersebut masih berdiri dan menjadi penanda yang akrab bagi warga sekitar.
Tepat setelah melewati gerbang, ada gapura penanda memasuki wilayah RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi. Jalannya sederhana dan cukup untuk dua motor saja melintas, sembari harus hati-hati jika ada orang yang berlalu-lalang.
Di ujung kampung, aliran Sungai Cikapundung mengalir di bawah jembatan yang menjadi akses warga sekitar. Jalan tersebut kini buntu, namun dahulu menjadi jalur alternatif menuju Kolam Renang Cihampelas yang legendaris, sebelum lahannya berubah menjadi kawasan apartemen.
Di balik suasana yang relatif tenang itu, Dedi Rosadi (68) menjadi salah satu warga yang menyaksikan langsung bagaimana kawasan tersebut tumbuh dan berubah. Lahir dan besar di RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi, ia masih merasakan keteduhan yang sejak dulu melekat di kampung tersebut.
Menurutnya, nuansa di kawasan itu bukan sesuatu yang baru muncul. Jauh sebelum rumah-rumah kos dan permukiman padat berdiri, lingkungan ini sudah dikenal sebagai kampung yang tenang di tengah Kota Bandung yang terus berkembang.
"Dulu mah orang-orangnya masih sedikit di sini, cuma beberapa rumah, belum sepadat ini. Di sini sawah, sana pabrik daging, terus ada bekas sawah lagi di sana. Di ujung itu dulunya ada Kolam Cihampelas," kata pria yang akrab disapa Naga ini saat berbincang dengan detikJabar.
Naga pun masih ingat kampung halamannya mulai ramai ketika trayek angkot Cicaheum-Ledeng datang. Perubahan kian terasa saat penduduk terus berdatangan, membeli tanah, dan membangun rumah masing-masing.
Setelah fase itu, rumah-rumah baru pun akhirnya berdiri. Perlahan, RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi jadi kawasan padat seperti permukiman-permukiman lain pada umumnya.
Namun di tengah hiruk-pikuk pembangunan, masih ada faktor yang tetap bertahan. Kawasan RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi tetap punya suasana yang adem, karena dikelilingi pepohonan rindang di area kebun binatang.
"Dulu sebelum ada angkot Caheum-Ledeng, itu cuma ada oplet doang yang lewat. Dari sana mulai itu rame. Ada yang bikin kos-kosan juga akhirnya buat mahasiswa ITB, Unpad sama UPI," ucap Naga.
Saat detikJabar menyusuri kawasan tersebut, nuansa perkampungan di RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi masih sangat terasa. Anak-anak kecil tampak asyik bermain di pelataran rumah warga, sementara para orang tua berbincang santai dengan tetangganya.
Bahkan pada medio tahun 2000-an, Naga masih ingat betul selokan yang membentang di RW 08 Lebak Siliwangi dulunya masih bisa digunakan anak-anak untuk berenang. Namun sayang, sistem pengairan yang pernah difungsikan sebagai sodetan Sungai Cikapundung itu kini sudah tak terpakai karena aliran air yang sudah kering di hulunya.
Bagi Naga, perubahan itu menjadi bagian dari perjalanan panjang kampung halamannya yang terus bergerak mengikuti perkembangan Kota Bandung. Ia tak menampik, apa yang dulu berupa sawah, aliran air, hingga ruang bermain anak-anak, kini perlahan berubah menjadi kawasan permukiman padat.
"Ya mau bagaimana lagi, sekarang sudah seperti ini. Kita ikut saja perubahannya," ujarnya singkat.
Meski demikian, ia mengaku masih bersyukur karena sebagian nuansa kampung masih bertahan di RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi. Suasana yang relatif tenang, interaksi antarwarga yang masih terjaga, serta keberadaan pepohonan di sekitar kawasan Bandung Zoo membuat kampung itu tetap terasa berbeda di tengah padatnya Kota Bandung.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi, Jumawan, membeberkan cerita yang berhubungan dengan lingkungannya terasa masih asri dan rindang. Bahkan karena kondisi tersebut, kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang biasa diisi oleh ibu-ibu mendapat sebutan sebagai PKK Lembah Indah.
"Kenapa disebut Lembah Indah? Itu ada sejarahnya. Dari mulai atas itu ada aliran Sungai Cikapayang. Kemudian dulunya itu sawah sama pepohonan hijau di situ tempatnya, begitu sejarahnya," kata Jumawan saat berbincang dengan detikJabar.
"Lembah itu di paling bawah dan memang kita berada di posisi paling bawah. Jadi sampai saat ini, kita juga Alhamdulillah selalu menjaga ekosistem yang ada di sana. Termasuk pepohonan kita rawat terus," ungkapnya menambahkan.
Sayangnya memang, aliran Sungai Cikapayang kini sudah mengering. Hanya tersisa aliran Sungai Cikapundung yang dari tahun ke tahun terus dijaga ekosistemnya.
Selain sejarah bentang alamnya, kehidupan sosial masyarakat di RW 08 Kelurahan Lebak Siliwangi juga dijaga dengan begitu erat. Meski kini banyak dihuni pendatang, sebisa mungkin kata Jumayan, suasana guyub tetap dipertahankan, termasuk agenda gotong royong bagi warga sekitar.
"Warga mah Alhamdulillah, kita juga gotong-royong kaitan dengan kerja bakti apapun itu namanya masih kental di wilayah. Memang kalau lihat dari di masyarakat, sebetulnya itu datang pendatang. Tapi kita usaha sebisa mungkin supaya warga di sini bisa terus menjaga keguyuban," pungkasnya.
(ral/sud)