Sorotan untuk Lagu Bupati Purwakarta Dinilai Rendahkan Perempuan

Sorotan untuk Lagu Bupati Purwakarta Dinilai Rendahkan Perempuan

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 01 Jul 2026 18:15 WIB
Ilustrasi lirik atau chord lagu.
Ilustrasi. (Foto: Unsplash/Matt Botsford)
Bandung -

Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang dinyanyikan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menuai sorotan. Akademisi musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Rita Tila menilai persoalan utama dari lagu itu bukan terletak pada musiknya, melainkan pada lirik yang dianggap merendahkan perempuan.

Menurut Rita, penilaian terhadap sebuah karya seni memang bersifat relatif. Sebagian orang bisa menyukai sebuah lagu, sementara yang lain memiliki pandangan berbeda. Namun, dalam kasus lagu tersebut, ia mengaku tidak sependapat dengan pilihan lirik yang digunakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karya itu relatif ya, jadi kata orang lain ini nggak enak, mungkin saja enak kata sebagian orang. Tapi mungkin bukan karena lagunya, tapi liriknya yang saya kurang setuju," kata Rita saat dihubungi, Rabu (2/7/2026).

Ia menilai sejumlah penggalan lirik disampaikan dengan bahasa yang terlalu vulgar seperti Tos Karuron tujuh kali (Sudah keguguran tujuh kali), dan Nu busana leuwih gede batan susu (yang busanya lebih besar dari payudara).

ADVERTISEMENT

Meski mengakui lagu tersebut mungkin terinspirasi dari pengalaman nyata sang pencipta, Rita menilai liriknya seolah menggambarkan perempuan secara umum.

"Maksudnya, duh kieu teuing (begini amat) gitu, vulgar teuing (terlalu vulgar) gitu. Memang, memang mungkin Bapak Bupati membuat itu mungkin kejadian sesungguhnya mungkin saja saya tidak tahu, makanya ditulis," katanya.

"Tapi di situ seolah-olah seperti untuk perempuan pada umumnya, intinya begitu. Jadi kalau menurut saya kurang tepat," lanjutnya.

Rita mengatakan, jika ingin mengangkat tema lagu tentang perempuan, pesan yang sama seharusnya bisa disampaikan melalui diksi yang lebih puitis dan bernilai sastra tanpa menimbulkan kesan merendahkan.

"Kalaupun harus menyanyikan tentang perempuan bisa dengan bahasa atau syair yang lebih sastra lagi, itu vulgar teuing," tegasnya.

Oleh karena itu, Rita mengaku prihatin karena lirik tersebut dinilai menggeneralisasi perempuan. "Saya sih tidak bisa mentoleransi karena tidak semua perempuan begitu. Jadi saya tuh miris, ini sayang banget," ungkapnya.

Meski mengkritik liriknya, Rita tetap memberikan apresiasi terhadap kualitas musikal lagu tersebut. Menurutnya, dari sisi vokal maupun aransemen, lagu itu memiliki kualitas yang baik.

"Tapi saya apresiasi gitu untuk suaranya bagus, tuning-nya masuk, suaranya bagus, terus musiknya bagus, suaranya berkarakter, lagunya bukan lirik ya, lagu nadanya juga enak, tapi disayangkan hanya satu saja garis bawahi liriknya saja," katanya.

Sebagai seorang kepala daerah, Rita menilai Om Zein memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan karya yang juga memiliki nilai edukatif bagi masyarakat.

"Jadi saya nggak setuju, nggak bisa ditoleransi karena ini tidak mengedukasi, masalahnya beliau itu seorang pemimpin," pungkasnya.

(bba/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads