Cerita Warga Dengar Suara Keras Saat Talut Jebol di Tugu Semarang

Cerita Warga Dengar Suara Keras Saat Talut Jebol di Tugu Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 04 Mar 2026 14:10 WIB
Kondisi talut sungai di wilayah RT 01 RW 01, Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang yang jebol pagi ini, Rabu (4/3/2026).
Kondisi talut sungai di wilayah RT 01 RW 01, Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang yang jebol pagi ini, Rabu (4/3/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Talut sungai di RT 01 RW 01, Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, kembali jebol. Warga setempat mengaku mendengar suara seperti ledakan saat talut jebol.

Pantauan detikJateng di lokasi, Jalan Irigasi lokasi talut jebol itu penuh dengan lumpur. Petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai, Dinas Pemadam Kebakaran, hingga TNI-Polri sudah berada di lokasi untuk melakukan penanganan.

Tampak sudah ada alat berat yang mengeruk sisa-sisa lumpur di sekitar talut Sungai Plumbon yang jebol. Beberapa petugas juga tengah meletakkan sand bag di bagian yang jebol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu warga yang rumahnya berada di depan lokasi tanggul jebol, Jumini (55) baru saja membersihkan rumahnya dari sisa-sisa lumpur. Ia menyebut, tanggul jebol sekitar pukul 01.30 WIB dini hari tadi.

"Waktu jebolnya itu ada kayak suara trafo jebluk, 'blung!'. Itu kan gempa kecil lah rasanya. Langsung panik," kata Jumini kepada detikJateng di lokasi, Rabu (4/3/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menyebut saat itu dirinya hendak menyiapkan makan untuk sahur. Namun karena air dari sungai sudah langsung mengalir deras memasuki rumahnya, ia dan keluarga batal sahur.

"Itu jam 01.30 WIB jadi mau sahur nggak jadi sahur. Air itu meluap ke rumah. Langsung pada teriak 'jebol, jebol, banjir ya Allah, astagfirullahaladzim' gitu," ungkapnya.

Ia menyebut, barang-barang di rumahnya pun tak bisa diselamatkan. Air sudah setinggi lehernya dan beberapa barang elektronik mulai hanyut.

"TV itu sudah nggelimpang semuanya. Saya kebingungan, minta tolong semuanya tetangga-sudah kena banjir, nggak bisa menolong, (airnya) sama-sama meluap semua," tuturnya.

"Airnya masuk semuanya sampai setinggi leher. Ada kasur, bantal sudah tenggelam semua, buku-buku anak sekolah, sepatu, kompor, TV, mesin cuci semuanya nggelimpang," lanjutnya.

Akhirnya Jumini sekeluarga pun hanya bisa sahur dengan minum tanpa makan.

"Cuma minum aja. Semuanya pada bangun, anak saya ada yang hamil, kebingungan. Terus yang kecil nangis semuanya. Saya bilang 'Ya Allah, tolong ya Allah'," ceritanya.

Air pun akhirnya mulai surut pukul 04.30 WIB dan menyisakan lumpur tebal di rumahnya. Menurutnya, tanggul Sungai Plumbon itu sudah jebol tiga kali. Namun ia tak ingat tanggul itu jebol tahun berapa.

"Tiga kali ini rumah saya kejebolan, nggak bisa kumpul-kumpul. Nabung sedikit-sedikit biar punya rumah kayak teman-temannya, eh malah jebol lagi, jebol lagi. Kalau was-was sekali, khawatir, trauma kalau ada hujan," tuturnya.

"Lebih parah dari tahun sebelumnya, masak air saja nggak bisa, sudah hanyut semua. Semuanya campur lumpur, kaki gatal-gatal, berobat di Puskesmas," sambungnya.

Ia mengaku sempat mendengar informasi akan adanya rencana normalisasi sungai. Namun hingga kini, sungai itu pun belum juga dinormalisasi.

"Harapannya normalisasinya harus dipercepat. Warga khawatir nanti kalau jebol lagi. Sebelumnya sudah difoto-foto, kerja bakti, semuanya sudah lengkap tapi belom diperbaiki, malah jebol lagi," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, talut sungai di wilayah RT 01 RW 01, Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, jebol dini hari tadi. Akibatnya, puluhan rumah warga terdampak banjir setinggi sekitar 40 sentimeter.

"Kejadiannya setelah hujan deras dengan intensitas tinggi sejak Selasa (3/3) pukul 23.00 WIB. Debit air sungai meningkat dan meluap hingga akhirnya talud jebol," kata Kepala BPBD Kota Semarang Endro P Martanto saat dihubungi detikJateng, Rabu (4/3/2026).

Ia menyebut, talut yang jebol berada di Jalan Irigasi Pangung. Panjang talut yang rusak sekitar 25 meter dengan tinggi kurang lebih 1,5 meter.

"Akibatnya, 50 kepala keluarga atau 260 jiwa terdampak. Selain ke rumah warga, banjir juga berdampak pada Pesantren Al Mukaror yang dihuni sekitar 60 santri," jelasnya.




(alg/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads