Permintaan Maaf Bupati Purwakarta soal Lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat

Permintaan Maaf Bupati Purwakarta soal Lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 02 Jul 2026 06:15 WIB
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein (Foto: Istimewa)
Purwakarta -

Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang dibawakan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menuai polemik. Lagu tersebut viral di media sosial karena liriknya dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan dan dianggap merendahkan pengalaman biologis kaum perempuan.

Perdebatan bermula setelah potongan lirik lagu yang membandingkan pengalaman laki-laki dan perempuan beredar luas di berbagai platform media sosial. Beberapa bagian lagu menyinggung kehamilan, keguguran, menstruasi hingga penggunaan atribut perempuan. Sejumlah kalangan menilai lirik tersebut tidak sekadar humor, tetapi mengandung bias gender.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat pertama kali diperkenalkan dalam rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Selanjutnya, Om Zein mengunggah video lagu tersebut melalui akun TikTok pribadinya, @omzein_bupatiaing, pada 18 Januari 2026.

Kontroversi lagu itu turut mendapat sorotan dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia mengaku tidak menemukan pesan penghormatan terhadap perempuan dalam lirik lagu tersebut.

ADVERTISEMENT

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia, Rabu (1/7/2026).

Menurut Atalia, persoalan tersebut bukan sekadar soal kebebasan berekspresi atau selera seni, tetapi juga menyangkut nilai budaya yang dijunjung masyarakat Sunda.

"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," jelas Atalia.

Ia juga menilai lagu tersebut bertolak belakang dengan semangat melawan budaya patriarki yang masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" pungkasnya.

Menanggapi kritik yang bermunculan, Om Zein akhirnya buka suara. Ia menjelaskan lagu tersebut diciptakannya pada 2020, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta.

Menurutnya, lagu itu merupakan refleksi atas kehidupan pribadinya di masa lalu dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk merendahkan perempuan.

"Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu, saya nakal dan bersyukur tuhan menciptakan saya jadi lelaki, mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa jaga diri," ujar Om.

Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada pihak yang merasa tersinggung akibat lirik lagu tersebut.

"Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu, namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu itu murni cerita tentang diri saya sendiri," katanya.

(bba/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads